Tim CIT terdiri dari Theophilus Santoso (IRES 2023), Gabriel Marcho Panggey (IRES 2024), dan Matthew Mauliana (IRES 2025). Gabriel, mahasiswa yang mendapatkan informasi pertama kali, mengajak Theophilus dan Matthew yang terlibat di dalam Calvin Research Center khususnya grup riset Robotics and Smart Zones. Mereka memutuskan untuk mengikuti kategori Drone Innovation dan tim CIT bersaing dengan tim dari 10 perguruan tinggi di dalam dan luar negeri.
Pada kompetisi ini, tim CIT mengembangkan sebuah autonomous drone yang sudah terintegrasi dengan AI dan menggunakan konektivitas 4G untuk tujuan logistik dalam kota, seperti mengantar makanan dan obat-obatan. Jika diimplementasikan, drone ini dapat menavigasi rute yang sudah disesuaikan dengan regulasi lokal (seperti menghindari zona merah drone: area rumah sakit, bandara, dst). Lebih lanjut lagi, drone mereka menerapkan algoritma AI yang dapat mendeteksi kedalaman (depth) peta dan menghindari bangunan yang lebih tinggi dari 75-meter untuk menghasilkan rute baru yang paling efisien untuk menuju lokasi real time penerima. Umumnya drone dalam kota hanya dapat berpindah dari satu drone station ke drone station saja dan menurut tim CIT, ini menghasilkan inovasi fleksibilitas yang unggul yang bersumbangih untuk tim memperoleh penghargaan best autonomous.
“Drone kami dibuat dengan desain yang simple dan clean, mengutamakan kerapian dan kematangan desain sehingga siap untuk benar-benar diimplementasikan. Kami juga menyusun model bisnis yang solid supaya dapat menciptakan drone yang murah dengan spesifikasi yang tidak murahan.” ujar Gabriel.
Perjalanan tim dalam ajang perlombaan ini tidak selalu mulus. Tim melalui trial and error yang mengharuskan mereka merangkai ulang ide inovasi. Ketika menjalankan prototipe drone mereka, drone tidak sengaja menabrak bangunan dan menyebabkan drone crash yang mengharuskan mereka menyusun drone lagi di waktu yang sudah terbatas. Dari situ mereka belajar bahwa dengan waktu yang lebih longgar, video simulasi bisa disusun lebih lengkap. Namun, pada akhirnya tim dengan tanggap dan cekatan menyelesaikan desain drone yang matang dan siap.
“Kami tidak sangka akan menang karena kami pikir desain kami sangat sederhana dan video simulasi kami masih kurang lengkap dibanding kelompok lain. Namun, aspek kematangan dalam regulasi dan risk management yang kami susun untuk menanggulangi kasus drone tak terduga seperti tiba-tiba low battery atau cuaca buruk, ternyata menjadi nilai keunggulan di mata juri. Kami belajar bahwa merancang inovasi perlu basis kokoh secara holistik supaya siap secara konkret diimplementasikan.” penjelasan Theophilus soal keunggulan drone mereka.
Pengalaman lomba ini ternyata menjadi lomba inovasi drone pertama bagi seluruh anggota tim. Mata kuliah IRES dari CIT seperti Gambar Teknik, Sistem Komunikasi, dan Proportional Integral Derivative membekali mereka dengan basis pengetahuan dalam merancang inovasi drone logistik mereka. Dengan pengalaman dan wawasan yang mereka telah miliki sekarang, setiap anggota tim pun termotivasi untuk dapat mengikuti ajang perlombaan lain.
“Keterbatasan pengalaman lomba tidak perlu membuatmu berkecil hati, perhatikan dengan saksama setiap peraturan lomba dan kerjakan dengan sungguh-sungguh, itulah yang paling penting.” ujar Theophilus.
“Merupakan pengalaman yang seru dan juga menambah wawasan ilmu yang belum aku pelajari di kelas. Melalui lomba kali ini aku bersemangat untuk bisa mengikuti kompetisi lain di kesempatan berikutnya dan berkembang bersama dengan teman-teman mahasiswa lainnya.” kesan dan pesan Matthew sebagai anggota tim yang paling muda. “Tidak perlu pikirkan kalah atau menang. Kita fokus mengembangkan skill dan talenta yang kita miliki dan jadikan pengalaman untuk terus berinovasi ke depannya, jangan hanya berhenti di lomba.” ujar Gabriel memotivasi mahasiswa lain.
Pengalaman tim CIT dalam ERIC 2026 merupakan sebuah sukacita dan motivasi untuk seluruh sivitas akademika CIT untuk terus memperjuangkan keunggulan akademik dan mengasah keterampilan untuk menghadirkan syalom di tengah masyarakat. Kiranya segala kemuliaan kembali kepada Allah Tritunggal. Soli Deo Gloria!



