Liberal Arts Curriculum

Di dalam tradisi Yunani-Romawi (Greco-Roman tradition), pendidikan Artes Liberales (bahasa latin, artes = keterampilan dan liberales = bebas) adalah pendidikan yang layak bagi seorang bebas (a free person). Lain dengan budak yang hanya hidup untuk bekerja saja, seorang yang bebas harus dipersiapkan untuk hidup yang lebih luas, baik melalui pendidikan karakter dan perlengkapan intelektual, untuk dapat menjadi pemimpin dan berkontribusi di dalam masyarakat selayaknya warga negara yang baik. Model pembelajaran semacam ini diadopsi dan dikembangkan lebih lanjut oleh gereja di abad pertengahan.

Di dalam konteks jaman sekarang, kurikulum liberal arts menitikberatkan pada pembentukan wawasan yang luas. Anak didik tidak hanya disiapkan dengan keterampilan bekerja saja layaknya seorang budak di tradisi Yunani-Romawi kuno. Selain mendalami bidangnya, melalui pendidikan liberal arts, anak didik dibuka wawasannya untuk mempelajari hal-hal lain yang juga akan mempengaruhi hidupnya, misalnya literatur, seni, musik, retorik, logika, filsafat, sejarah, dan teologi. Keluasan pembelajaran semacam ini akan membangkitkan minat belajar di dalam anak didik untuk seumur hidup.

Dunia terus berubah. Keterampilan yang dapat dipelajari sekarang mungkin akan menjadi usang hanya di dalam beberapa tahun saja. Pendidikan yang mempersiapkan seseorang untuk bekerja akan secara perlahan-lahan mematikan orang tersebut ketika dia tidak lagi mampu beradaptasi dengan perubahan jaman. Kurikulum berbasiskan liberal arts akan memperlengkapi anak didik dengan keterampilan berpikir multi disiplin dan lintas disiplin yang kaya, berwawasan luas, kemampuan memecahkan masalah yang kompleks disertai dengan kebiasaan berpikir secara kritis, kreatif, komprehensif, dan dengan penilaian dan penalaran yang tepat. Kurikulum berbasiskan liberal arts mempersiapkan anak didik untuk hidup yang lebih luas ini.

Reformed Liberal Arts Curriculum

Pendidikan yang utuh bukan hanya pendidikan multidisipliner tetapi juga interdisipliner. Di dalam pendidikan multidispliner, anak didik mempelajari beragam disiplin ilmu yang berbeda. Tetapi di dalam pendidikan interdisipliner, anak didik akan mempelajari kaitan antara satu ilmu dengan ilmu lainnya. Tetapi, filsafat sekularisme dan relativisme telah menfragmentasi ilmu pengetahuan sehingga pendidikan interdispliner yang benar tidak mungkin dapat ditawarkan. Di dalam pendidikan sekuler, misalnya, konsep universal dapat diajarkan di dalam kelas biologi tetapi ditolak di dalam kelas filsafat. Tanpa pengertian interdispliner yang benar, pendidikan multidisipliner terfragmentasi sehingga tidak dapat menjadi pendidikan yang sejati.

Di dalam teologi Reformed, Allah Pencipta yang berdaulat adalah sumber satu-satunya semua kebenaran. Tidak ada kebenaran di luar diri Allah. Tidak ada kebenaran yang dapat diketahui selain di luar dari pernyataan Allah. Dan hanya di dalam diri Allah Tritunggal kita melihat ada kemungkinan bersatunya yang satu dengan yang banyak, dan antara universal dengan partikular. Allah Tritunggal yang berdaulat adalah dasar pengetahuan multidispliner dan interdispliner.

Terlebih lanjut, penebusan memegang peranan penting di dalam pendidikan. Hanya melalui penggenapan karya Kristus kita dapat mengerti siapa Tuhan itu, apa nilai manusia yang sebenarnya, mengapa dunia diciptakan, dan apa tujuan manusia hidup. Dilepaskan dari perbudakan dosa, anak didik kita dipersiapkan untuk suatu hidup yang lebih luas, dengan konsep kerajaan Tuhan, untuk hidup sebagai saksi Tuhan di dalam dunia. Pendidikan berbasiskan Reformed Liberal Arts Curriculum (RLAC) mempersiapkan anak-anak Tuhan untuk berkarya bagi bangsa dan dunia demi kemuliaan Tuhan.

Framework Kurikulum

Reformed Liberal Arts Curriculum (RLAC) menekankan keberagaman disiplin ilmu (multidispliner) dan kesalingterkaitan satu sama lainnya (interdisipliner) dan, terutama, penaklukan semua disiplin ilmu di bawah supremasi Kristus. Terdiri dari 47 kredit (~33% dari total kredit pembelajaran), RLAC terdiri dari empat pembagian inti: Pembentukan Worldview (Teologi, Filsafat, Sejarah, studi interdisipliner), Kompetensi Dasar (Retorik, Logika, Kesehatan), Masyarakat dan Kebudayaan (Seni/Musik, Literatur, Sosial), dan Pemikiran Konseptual (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam). Melalui RLAC, anak didik dibekali dengan kemampuan berpikir secara komprehensif, analitik, dan kritis yang akan memungkinkan anak didik untuk mempelajari pengetahuan dan keterampilan spesifiknya, sesuai dengan bidang keilmuan di dalam program studinya, secara lebih integratif dan bertanggung jawab.

Kurikulum Calvin Institute of Technology menghindarkan anak didik untuk berpikir secara otonom, lepas dari Tuhan. Melainkan, sebagai umat Tuhan, mempersiapkan mereka untuk memiliki cara pandang dan pola pikir yang sesuai dengan Tuhan (to think after God’s thought). RLAC memperlengkapi anak didik. Hanya demikian, lulusan Calvin Institute of Technology akan dipersiapkan menjadi seorang penatalayan (steward) yang menjalankan panggilan mandat budayanya dapat dimungkinkan untuk menjadi agen penebusan Tuhan di dalam segala aspek kehidupan, baik di keluarga, pekerjaan, masyarakat, dan di manapun mereka ditempatkan untuk menyatakan kemuliaan Allah.

WhatsApp chat