Apa Kata Alumni: Charis Christopher Hulu, Alumni CIT yang Memperoleh Beasiswa Penuh pada Program PhD Computer Science di University of Illinois Chicago

January 20, 2026

“Saya tidak dapat mengatakan bahwa dengan masuk ke CIT, teman-teman pasti langsung menemukan kehendak Tuhan. Namun, yang dapat saya katakan adalah CIT dengan konsisten mendorong mahasiswanya untuk menyadari bahwa setiap aspek kehidupan, baik itu akademik, pekerjaan, dan juga relasi, semua berhubungan dengan Tuhan.”

Sebuah pesan yang disampaikan oleh alumni Calvin Institute of Technology (CIT) angkatan 2019 untuk calon mahasiswa baru di CIT sedikit banyak menggambarkan pembentukan karakter serta lika-liku yang dihadapinya selama empat tahun berkuliah di CIT. Charis Christopher Hulu atau akrab disapa Charis mengambil program IT and Big Data Analytics (IBDA).

Seusai lulus di tahun 2023, ia memperoleh kesempatan menempuh pendidikan PhD of Computer Science di University of Illinois, Chicago. Selain menjadi mahasiswa doktoral, Charis juga berkesibukan menjadi asisten pengajar dan peneliti. Bagaimana pembelajaran dan fasilitas di CIT telah mempersiapkan Charis ke dalam jenjang pendidikan ini? Apa saja kegiatannya selama di CIT yang telah membentuk Charis? 

“Holistik, interpersonal, dan terampil,” itulah tiga kata yang dipilih Charis untuk menggambarkan CIT. Melalui kurikulum reformed liberal arts (RLAC) yang disediakan CIT—dari mata kuliah mengenai worldviews, psikologi, sosiologi, filsafat, dan berbagai mata kuliah humaniora lainnya—CIT mengajarkan mahasiswanya untuk belajar melihat kehidupan secara utuh terlepas dari penguasaan keilmuan dan keterampilan di program pilihan masing-masing. RLAC ini juga yang memantapkan Charis memilih CIT untuk perguruan tingginya ketika ia membaca selebaran brosur CIT semasa SMA. “Membuatku sangat penasaran; sebuah keunikan yang tidak ditawarkan di kampus lain,” ujarnya.

Keterampilan Charis juga diasah melalui berbagai proyek mata kuliah dan kegiatan riset yang aktif ia geluti sejak semester 6. Mata kuliah seperti Pemrograman Dasar, Pemrograman Berbasis Objek, dan Struktur Data dan Algoritma sangat membentuk computational thinking yang mendasari kemampuan mengidentifikasi masalah, memecahkan masalah yang kompleks menjadi lebih kecil (decomposition), mengabaikan detail-detail yang kurang relevan dan memfokuskan diri ke hal yang esensial (abstraction), mengenali pola dasar dari suatu masalah untuk pemecahan masalah di esok hari (pattern recognition), hingga menyusun langkah-langkah sistematis nan konkret untuk penyelesaian masalah (algorithmic thinking). Semua ini membentuk pemikiran kritis, pembelajaran efektif, dan ketekunannya menjalani proses belajar yang panjang dan sulit, membekalinya selama ia menempuh studi doktoral kini.

Kedewasaan, kepemimpinan, dan keterampilan interpersonalnya juga dibentuk melalui Dormitory CIT. Charis pernah berkesempatan selama setahun menjadi Floor Leader di CIT yang bertugas mengelola kehidupan Dormitory selagi mengajarkannya bagaimana memahami orang lain dan berkomunikasi secara efektif. Lebih dari itu, Dormitory mempertemukan Charis dengan orang-orang yang bergumul dalam hal iman dan bidang keilmuannya masing-masing. Terkadang ada masa di mana Charis dan teman-temannya berbicara ringan hingga diskusi filsafat, teologi, dan isu sosial. Terkadang, Charis dan teman-teman juga mengerjakan tugas dari malam hingga pagi saat banyak proyek menjelang akhir semester, menjadikan momen itu untuk saling menguatkan satu sama lain. Tumbukan demi tumbukan ini membentuk caranya berpikir dan melihat kehidupan.

Menjadi mahasiswa doktoral di Amerika Serikat tidaklah mudah bagi Charis, tetapi mindset yang terbentuk selama di CIT menjadi bekal perjalanannya. Banyak pergumulan berat seperti relasi dengan Tuhan, relasi dengan sesama manusia, dan berbagai kesibukannya sebagai mahasiswa dan peneliti. Namun, melalui “badai kehidupan” ini, Charis melihat Tuhan justru mengobarkan “api kecil” yang selama ini ditanam di CIT, yakni nilai iman Kristen. Mata kuliah RLAC membentuk koridor berpikirnya supaya semua tujuan dan cara menyelesaikan masalah memiliki tanggung jawab moral dan tetap memikirkan nilai-nilai Kristen selain tujuan akhirnya. Interaksinya dengan dosen-dosen selama di CIT yang ia sebut, “bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga mentor hidup yang mengubah hidup saya,” telah membimbing pertumbuhan imannya dari mempelajari cara mereka berpikir, menyikapi, dan menyelesaikan suatu masalah. Tuhan mengorkestrasikan semua pengalamannya ini dari yang tidak ia rasakan dampaknya hingga kini menjadi sumber kekuatan yang menyadarkan bahwa Tuhanlah yang memiliki rencana dan berdaulat atas hidupnya sehingga ia terdorong untuk belajar menjadi lebih peka melihat penyertaan Tuhan dalam hidup selagi terus mengembangkan talenta yang Tuhan berikan, menjadi berkat bagi orang lain.

Sebagai seorang alumni yang telah memperoleh banyak berkat di CIT, Charis juga berpesan kepada sivitas akademika CIT. Ia merefleksikan kembali hidupnya sekarang dan berterimakasih kepada para dosen, staf, dan setiap sivitas akademika yang pernah bersinggungan dengannya. Charis menyebut dirinya terbentuk melalui teladan nyata mereka yang hidup sebagai seorang pelayan Tuhan yang bekerja keras setia dalam menggunakan talenta yang Tuhan berikan untuk membentuk generasi muda. Tidak lupa juga, Charis berpesan kepada adik-adik tingkatnya yang sedang berjuang menempuh pendidikan di CIT, supaya tidak ragu untuk meminta bantuan. Jika mengalami kesulitan belajar, jangan ragu untuk datang office hours dan meminta arahan dari dosen. Walaupun mungkin tidak selalu berupa solusi secara langsung, tetapi dosen dapat memberi arahan cara berpikir yang tepat untuk menuntun mahasiswa menemukan solusi. Jika mengalami pergumulan dalam hal iman, jangan sungkan untuk datang kepada hamba Tuhan yang ada di CIT melalui program bimbingan konseling.

Cerita Charis telah menjadi living testament mengenai bagaimana pembelajaran di CIT yang holistik membentuk seorang pribadi muda yang unggul secara akademis, tetapi juga tidak berkompromi dengan iman. Kiranya segala kemuliaan hanya untuk Tuhan. Soli Deo Gloria!

RELATED POSTS