News and Events
News and Events
AT CALVIN

National Symposium 2025: Christian Education in the Age of AI
Calvin Institute of Technology, 27 September 2025, Calvin Institute of Technology (CIT) menyelenggarakan National Symposium 2025 bertema “Christian Education in the Age of AI” di Aula John Calvin, RMCI, Jakarta. Acara ini dihadiri oleh hampir 1000 peserta secara hybrid dari kalangan akademisi, pendidik, mahasiswa, dan masyarakat umum yang tertarik membahas peran pendidikan Kristen di tengah perkembangan kecerdasan buatan. Dalam sambutannya, Pdt. David Tong, Ph.D., Ph.D., Rektor CIT, menekankan bahwa pendidikan Kristen bertujuan memanusiakan manusia melalui integrasi iman dan ilmu demi kemuliaan Allah. Ia mengingatkan bahwa pendidik Kristen memiliki tanggung jawab untuk membentuk siswa agar hidup selaras dengan rencana Tuhan—mempunyai iman dan karakter yang benar, berpikir dengan shalom mindset, serta berperan aktif membawa nilai Kristus dalam budaya dan masyarakat. Sementara itu, Dr. Jim Drexler, M.Div., M.Ed., dari Covenant College, USA, menyoroti bahwa pendidikan sering kali terjebak pada pencapaian duniawi. Pendidikan Kristen, seharusnya menempatkan Tuhan sebagai pusat dan menyiapkan siswa untuk melayani gereja serta dunia dengan iman yang mendahului pemikiran. Sebagai penutup, Pdt. Dr. (H.C.) Stephen Tong, Founder CIT, menegaskan bahwa pendidikan Kristen bertujuan membentuk karakter seperti Kristus—yang bijaksana, mampu membedakan yang baik dan yang jahat, serta berkomitmen melakukan kehendak Allah—nilai-nilai yang tidak dapat digantikan oleh AI. National Symposium 2025 menjadi wadah refleksi dan inspirasi bagi para peserta, khususnya mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan, untuk memahami bahwa AI bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan dikelola dan diarahkan pada kebijaksanaan Tuhan. Melalui acara ini, CIT menegaskan panggilannya untuk membentuk generasi yang mampu menggunakan teknologi dengan hikmat, untuk kemuliaan Allah dan kesejahteraan dunia. Soli Deo Gloria.

Commencement Class of 2025
Pada tanggal 6 September 2025, Calvin Institute of Technology (CIT) merayakan kelulusan class of 2025 di Aula John Calvin, RMCI. Acara yang berlangsung mulai pukul 14.00 WIB menjadi momen berharga bagi para wisudawan yang telah menyelesaikan perjuangan mereka dalam akademika, disaksikan oleh keluarga, teman teman dan seluruh sivitas akademika. Acara wisuda ini dipimpin oleh Rektor CIT, Pdt. David Tong, Ph.D., Ph.D. dan dihadiri oleh Founder CIT dan Chairman Yayasan Pendidikan Tinggi Reformasi Injili, Pdt. Dr. (H.C.) Stephen Tong dan jajaran Yayasan lainnya. Dari 83 wisudawan Class of 2025, 7 diantaranya lulus dengan predikat Honors. Sebuah apresiasi atas prestasi akademik dan non-akademik yang didapatkan melalui seleksi yang ketat. Prestasi ini menunjukkan bahwa mereka memiliki komitmen yang luar biasa untuk mencapai keunggulan dalam segala aspek.<br /> Diantara 7 orang dengan predikat honors, Gayus Matias Alexander Rachman dari prodi CFP terpilih menjadi Valedictorian 2025. Mewakili semua mahasiswa, Gayus bercerita mengenai bagaimana proses Tuhan membentuknya, mulai dari hal hal yang kecil sampai kepada perkara-perkara yang besar. Dalam CIT, ada berbagai proses pembentukan yang telah Tuhan persiapkan baik melalui keberhasilan maupun pergumulan. Gayus mengingatkan bahwa apapun jalan yang akan dijalani nantinya, umat Kristen khususnya wisudawan dipanggil menjadi garam dan terang dunia yaitu kehadiran kita dalam membawa berkat dan memuliakan Tuhan. Itulah pelayanan sejati.<br /> Pada Rector’s Charge, Pendeta David Tong, Ph.D., Ph.D., menekankan bahwa kedewasaan bukan hanya soal usia, melainkan sikap hidup di hadapan Tuhan dan cara menghargai hidup yang diberikan-Nya. Tanda orang yang dewasa terlihat dari kasih yang dinyatakan kepada sesama sama seperti kepada diri sendiri, dan semua itu dilakukan karena kasih kepada Tuhan dengan segenap hidup. Sementara itu, melalui Founder’s Speech, Pendeta Dr. Stephen Tong mengingatkan bahwa pemuda-pemudi memiliki tugas besar sebagai tiang negara. Mereka dipanggil untuk menanggung kesusahan bangsa, lalu ikut merasakan sukacita ketika bangsa menikmati hasilnya. Itulah yang disebut cendekiawan sejati.<br /> Setiap cerita memiliki akhir, tetapi dalam hidup, setiap akhir adalah awal yang baru. Satu kalimat yang menjadi gambaran dari acara class of 2025 commencement, menekankan akan adanya perjalanan panjang yang akan dihadapi setiap wisudawan. Pesan yang disampaikan menekankan tanggung jawab dan panggilan hidup, dengan harapan para wisudawan melanjutkan perjalanan hidup sesuai rencana Tuhan untuk menghadirkan Kerajaan-Nya dalam setiap aspek kehidupan. Soli Deo Gloria.
PREVIOUS EVENTS
See previous News and Events at Calvin.
2024 (13)
Sep
17
Sosialiasi PPKS: Mewujudkan Kampus Aman Bebas dari Kekerasan Seksual
Dalam rangka mendukung kebijakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi (PPKS), Calvin Institute of Technology (CIT) menyelenggarakan acara sosialisasi dan penyuluhan tentang pencegahan serta penanganan kekerasan seksual. Acara ini sekaligus menandai keseriusan CIT dalam memuliakan Tuhan dan berkontribusi pada upaya pemerintah untuk memerangi kekerasan seksual, dengan pembentukan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) yang telah resmi berdiri sejak 29 November 2023. Acara yang bertempat di J.S. Bach Recital Hall, Menara Calvin RMCI Lantai 24, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (11/9/2024) dihadiri oleh seluruh sivitas akademika CIT, termasuk pimpinan universitas, staf, mahasiswa, dan warga kampus lainnya, seperti pengelola gedung, tenaga kebersihan, dan petugas keamanan. Mengusung tema “Peran Komunitas dalam Pencegahan Kekerasan Seksual: Kolaborasi untuk Keamanan Bersama”. CIT berkomitmen dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan seksual. Acara ini menghadirkan dua pembicara utama, yakni Bapak Taufan Setyo Pranggono, M.Si., Ketua Tim Anti Dosa Pendidikan dan Integritas Akademik LLDikti Wilayah III, dan Bapak Veryanto Sitohang, S.E., Ketua Subkom Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan. Dalam sambutan pembukaan, Rektor CIT, Pdt. David Tong, Ph.D., menegaskan bahwa etika Kristen mengedepankan prinsip “Do unto others as you would have them do unto you” (Lakukan kepada orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan). Rektor CIT menekankan pentingnya keteladanan seorang pemimpin yang dapat dipercaya, mengutip ungkapan, “With great power comes great responsibility” (Dengan kekuasaan besar datang tanggung jawab besar). Ia mengajak komunitas kampus untuk senantiasa saling mengingatkan dan melindungi individu-individu yang lebih rentan. Bapak Taufan Setyo Pranggono, M.Si., dalam presentasinya, menyerukan penolakan terhadap segala bentuk kekerasan, termasuk perundungan, intoleransi, dan diskriminasi. Beliau mengingatkan pentingnya mengedepankan nilai-nilai Pelajar Pancasila, di mana setiap individu harus berkomitmen menciptakan zona yang positif dan inovatif serta menolak segala bentuk kekerasan. “Kita sudah tidak berada dalam zona subjektivitas, suku, agama, dan ras. Seluruh sivitas akademika harus membangun lingkungan yang inklusif, aman, dan nyaman,” ujar Taufan. Kolaborasi Seluruh Elemen Kampus Cegah Kekerasan Seksual Ketua Satgas PPKS CIT, Ibu Ester Dorothy Nabasa Sinaga, M.Ars., menyampaikan pemaparan mengenai pentingnya kolaborasi seluruh elemen kampus dalam upaya pencegahan kekerasan seksual. Beliau juga mengungkapkan hasil survei dari studi yang dilakukan oleh Nurtjahyo dkk. (2021) terhadap 76 perguruan tinggi di Indonesia, di mana 75% responden mengakui adanya kasus kekerasan seksual di kampus mereka. “Data ini menegaskan bahwa kekerasan seksual adalah isu serius yang harus ditangani dengan serius, terutama di lingkungan perguruan tinggi,” ujar Ibu Dorothy. Bapak Veryanto Sitohang, S.E., Ketua Subkom Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan, mengapresiasi langkah CIT dalam mengadakan sosialisasi dan penyuluhan ini. Menurutnya, kampus harus menjadi kawasan bebas kekerasan, terutama kekerasan seksual yang seringkali menimpa perempuan. “Ketika perempuan terlindungi dari kekerasan seksual, kehidupan yang lebih baik akan terwujud,” ungkapnya. Veryanto juga menekankan pentingnya partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat kampus dalam pencegahan kekerasan seksual, sehingga tercipta suasana yang aman dan kondusif untuk proses belajar mengajar. Sebagai institusi pendidikan tinggi Kristen, CIT berkomitmen mendukung kebijakan pemerintah dalam mewujudkan lingkungan perguruan tinggi yang bebas dari kekerasan seksual. Komitmen ini didasarkan pada prinsip-prinsip Kristen yang menekankan kebenaran, kasih, dan keadilan. Mengakhiri rangkaian acara, Rektor CIT, Pdt. David Tong, Ph.D., menyampaikan apresiasi atas keberhasilan acara ini. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan, sebagai upaya berkelanjutan dalam memperkuat pemahaman dan komitmen seluruh sivitas akademika CIT dalam menciptakan kampus yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan seksual dalam bentuk apapun. Dengan adanya sosialisasi ini, CIT semakin memperkuat posisinya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga peduli terhadap keselamatan dan kesejahteraan seluruh komunitas kampus. Sumber : https://beritakota.id/calvin-institute-of-technology-wujudkan-kampus-aman-melalui-sosialiasi-ppks/#google_vignette
Sep
17
Calvin Institute of Technology Wujudkan Kampus Aman Melalui Sosialiasi PPKS
Kampus harus bebas dari kekerasan seksual. Lingkungan perguruan tinggi harus zero kekerasan seksual sebagai bagian dari menjalankan dan mengekspresikan prinsip kebenaran, kasih, dan keadilan. Demikian salah satu pesan yang mengemuka dalam acara yang diselenggarakan Calvin Institute of Technology (CIT) di J.S. Bach Recital Hall, Menara Calvin RMCI Lantai 24, Kemayoran, Jakarta Pusat. Acara yang mengangkat tema “Peran Komunitas dalam Pencegahan Kekerasan Seksual: Kolaborasi untuk Keamanan Bersama” ini dihadiri oleh seluruh Sivitas Akademika CIT, mulai dari pimpinan universitas, staf, mahasiswa, dan warga kampus meliputi building management, cleaning service, dan security. Dalam acara ini, CIT menghadirkan dua pembicara utama, Taufan Setyo Pranggono, M.Si., selaku Ketua Tim Anti Dosa Pendidikan dan Integritas Akademik LLDikti wilayah III, dan Veryanto Sitohang, S.E., selaku Ketua Subkom Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan. Kegiatan ini juga dalam rangka mendukung kebijakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi (PPKS). Calvin Institute of Technology (CIT) menyelenggarakan acara dengan tema besar Sosialisasi dan Penyuluhan Pencegahan serta Penanganan Kekerasan Seksual ini sekaligus menandai keseriusan CIT dalam memuliakan Tuhan dan mendukung pemerintah dengan memerangi kekerasan seksualmelalui pembentukan Satgas PPKS yang telah resmi dibentuk pada 29 November 2023 lalu. Kegiatan ini dibuka dengan sambutan oleh Rektor Pdt. David Tong, Ph.D. David Tong menyampaikan, “ Etika orang Kristen adalah etika yang positif ‘Do unto others as you would have them do unto you’. Keteladanan seorang pemimpin merupakan hal yang penting dan juga harus dapat dipercaya. Komunitas harus selalu saling mengingatkan dan melindungi orang yang lebih rentan. “ Taufan Setyo Pranggono, M.Si sebagai Ketua Tim Anti Dosa Pendidikan dan Integritas Akademik LLDikti wilayah III menyampaikan seruan untuk menolak segala bentuk perundungan, intoleransi, diskriminasi dan mengedepankan motto pelajar Pancasila, karena kita sudah tidak berada dalam zona subjektivitas, suku, agama dan ras. Taufan juga menghimbau seluruh sivitas akademika kampus untuk membangun zona positif, inovatif, dan menolak kekerasan untuk menciptakan lingkungan kampus yang inklusif, aman, dan nyaman. Sosialisasi disampaikan oleh Ketua Satgas PPKS CIT, yaitu Ester Dorothy Nabasa Sinaga, M.Ars. Dorothy menekankan peran komunitas dan kolaborasi seluruh elemen kampus untuk mencegah kekerasan seksual. Berdasarkan data, Dorothy memaparkan hasil survei dari studi Nurtjahyo dkk (2021) terhadap 76 pengelola perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia, dimana 75% responden pengelola perguruan tinggi menyatakan bahwa di kampusnya pernah terjadi kekerasan seksual. Hal ini menjadi bukti bahwa kekerasan seksual tidak bisa dianggap remeh, khususnya di lingkungan perguruan tinggi. Sementara itu, Veryanto Sitohang sebagai Ketua Subkom Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan mengapreasiasi kegiatan yang dilakukan oleh CIT untuk melakukan sosialisasi tentang pencegahan dan penanganan kekerasan seksual serta mengajak kampus untuk menciptakan kawasan yang bebas dari segala bentuk kekerasan, karena ketika perempuan yang seringkali menjadi korban dapat terhindar dari kekerasan seksual, maka kehidupan yang lebih baik akan dapat diwujudkan. Sebagai institusi pendidikan tinggi Kristen, CIT berkomitmen untuk mendukung upaya pemerintah dalam mencapai tujuan zero kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi, sebagai bagian dari menjalankan dan mengekspresikan prinsip kebenaran, kasih, dan keadilan. Pada bagian penutup, Rektor CIT menyambut baik seluruh rangkaian kegiatan yang telah berjalan, terutama kehadiran narasumber yang memberikan begitu banyak hal baru sehingga memperlengkapi seluruh sivitas akademika CIT dalam menciptakan kampus yang aman, nyaman, serta bebas dari tindakan kekerasan seksual dalam bentuk apapun. Calvin Institute of Technology (CIT) adalah institusi pendidikan tinggi Kristen yang berkomitmen untuk mendidik generasi penerus yang berintegritas, dengan dasar iman kepada Tuhan dan pengetahuan yang mendalam di bidang teknologi dan ilmu pengetahuan. Sumber : https://sinarharapan.id/cit-kampus-harus-bebas-dari-kekerasan-seksual/
Sep
17
Sosialisasi dan Penyuluhan SATGAS PPKS Calvin Institute of Technology
Pada Rabu, 11 September 2024 Calvin Institute of Technology (CIT) menunjukkan komitmennya dalam mendukung kebijakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui sosialisasi terkait Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) sesuai dengan Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021. Acara yang berlangsung di J.S. Bach Recital Hall, Menara Calvin RMCI, Kemayoran, Jakarta Pusat ini mengundang narasumber Taufan Setyo Pranggono, S.Kom., M.Si., selaku Ketua Tim Anti Dosa Pendidikan dan Integritas Pendidikan, LLDIKTI Wilayah 3, serta Veryanto Sitohang, selaku Ketua Subkomisi Partisipasi Masyarakat. Ini adalah bagian dari upaya CIT untuk menciptakan lingkungan kampus yang aman dan bebas dari kekerasan seksual. Rektor CIT, Pdt. David Tong, Ph.D. membuka acara ini dengan mengutip prinsip Alkitab dari 1 Korintus 10:31, untuk mengingatkan bahwa segala tindakan, bahkan yang terkecil, harus dilakukan demi kemuliaan Tuhan. Beliau menegaskan pentingnya memiliki hati yang mengasihi Tuhan serta hidup yang berorientasi pada memuliakan-Nya dalam setiap aspek kehidupan kampus. Lebih lanjut, Rektor menyampaikan bahwa menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif merupakan tanggung jawab bersama seluruh komunitas kampus. Ia berharap agar setiap komunikasi dan interaksi, baik di dalam maupun di luar lingkungan CIT, selalu mencerminkan kasih dan kebenaran Tuhan serta memberikan dampak positif bagi semua pihak. Kegiatan ini menandai satu tahun berdirinya Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) CIT, yang resmi dibentuk pada 29 November 2023. Dengan tema Peran Komunitas dalam Pencegahan Kekerasan Seksual: Kolaborasi untuk Keamanan Bersama, seluruh sivitas akademika CIT, termasuk pimpinan universitas, staf, mahasiswa, hingga tenaga pendukung seperti pengelola gedung, tenaga kebersihan, serta petugas keamanan turut menghadiri acara ini. Bapak Taufan Setyo Pranggono S.Kom., M.Si., menjelaskan implementasi Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021 dalam pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi. Beliau menekankan tentang pentingnya penerapan kebijakan ini dan meninggalkan budaya subjektivitas, suku, agama, dan ras untuk menciptakan lingkungan kampus yang aman dan mendukung. Sementara itu, Ibu Ester Dorothy Nabasa Sinaga, M.Ars., Ketua Satgas PPKS CIT, dalam sesi penyuluhan mengingatkan bahwa sebagai anggota tubuh Kristus, sivitas akademika CIT harus membangun lingkungan yang saling menghormati dan bebas dari komentar atau ejekan yang bersifat seksual, usia, penampilan, atau status sosial. Beliau menekankan bahwa jargon PPKS CIT, “In Truth We Stand,” mencerminkan komitmen CIT untuk menciptakan kampus yang aman, mendorong semua pihak untuk melaporkan kejadian melalui https://ppks.calvin.ac.id/, dan bersama-sama menjaga integritas serta keselamatan di lingkungan kampus. Bapak Veryanto Sitohang, S.E. selaku Ketua Subkom Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan, mengapresiasi inisiatif CIT dalam mengadakan sosialisasi ini dan turut menekankan perlunya partisipasi aktif dari seluruh elemen kampus untuk menciptakan suasana yang aman dan kondusif. Sebagai penutup acara sosialisasi PPKS, penandatanganan Pakta Integritas dilakukan oleh kedua narasumber, Bapak Taufan Setyo Pranggono dan Bapak Veryanto Sitohang, bersama dengan Rektor CIT, Pdt. David Tong, Ph.D., sebagai perwakilan seluruh sivitas akademika CIT. Penandatanganan ini menegaskan komitmen CIT dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman, bebas dari kekerasan seksual, serta melindungi hak dan martabat setiap individu di komunitas kampus. Soli Deo Gloria
Sep
11
Calvin Discovery & Open House 2024: Every Thought Captive
Sep
4
Commencement 2024: Merayakan Kelulusan, Mengerjakan Panggilan
Agu
27
Sambut Mahasiswa Baru 2024: Orientasi CIT Dimulai dengan Semangat
Mei
31
Kegiatan UKM di Calvin Institute of Technology: Wadah Pengembangan Bakat dan Kreativitas Mahasiswa
Mei
13
Seminar Redeeming Love: “Mencari Pasangan Hidup. Perlukah?”
Apr
22
Calvin Colloquium 2024
Calvin Colloquium 2024 adalah serangkaian seminar yang diadakan oleh Calvin Institute of Technology di Jakarta pada 22-25 April 2024. Dalam acara ini, para pembicara terkemuka, membahas berbagai isu kontemporer seperti Teknologi, Kekerasan Seksual, Globalisme, Populisme, dan Dunia Bisnis dalam perspektif Kristiani. Pada hari pertama, fokus seminar adalah tentang “AI dan Alkitab”, yang dibawakan oleh Max, seorang Konsultan Teknologi. Dalam pembahasannya, Max menjelaskan bagaimana AI memengaruhi pemahaman kita terhadap Alkitab. Ia membicarakan konsep AI Bible dan implikasinya terhadap terjemahan Alkitab, serta cara kita mempelajari dengan Alkitab menggunakan AI. Hari kedua, tema seminar mengenai isu Kekerasan Seksual dalam Dunia Pendidikan. Pembicara Novita Tandry, M.Sc., Psy, membahas berbagai aspek terkait pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan. Acara ini juga menjadi kesempatan untuk mengumumkan pembentukkan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) oleh Calvin Institute of Technology. Seminar hari ketiga, mengulas dampak globalisme terhadap munculnya fenomena populisme. Pembicara, Lie Philip Santoso, Ph.D., menyoroti bagaimana globalisme telah mengubah lanskap ekonomi, menciptakan kesenjangan sosial dan ekonomi yang menjadi pemicu utama populisme. Populisme, sebagai respons politik terhadap kesenjangan tersebut, menciptakan polarisasi antara golongan rakyat dan elit, kadang-kadang bahkan mengancam prinsip-prinsip demokrasi. Pembicara menekankan bahwa solusi untuk mengatasi populisme dapat ditemukan dalam ajaran Kekristenan, yang menegaskan kesatuan di dalam Kristus tanpa memandang perbedaan, serta kesadaran akan dosa manusia yang mendorong kita untuk bergantung pada prinsip-prinsip moral yang lebih tinggi. Hari keempat, hari terakhir Colloquium, membahas mengenai Iman Kristen dan Bisnis, merupakan salah satu tema yang penting karena adanya anggapan bahwa bisnis bukan untuk orang Kristen. Materi ini disampaikan oleh Pnt. Timothy Siddik, B.Sc. Beliau telah berkecimpung dalam bisnis sejak lama. Sebagai orang Kristen, Alkitab telah mengajarkan prinsip-prinsip berbisnis yang benar. Bahkan didalam Alkitab, Allah juga memberikan contoh-contoh tokoh yang melakukan bisnis. Allah telah menyediakan bagi manusia seluruh sumber daya untuk membuat bisnis. Allah tidak hanya memberikan sumber daya tapi juga telah mengajarkan apa yang diperlukan dalam bisnis seperti kerja keras, perencanaan bisnis, etika bisnis, keadilan ekonomi dan yang terpenting adalah untuk mengembalikan semua itu kepada Allah. Bahkan di dalam Alkitab pun, Allah telah memberikan contoh tokoh-tokoh yang melakukan bisnis. Calvin Colloquium 2024 telah memberikan kesempatan bagi para peserta untuk memperdalam pemahaman mereka tentang isu-isu penting yang terjadi pada saat ini dan yang akan terjadi di masa depan serta kaitannya dengan Kekristenan. Semoga apa yang telah dipelajari di acara ini, dapat menjadi berkat bagi para pendengar. Soli Deo Gloria. Profil Pembicara
Apr
1
Kegiatan Donor Darah CIT Dalam Semangat Paskah: “Give Blood, Save Lives”
Pada Senin, 1 April 2024 yang lalu, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Calvin Institute of Technology (CIT) bekerja sama dengan Rumah Sakit Kanker Dharmais menyelenggarakan kegiatan donor darah ke-5 dengan tema semangat Paskah. Acara ini diselenggarakan sebagai wujud komitmen komunitas CIT dalam membantu sesama melalui sumbangan darah. Rumah Sakit Kanker Dharmais dipilih sebagai mitra karena kebutuhan akan persediaan darah yang banyak bagi pasien kanker di rumah sakit tersebut. Kerjasama ini telah menjadi agenda rutin BEM CIT sejak beberapa tahun terakhir. “Sesuai dengan tema kita kali ini, penting untuk memahami bahwa setetes darah kita dapat menjadi harapan bagi mereka yang membutuhkan. Saya berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya donor darah,” ungkap JFH, salah satu anggota panitia, menyoroti esensi dari kegiatan donor darah ini. Kegiatan donor darah kali ini dapat dinilai berlangsung dengan sangat lancar. Kehadiran para petugas profesional yang selalu siap menolong memberikan rasa aman dan perasaan dihargai bagi seluruh peserta kegiatan. “Saya terkesan dengan kerja para petugas yang responsif dan sigap dalam menolong. Meskipun terjadi beberapa insiden seperti pendonor yang hampir pingsan tiba-tiba dan kebocoran darah setelah donor karena mengangkat barang berat, petugas dengan cepat menangani situasinya. Respons dan perhatian para petugas sungguh memberikan rasa aman dan dihargai.” – JFH, pendonor. Di masa mendatang, panitia berharap kegiatan donor darah dapat diikuti oleh lebih banyak masyarakat yang antusias membantu sesama melalui sumbangan darah. Dengan demikian, semangat kebaikan dalam memberikan sumbangan darah kepada sesama dapat terus diperkuat dan menjalar, membentuk masyarakat yang lebih peduli dan berempati terhadap sesama.
Feb
18
Triumph of CIT Student Teams: Hasil Memuaskan dalam Final Kompetisi Internasional IChEC ITB 2024
Dalam kompetisi bidang teknik kimia di Indonesia, Indonesia Chemical Engineering Challenge (IChEC) telah lama menjadi sorotan sebagai ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) sejak 1996. Memasuki tahun 2013, IChEC mengukuhkan posisinya sebagai salah satu kompetisi terbesar dengan membuka pintu bagi partisipasi tim mahasiswa internasional, menarik minat dari berbagai negara yang mayoritas berasal dari Asia Tenggara, India, dan Bangladesh. Kompetisi ini telah menjadi wadah bagi para pemuda-pemudi berbakat untuk menguji kemampuan mereka dalam tantangan teknis yang serius dan relevan dengan perkembangan industri. Pada tahun ini, tema yang diangkat adalah “Enhancing Energy Transition to Obtain Net Zero Emission Towards Green Economy”. Dalam atmosfir kompetisi yang ketat dan prestisius ini, pada tanggal 18 Februari 2024, beberapa tim mahasiswa Calvin Institute of Technology (CIT) telah menorehkan prestasi gemilang, menandai keberhasilan mereka dalam final IChEC ITB 2024. Pada kategori yang pertama, yaitu Business Case Angellie Naomi, Fiona Wijaya dari prodi Chemical and food processing (CFP) angkatan 2020, dan Gery Yulianto dari prodi IT and Big Data Analytics (IBDA) angkatan 2022 berhasil meraih Juara 1 dan Best Presentation. Dalam kategori ini, mereka diberikan sebuah studi kasus untuk menurunkan emisi karbon dari sebuah pabrik kertas daur ulang dengan menggunakan teknologi tertentu, sambil memperhatikan beberapa kendala khusus, terutama terkait anggaran. Mereka diminta untuk merekomendasikan solusi terbaik agar pabrik tersebut dapat mencapai net zero emission pada tahun 2030. “Dengan tema yang ada, kami memberikan skenario untuk membandingkan beberapa teknologi dan alternatif pilihan agar pabrik tersebut dapat mencapai net zero emission pada tahun 2030. Dalam skenario ini, kami membandingkan aspek positif, negatif, dan bahkan memberikan analisis sensitivitas untuk meyakinkan para juri bahwa solusi yang kami berikan dapat diimplementasikan secara realistis dan menguntungkan” – Ujar Fionna (CFP 2020). Untuk kategori Essay Competition, Graceela Chenady dari prodi Chemical and Food Processing (CFP) dan Ionna Wijaya dari prodi Biomedical Science (BMS) angkatan 2022 berhasil meraih juara 3. Pada bagian ini, mereka didorong untuk meningkatkan kedalaman pemahaman mereka terhadap isu emisi karbon dan memberikan kesempatan untuk menuangkan ide-ide inovatif dalam esai yang ringkas, komprehensif, dan formatif. “Kami membuat esai mengenai perjalanan ‘Green Ammonia’ untuk mentransformasikan industri maritim guna mewujudkan dekarbonisasi maritim di Indonesia” – Ujar Graceela (CFP 2022). Kemudian, pada kategori Problem Solving, Aaron Arquette dari prodi CFP dan Mikha Yauw dari prodi IEE angkatan 2021 berhasil maju sampai tahap final. Untuk kategori ini, mereka diberikan studi kasus, yang mana mereka didorong untuk mendesain CO2 capture process untuk pabrik ammonia. Ide yang mereka tawarkan adalah penangkapan CO2 menggunakan produk pabrik itu sendiri, yaitu amonia dengan proses yang berasal dari prinsip geothermal yang bersifat terbarukan. Proses yang dihadapi setiap mahasiswa untuk mencapai prestasi-prestasi tersebut tidaklah mudah. Ditambah kompetisi ini merupakan ajang internasional, menjadikannya cukup menantang. Namun demikian, mereka bersyukur, secara eksternal terdapat juga dosen-dosen pembimbing yang terus memberikan dukungan, dan arahan sehingga mereka bisa menjalani proses lomba tersebut dengan baik. Lebih daripada itu, komitmen mereka untuk terus gigih memberikan yang terbaik membuahkan hasil, meskipun ditengah-tengah perkuliahan yang padat. “Kami juga bersyukur, kami bisa mendapatkan pengalaman yang baru, dan suatu kehormatan untuk bekerja sama dengan para dosen pembimbing. Hal ini membuat kami menjadi tetap semangat dan ingin memberikan yang terbaik demi kemuliaan nama Tuhan.” – Ujar Graceela (CFP 2022). Diharapkan partisipasi mereka dapat menjadi inspirasi untuk mahasiswa lainnya, dan melalui ide-ide yang dituangkan dalam kompetisi tersebut dapat berkontribusi dalam menjawab permasalahan krusial terkait lingkungan hidup. Soli Deo Gloria!
Feb
11
Penandatanganan Initial MoU antara Calvin Institute of Technology (CIT) dan Calvin University, Amerika Serikat
Feb
2
Seminar “Redeeming Love: Mencari Pasangan Hidup. Perlukah?”
Calvin Institute of Technology (CIT) mengadakan seminar selama dua hari, pada tanggal 2-3 Februari 2024, di Aula John Calvin, Kemayoran, dengan tema “Redeeming Love: Mencari Pasangan Hidup. Perlukah?”. Seminar ini bertujuan untuk memberikan perspektif baru tentang pentingnya mencari pasangan hidup di tengah gejolak pergumulan identitas dan hubungan di kalangan kaum muda.
Acara hari pertama dihadiri oleh sekitar 1100 pemuda-pemudi dari SMP dan SMA se-jabodetabek. Sebelum memasuki seminar, para peserta diberi kesempatan untuk mengunjungi gerai pameran berbagai program studi yang ada di Calvin Institute of Technology. Pameran ini bertujuan untuk memberikan wawasan tambahan bagi para siswa yang tengah mempertimbangkan masa depan akademis mereka. Disambut dan dilayani oleh mahasiswa-mahasiswi Calvin Institute of Technology, siswa-siswi tersebut menanggapi penjelasan setiap gerai dengan tak kalah antusias.
“Saya suka IPA dan matematika, saya sangat senang bisa melihat pameran banyak jurusan IPA sebelum waktunya memilih jurusan kuliah. Banyak pilihan menarik yang baru buat saya di sini.”
ujar Anisah M, seorang siswi kelas 11 dari SMA Harapan Kasih.
Hari kedua, seminar dihadiri oleh lebih dari 600 peserta dari kalangan umum dan kalangan mahasiswa-mahasiswi Calvin Institute of Technology. Pdt. David Tong, B.Sc., M.A.R., Ph.D. dan Pdt. Johanis Putratama Kamuri, M.Th, M.Hum, menguraikan wawasan mendalam dari Alkitab tentang bagaimana dan mengapa perlu mencari pasangan hidup yang sesuai kehendak Tuhan.
“Seminar ini merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh kaum muda dibahas dan dievaluasi secara menyeluruh melalui penggunaan perspektif kritis Alkitab. Seminar ini banyak memberikan insights, memberikan bimbingan bagi kaum muda Kristen dan memperlengkapi mereka untuk menghadapi pergumulan saat ini atau di masa depan dalam menemukan pasangan hidup yang serasi.”
ujar salah satu peserta seminar.
Harapan dari seminar ini, para pemuda-pemudi memiliki hati yang mencari kehendak Tuhan sebelum mencari pasangan hidup. Artinya, setiap manusia harus memiliki relasi yang lekat dengan Penciptanya terlebih dahulu. Dengan begitu, karakter, identitas diri, dan makna hidup manusia akan terbentuk sehingga membawa berkat bagi sesama saat pencarian pasangan hidup.-
2023 (17)
Des
21
Merancang Pabrik Cerdas dan Ramah Lingkungan: Juara Harapan 2, National Plant Design Competition Chemical Engineering IV
Saat pertama kali mendengar kata pabrik, tentu yang dibayangkan adalah polusi yang dihasilkan. Namun di masa Industri 4.0 ini, pabrik dituntut untuk ramah lingkungan. Selaras dengan permasalahan tersebut, Tim Methacorp dari Calvin Institute of Technology memberikan rancangan mengenai pabrik green methanol ramah lingkungan yang berkapasitas 130.000 ton per tahun. Tim CIT berhasil meraih juara harapan 2 dalam National Plant Design Competition Chemical Engineering IV. Tim CIT terdiri dari mahasiswa program studi Chemical and Food Processing (CFP) Angkatan 2020 atas nama Jansen Briano, Yosia Gabriel Kurniawan dan Kornelius Sophiano Tanuwidjaja yang dibimbing oleh dosen yaitu Samuel Pangeran Aletheia, M.T. dan Meyland, M.T. Fokus utama kompetisi ini membahas gas alam di Aceh yang memiliki potensi gas alam terbesar di Indonesia dan menduduki peringkat ke-11 penghasil gas alam terbesar di dunia. Berdasarkan informasi tersebut, tim memilih perencanaan rancangan green methanol sebagai turunan gas alam. Pemilihan green methanol didasarkan pada output emisi karbon yang sangat sedikit dibandingkan bahan bakar biasa, yaitu menggunakan proses Konversi Langsung. Setelah itu, tim juga memikirkan kapasitas pabrik berdasarkan impor dan ekspor metanol di Indonesia, sarana dan prasarana yang digunakan, sistem keamanan pabrik, serta aspek keberlangsungan ekonomi. Seluruh desain tersebut diujicoba melalui simulasi perangkat lunak untuk menentukan input dan output yang diakhiri dengan evaluasi dan revisi. Terakhir, tim mencari solusi dari simulasi untuk mencari permasalahan penggunaan energi seperti penggunaan renewable energy; sumber energi; dampak ke lingkungan; dan penyimpanan energi. Dalam mengikuti perlombaan tersebut, setiap anggota tim juga mengalami berbagai tantangan dan kesulitan di tengah kegiatan perkuliahan. Akan tetapi, masing-masing percaya satu sama lain dan mengusahakan yang maksimal sehingga berbuah manis. “Kemuliaan terbesar dalam hidup tidak terletak pada ketangguhan, tetapi bangkit setiap kali kita jatuh”, tutur Yosia Gabriel Kurniawan. “Niat dan kerja keras akan membuahkan hasil yang baik dalam segala aspek kehidupan kita.” kata Kornelius Sophiano Tanuwidjaja “Jangan pernah minder akan kemampuan sendiri misalnya seperti menilai diri sebatas IPK, jangan takut gagal, usahakan semaksimal mungkin. Prestasi ini tidak terlepas dari bantuan dosen.” kata Jansen Briano. Pembimbing juga mengucapkan apresiasi bagi ketiga pemenang. “Selamat atas pencapaiannya untuk Kornelius, Jansen, dan Yosia. Kiranya nama Tuhan semakin ditinggikan melalui karya-karya kalian. Soli Deo Gloria!” Selamat atas prestasinya untuk tim Methacorp. Semua prestasi ini juga tidak terlepas dari penyertaan Tuhan dalam setiap prosesnya. Semoga pemenang dapat terus berkarya dan memberikan syalomnya melalui rancangan ini maupun ke depannya.
Des
9
Ibadah Natal 2023 Calvin Institute of Technology: Renungan Masa Adven
Pada hari Sabtu, 9 Desember, seluruh sivitas akademika Calvin Institute of Technology mengikuti Ibadah Natal bertema The First Gospel di aula J.S.Bach. Acara ini digelar sebagai persiapan komunitas Calvin Institute of Technology menyambut Natal bersama. Inkarnasi Kristus merupakan bukti besarnya kasih Tuhan terhadap manusia. Dalam Perjanjian Lama, ada empat fakta inkarnasi Kristus dan realitas kebutuhan kita akan kedatangan Kristus ke dunia. Pertama, Allah mengutuk ular, bukan manusia yang telah melawan Allah. Kedua, Allah berinisiatif memimpin kita berperang melawan iblis yang berarti Allah berperang di pihak kita. Ketiga, Allah mengirimkan Kristus melalui manusia yang seharusnya dibenci Allah, karena telah jatuh ke dalam dosa. Dan yang keempat, Allah menjanjikan kemenangan ada di tangan kita. Pertanyaan seperti ‘Mengapa Kristus harus mati untuk menyelamatkan manusia? Apakah itu satu-satunya jalan keselamatan manusia?’ mungkin sering terlintas dalam kepala kita. Pdt. Jethro Rachmadi, M.Th menjelaskan bahwa jawaban kedua pertanyaan itu adalah: “Ya, Kristus harus mati bagi kita karena kematiannya adalah harga yang harus dibayar untuk pelanggaran mahal kita”. Setelah memahami mengapa Tuhan memberikan keselamatan bagi kita dan mengetahui bagaimana Tuhan melakukannya dengan cinta, mari kita bersama-sama melakukan renungan Natal yang lebih mendalam dan bermakna dengan memperbaharui komitmen kita untuk mengasihi Tuhan dan sesama manusia. Kenangan Natal Calvin Institute of Technology tahun ini diakhiri dengan makan makanan ringan bersama. Suasana hangat dan bersahabat menutup acara kebaktian Natal tahun 2023 dengan indah.
Nov
30
“Memahami Makna Thanksgiving: Lebih dari Sekadar Makan Malam Bersama”
Dalam rangka mengucap syukur dan menumbuhkan rasa kebersamaan dalam komunitas staf, Calvin Institute of Technology mengadakan acara makan malam bersama dengan tema Thanksgiving, yang terinspirasi dari budaya Amerika. Pdt. David Tong, mengadakan acara ini pada Jumat, 24 November 2023 yang lalu di Dining Hall, Calvin Tower, dengan tujuan untuk mengembalikan ucapan syukur kepada Tuhan atas belas kasihan yang sudah Tuhan tunjukkan kepada umat manusia. Oleh sebab itu, tidak seperti makan malam bersama pada umumnya, acara makan malam ini dibuka Pdt. David Tong, Ph.D., dengan doa dan Firman Tuhan. Dalam khotbahnya, beliau memaknai thanksgiving sebagai sebuah sikap hati yang mensyukuri tangan pemeliharaan Tuhan di setiap keadaan kita. Dari yang paling sederhana seperti bernafas, hingga mensyukuri pemeliharaan Tuhan bagi keluarga orang-orang di sekeliling kita. Melalui acara ini diharapkan para staf dapat senantiasa ingat untuk bersyukur dalam segala keadaan hidup. Diharapkan juga, segala canda tawa yang ada bisa menumbuhkan rasa kekeluargaan yang harmonis dan mempererat tali persaudaraan antar sesama.
Nov
30
Juara 1 Lomba LKTI Tingkat Nasional UBIQUINON: “Modulasi Reseptor Neuropeptide-Y1 Sebagai Target Terapeutik untuk Penanganan Obesitas di Indonesia”
Nov
27
Dies Natalis Ke-5 Calvin Institute of Technology: Mengingat Visi dan Misi!
Okt
31
Reformasi dan Pengharapan
Okt
13
Hari Cinta Kampus
Untuk pertama kalinya, Calvin Institute of Technology (CIT) mengadakan Hari Cinta Kampus pada tanggal 30 September 2023 di BSD, Banten. Lokasi ini merupakan lokasi gedung masa depan CIT dan masih dalam lapangan tanah merah dengan luas 4,44 hektar. Acara ini dihadiri kira-kira tiga ratusan orang mulai dari civitas akademika CIT yaitu mahasiswa, dosen, staf, jemaat, rektorat CIT, Pdt. David Tong, B.Sc., MAR, Ph.D.; Agung Bayu Waluyo, S.Si., M.Si., Ph.D.; Martin Tjahjono, S.T., M.Sc., Ph.D.; serta Walikota Tangerang Selatan, Drs. H. Benyamin Davnie, dan Pdt. Dr. (H.C.) Stephen Tong. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan rasa kepeduliaan dan kecintaan pada kampus sekaligus mengenalkan rancangan gedung CIT untuk beberapa tahun kedepan dalam bentuk maket yang dibuat oleh mahasiswa prodi ASD, Architecture and Sustainable Design. Acara dibuka dengan kehadiran Walikota Tangerang Selatan, Drs. H. Benyamin Davnie yang memberikan kata sambutan hangat, mengundang civitas akademika CIT untuk dapat hadir dalam BSD. Acara dilanjutkan dengan ibadah dimulai dari puji-pujian, persembahan lagu “Let All Men Praise the Lord” dari Calvin Choir, dan khotbah oleh Pdt. Dr. (H.C.) Stephen Tong. Pak Tong memberikan sambutan dan menyampaikan pengaruh Kekristenan kepada perkembangan universitas mula-mula di dunia. Gedung CIT akan menjadi salah satu yang terbaik di dunia dengan bentuk kubahnya, yang telah dirancangkan beliau sendiri. Kubah merupakan bentuk seni bangunan dari Kristen yang terlihat dari sejarah pada Konstantinopel oleh Kaisar Yustinus 1, melalui 2 arsitek Kristen dengan perkiraan 1650 tahun yang lalu. Meskipun pembangunan ini memerlukan biaya yang tidak sedikit, segenap Sivitas CIT tetap berharap dan bersandar pada penyertaan Allah. Pdt. David Tong, B.Sc., MAR, Ph.D. juga menjelaskan mengenai rencana gedung CIT. Gedung CIT nantinya di dalam gedung rektorat akan ada ruang kelas, aula, dining hall, perpustakaan, dan opera house. Di belakang gedung rektorat akan dibangun gedung dormitory yang dilengkapi klinik. Saat ini, proses persiapan pembangunan memerlukan waktu yang panjang dan detail. Jika tahun depan sudah dapat meletakkan batu pertama, perkiraan paling cepat, gedung CIT akan selesai dibangun dalam 3 tahun. Hari Cinta Kampus CIT merupakan sebuah momen berharga yang memberikan tujuan, visi dan misi CIT ke depannya, sekaligus memberikan harapan perkembangan komunitas CIT. Kehadiran Walikota Tangerang Selatan hingga kelancaran acara ini merupakan rancangan dan perlindungan dari Tuhan. Kiranya Tuhan berkenan bagi masa depan CIT di Tanah BSD ini.
Okt
2
Calvin Vocation Fair
Calvin Institute of Technology mengadakan Vocation Fair dari tanggal 18-19 Agustus 2023 di RMCI, Jakarta Pusat. Secara mendasar, ada tiga tujuan utama dari diadakannya Vocation Fair. Pertama adalah industry awareness, yaitu memperkenalkan perusahaan kepada mahasiswa dan publik. Kedua adalah talent connect, yaitu memfasilitasi perusahaan untuk merekrut SDM (Sumber Daya Manusia) bertalenta. Ketiga adalah industry relations, yaitu memfasilitasi jejaring dan kolaborasi antar perusahaan, CIT (Calvin Institute of Technology), dan publik. Acara Vocation Fair ini mendatangkan banyak representatif dari berbagai perusahaan nasional dengan bidang-bidang yang berbeda. Tujuannya adalah untuk mempertemukan orang-orang yang sekiranya cocok bekerja dengan bidang dan perusahaan tertentu. Acara ini dibagi menjadi dua bagian berbeda, yaitu presentasi dari masing-masing perusahaan dan standing booth di daerah Lobby Lantai 1, Calv berin Tower. Total perusahaan yang terlibat dalam acara Calvin Vocation ada sepuluh perusahaan, yaitu PT. Rodamas, PT. Zyrexindo Mandiri Buana, Tbk, PT. Wastec International, PT. Siloam Hospital Group, BCA, PT. Trikarya Abadi Prima, OT Group, Tiga Sekawan, Habitat for Humanity, dan PT. Lyhoc Plast Indonesia. Secara khusus, Vocation Fair pada hari pertama (Jumat) dibuka spesial untuk para mahasiswa CIT yang sedang mencari tempat magang atau berencana untuk bekerja pada perusahaan tertentu. Pada hari kedua, kesempatan dibuka untuk khalayak umum. Kedua hari tersebut sama-sama diisi dengan presentasi dan standing booth dari masing-masing perusahaan. Dalam presentasi, hal yang menjadi penekanan adalah visi dari masing-masing perusahaan. Orang-orang yang datang dapat mendengarkan apa sebenarnya visi dari setiap perusahaan. Mereka kemudian dapat mempertimbangkan apakah visi tersebut sesuai dengan apa yang menjadi panggilan masing-masing. Standing booth tersedia dari pagi sampai sore untuk melayani orang-orang yang sekiranya tertarik untuk berkonsultasi lebih lanjut tentang detail-detail perusahaan. Dengan diadakannya acara Vocation Fair ini (yang bersamaan dengan Open House CIT 2023), diharapkan orang-orang dapat memanfaatkan momentum dengan sebaik mungkin untuk menggumulkan panggilan bekerja masing-masing. Biarlah setiap orang mengerti betapa pentingnya bekerja sebagai salah satu aspek hidup yang tidak dapat dilepaskan dan melakukan yang terbaik (menjadi berkat) dalam pekerjaan mereka, terutama untuk mahasiswa-mahasiswa Calvin Institute of Technology.
Okt
2
Open House Calvin Institute of Technology 2023 “Redeemed to Renew”
Calvin Institute of Technology mengadakan kembali open house secara fisik untuk kedua kalinya dengan tema “Redeemed to renew” pada hari Jumat sampai Minggu tanggal 18 – 20 Agustus 2022. Open house ini dihadiri berbagai kalangan dan usia dimulai dari siswa sekolah yang diundang dalam campus visit, kepala sekolah dan guru yang diundang dalam Headmasters Council, jemaat dan masyarakat umum. Open House CIT menghadirkan berbagai showcases dan research dari keenam prodinya yaitu IBDA (IT and Big Data Analytics). Masing-masing prodi menampilkan keunikan dari produk ataupun proyek yang telah diselesaikan, seperti di booth IBDA yang memperkenalkan permainan AI Generative (Deepfake atau It Imitates You & Ehancement atau Past Restorator), Punch Hook Block, Book Recommendation menggunakan matrix algorithm, dan Bernstein Vazirani Quantum Algorithm. IEE (IoT and Electrical Engineering), Di booth IEE mempraktekkan Ventilator Vivent; RFID (Radio Frequency Identification), Dog and Cat Robotics (Bittle and Nybble) dan 3D printer. CFP (Chemical and Food Processing), Di Booth CFP, kita dapat merasakan langsung minuman kombucha, water filter dan coffee roaster. Selanjutnya, di Booth BMS, mempresentasikan herbarium, kultur jaringan tumbuhan, mikroskop, agar art, dan bioplastik. BMS (Biomedical Science), SCCE (Smart Construction and Civil Engineering). Di booth SCCE, menampilkan Jembatan Da Vinci dengan kayu, deteksi AI dalam penggunaan alat keamanan proyek, miniatur bangunan 2 lantai, jembatan dari spaghetti, dan batu-batuan (batuan beku, choral, aspal). Terakhir, di Booth ASD, memperlihatkan kursi benevolent companion; arcadia paviliun; gambar-gambar 2D dan 3D dari rancangan arsitek yang merupakan hasil karya dari mata kuliah; dan 3D printer. Kegiatan ini dipresentasikan langsung oleh dosen dan mahasiswa untuk memperkenalkan apa saja yang sedang dikerjakan oleh masing-masing prodi. Kegiatan ini dijalankan seperti pameran sehingga peserta dapat langsung mendatangi masing-masing tempat pameran prodi sehingga dapat bertanya seputar prodi terkait. Selain itu, ada pameran mengenai kurikulum RLAC atau Reformed Liberal Arts Curriculum yang hadir di dalam setiap prodi. Dalam pameran tersebut yang dibawa oleh Kevin Nobel, ada kuis dan pameran mengenai buku RLAC. Dilengkapi dengan pameran mengenai dormitory dalam CIT, Student Development, Badan Eksekutif Mahasiswa, Admissions Counselor, serta Calvin Week Information Center. Setelah lelah berkeliling, pengunjung juga dapat membeli berbagai makanan dan minuman yang disediakan baik melalui Dining Service yang menyediakan kebutuhan bagi mahasiswa dormitory ataupun melalui enam booth makanan dan minuman lainnya. Di samping showcases & research dari masing-masing prodi, juga ada booth. Prodi IBDA menyediakan layanan permainan yang dibuat mahasiswa seperti Space Invader, Battleships, Punch Hook Block. Sementara, prodi IEE menjual berbagai aksesoris hasil 3D printer dan nametag, prodi CFP menawarkan kombucha dan cereal okara, prodi BMS mempromosikan herbarium bottle keychain atau dried plants in a glass bottle, prodi SCCE menyediakan panjangan jembatan da vinci dan menjual kopi, prodi ASD menjual gantungan photoholder; pop up Indonesia; dan pop up Jakarta. Pada hari kedua khususnya, ada penambahan booth yaitu Future of CIT yang menampilkan prospek ke depan CIT seperti grafik pertumbuhan mahasiswa CIT ke depannya serta menghadirkan juga maket buatan mahasiswa ASD mengenai miniatur kampus CIT baru yang akan dibangun di BSD, Tangerang. Selain itu, ditambah juga booth mengenai sebagai respon pasca symposium AI dengan hashtag AI Generation dan Redeeming AI. Booth ini menjelaskan perkembangan AI, dampak negatif AI, problem etika AI, dan dampak positif AI dalam membawa shalom Tuhan yang pada akhirnya menjelaskan bahwa kekristenan dan Tuhan tidak berlawanan dengan AI namun perlu untuk manusia menggunakannya secara bijaksana. Terdapat juga contoh integrasi AI dalam kedua prodi yaitu IBDA lewat UI design automation dengan Ulzard dan IEE lewat Circuit Design dengan Flux. Acara ini berlangsung dengan lancar dan sukses. Tentunya hal ini tidak terlepas dari tangan penyertaan Tuhan yang telah memimpin dan menolong semua staf dan panitia yang terlibat, mulai dari persiapan sampai dengan berlangsungnya acara. ini diharapkan dapat memperkenalkan kepada masyarakat mengenai apa yang sedang dikerjakan oleh CIT kepada masyarakat luas. Soli Deo Gloria~
Sep
25
AI Symposium 2023 “Redeeming Artificial Intelligence”
Untuk pertama kalinya CIT mengadakan AI Symposium yang bertemakan Redeeming Artificial Intelligence dihadiri oleh lebih dari 1000 orang, AI Symposium diadakan di Aula John Calvin pada tanggal 19 Agustus 2023. Acara ini dikenakan biaya lima puluh ribu bagi pelajar dan seratus ribu bagi umum. Acara dibuka dengan doa dan pujian serta sambutan dari Pdt. DR. Stephen Tong. Pembicara utama yang diundang adalah Andrew Liou, Ph.D., P.E. dengan latar belakang sebagai Vice President of Foxconn University dan Executive Vice President of iDPBG. Beliau berbicara dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan oleh Agung Bayu Waluyo, S.SI., M.SI., Ph.D. Pembicara kedua yaitu Rev. Ivan Kristiono, M.Hum., M.Div. dengan latar belakang sebagai Member of Consistory Board of Synod of GRII, Assistant Senior Pastor of GRII Pusat, dan Coordinator of Sekolah Kristen Calvin. Pembicara ketiga ialah Rev. David Tong, Ph.D. dengan latar belakang sebagai Rector of Calvin Institute of Technology dan Senior Pastor of Synod of GRII. Kecanggihan AI membuat banyak orang terheran-heran. Namun disisi lain, ada kekhawatiran bahwa suatu saat AI dapat menggantikan posisi pekerjaan pada saat ini. Dengan kata lain, AI dapat memangkas peluang pekerjaan dan mempersulit persaingan pencari kerja. Adapun satu sisi yang menguntungkan dari AI, bahwa AI mampu membantu manusia untuk pekerjaan-pekerjaan yang sulit dikerjakan, sehingga hal ini seperti pedang bermata dua. Kecanggihan AI ini perlu disadari sebagai mandat budaya yang telah dipercayakan Tuhan sejak penciptaan. AI perlu di kembangkan, tetapi juga perlu hikmat bijaksana oleh kita, manusia, agar tidak mendewakan AI lebih daripada Tuhan. Manusia perlu mencari cara untuk tetap berkuasa atas AI dalam kehendak Tuhan. Selama AI Symposium berlangsung, ketiga pembicara telah membuka pandangan kita terhadap AI dengan fokus worldview Kristen terhadap AI. Pilihan ada di tangan manusia, mampukah manusia melakukannya untuk yang lebih baik khususnya orang Kristen? Jangan sampai teknologi maju namun pribadi semakin menurun.
Sep
15
Teknik Kimia x Teknologi AI: Kolaborasi Strategis untuk Inovasi Berkelanjutan dalam Industri Kimia dan Makanan
Penulis oleh: Samuel Pangeran Aletheia, M.T. Pernahkah Anda merasa penasaran dengan makanan berwarna-warni dan unik yang ada di toko? Ketika melihat makanan semacam itu, mungkin beberapa pertanyaan muncul di benak Anda. Apakah makanan tersebut mengandung zat kimia berbahaya dan aman untuk dikonsumsi? Tenang saja, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memastikan bahwa makanan dalam kemasan yang memiliki nomor registrasi BPOM aman untuk dikonsumsi, selama masih dalam batas wajar. Ketika kita berbicara tentang makanan dalam kemasan, pasti ada beberapa zat kimia yang mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, seperti asam benzoat, tartrazin, dan aspartam. Akan tetapi, kita tidak perlu khawatir, sebab BPOM telah menetapkan batas aman konsumsi untuk senyawa-senyawa kimia ini, yang disebut dengan Acceptable Daily Intake (ADI). Namun, dengan seiring dengan bertambahnya jenis zat kimia yang digunakan di industri makanan, bagaimana para ahli dan produsen makanan tersebut dapat memastikan keamanannya? Di sinilah teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) hadir untuk membantu. Salah satu contoh AI yang terkenal akhir-akhir ini adalah ChatGPT, yang menawarkan potensi besar dalam aplikasi industri kimia dan makanan. Kolaborasi antara para ahli kimia dan AI membawa harapan baru dalam menghadapi tantangan kompleks di industri ini. Pertama, teknologi AI seperti ChatGPT mampu memberikan wawasan mendalam melalui analisis data besar dan kompleks. Dalam industri kimia, teknologi ini dapat digunakan untuk menganalisis hasil percobaan, mengidentifikasi tren, dan mengoptimalkan proses produksi. Dengan bantuan ChatGPT, para ahli kimia dapat mengambil keputusan dengan lebih informasional dan efisien sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan mengurangi biaya produksi. Kolaborasi ini juga membuka peluang baru dalam pengembangan material yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Dengan menggunakan pemodelan dan simulasi kimia berbasis AI, para peneliti dapat memprediksi sifat material dan mempercepat pengembangan material baru (Gambar 1). Inovasi semacam ini berpotensi mengarah pada bahan-bahan yang lebih berkelanjutan (sustainable), serta mengurangi ketergantungan pada bahan langka dan berbahaya. Gambar 1. Mengeksplorasi Senyawa Kimia dengan AI (sumber: Weber et al., 2021) Selain itu, teknologi AI dapat berfungsi sebagai asisten virtual dalam riset dan pengembangan kimia. Dengan bantuan teknologi ini, peneliti dapat memperoleh saran, menganalisis data, dan menyelesaikan masalah yang kompleks dengan lebih cepat. Sebagai contoh, melalui penelitian yang dilakukan Gabriel Vogel dkk. (2023) dalam menggunakan basis teknologi yang serupa dengan ChatGPT, peneliti mampu menghasilkan gambaran proses manufaktur industri yang sederhana. Keuntungan ini memungkinkan para peneliti dan insinyur kimia untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam, menemukan solusi baru, dan mempercepat proses riset dan pengembangan. Gambar 2. Perancangan Proses Manufaktur dengan Bantuan AI dengan Basis ChatGPT (sumber: Vogel et al., 2023) Kolaborasi antara teknologi AI dan teknik kimia juga membuka peluang kolaborasi lintas disiplin. Integrasi AI memungkinkan kerja sama dengan bidang ilmu lain, seperti mesin, material, dan lingkungan. Dengan demikian, solusi yang dihasilkan menjadi lebih holistik dan berkelanjutan dengan menggabungkan aspek teknis, ekonomi, dan lingkungan. Dengan adanya kolaborasi antara AI dan para ahli kimia, kita mengharapkan munculnya inovasi-inovasi baru dalam industri makanan yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan. Melalui kerja sama ini, masa depan industri kimia dan makanan tampak semakin cerah dan menjanjikan. Daftar Pustaka: Vogel, G., Schulze Balhorn, L., Schweidtmann, A.M., 2023. Learning from flowsheets: A generative transformer model for autocompletion of flowsheets. Comput. Chem. Eng. 171, 108162. https://doi.org/10.1016/j.compchemeng.2023.108162 Weber, J.M., Guo, Z., Zhang, C., Schweidtmann, A.M., Lapkin, A.A., 2021. Chemical data intelligence for sustainable chemistry. Chem. Soc. Rev. 50, 12013–12036. https://doi.org/10.1039/D1CS00477H
Agu
30
Milestone, Class of 2023 Commencement: Pelantikan Wisudawan Pertama Calvin Institute of Technology
Sabtu, 12 Agustus 2023, menjadi momen bersejarah bagi Calvin Institute of Technology (CIT). Pdt. Dr Stephen Tong yang merupakan founder dan Honorary Chairman CIT didampingi oleh rektor Pdt. David Tong Ph.D., telah melantik 40 wisudawan dan wisudawati angkatan 2019. Acara tersebut dilangsungkan di Aula Simfonia Jakarta yang dihadiri oleh 557 orang secara fisik dan 230 online, termasuk dosen dan staff. Acara tersebut juga dimeriahkan dengan adanya mini concert dari Jakarta Simfonia Orchestra (JSO), dan Jakarta Oratorio Society (JOS) beserta Calvin Choir dengan konduktor internasional, Dr. Jahja Ling. Lagu-lagu kebangsaan dan musik klasik dari komponis-komponis ternama ditampilkan dalam kesempatan tersebut. Wisudawan yang dilantik terdiri dari lulusan program studi STEM (Science, Technology, Engineering dan Mathematics) yaitu S1 IT and Big Data Analytics (S.Kom.), S1 Iot and Electrical Engineering (S.T.), S1 Chemical and Food Processing (S.T.), S1 Biomedical Science (S.Si.), S1 Smart Construction and Civil Engineering (S.T.), S1 Architecture and Sustainable Design (S.Ars.). Dari seluruh lulusan Class of 2023, terdapat 4 mahasiswa yang meraih penghargaan Honors Scholars CIT berdasarkan capaian Indeks Prestasi Kumulatif yang juga melewati tuntutan ketat lainnya, yaitu Isabella Stevani (CFP), Joy Miliaan (IEE), Tabita Lidya Qudical (SCCE), dan Yosephine Priscilla Maris (BMS). Salah satu mahasiswa terbaik dipilih untuk menyampaikan Valedictorian Speech, yaitu Joy Miliaan, dari prodi IoT and Electrical Engineering (S.T.). Dalam pidatonya, Joy membagikan bagaimana proses pembentukan yang dialami-nya selama berkuliah di CIT. “Berkuliah di CIT tidaklah mudah, namun ada anugerah Tuhan yang menopang saya, sehingga saya dapat terus melangkah untuk sampai di titik ini,” tuturnya. Dalam sesi Rector’s Charge, Pdt. David Tong Ph.D., menekankan beberapa poin penting yang menjadi dasar atau pegangan untuk setiap wisudawan untuk melangkah kedepannya. “Dengan melihat kemuliaan Tuhan, kita akan sadar betapa suramnya dunia ini. Setiap mereka merupakan serdadu Kristus yang dipanggil untuk bersaksi dimanapun Tuhan menempatkan mereka, sehingga rencana Tuhan tetap dapat terus dikerjakan”, tutur Pdt. David Tong Ph.D. Kemudian pesan yang tak kalah pentingnya juga disampaikan oleh Founder CIT, Pdt. Dr Stephen Tong. Beliau menekankan bagaimana CIT merupakan starting point dari transformasi sistem pendidikan di Indonesia. Starting point yang baru mengharuskan kita untuk melakukan dekonstruksi dan perubahan-perubahan untuk mencapai aspek positif dalam pembaharuan pendidikan di Indonesia yang lebih sesuai dengan kehendak Tuhan. Harapannya dengan apa yang telah dikerjakan melalui CIT, dapat menciptakan legacy dan heritage yang indah demi mengubah masyarakat Indonesia, sehingga Tuhan dimuliakan dan sejarah dapat diperbaiki. “We start the alpha, facing to no end and legacy goes on until eternity,” merupakan kalimat penting yang disampaikan oleh beliau.
Mei
25
Dynamics, Complexity, and Uniqueness of how Cells work as God’s Creation – Poster Presentasi Program Studi Biomedical Science (BMS)
Rabu, 10 Mei 2023, program studi Biomedical Science (BMS) mengadakan presentasi poster oleh angkatan 2021. Melalui presentasi tersebut, para mahasiswa prodi BMS mencoba menjelaskan beberapa topik terkait dengan sel kepada orang awam. Maka dari itu, mereka mencoba merancang sedemikian rupa agar apa yang dijelaskan dapat dengan mudah dimengerti, bahkan oleh orang-orang yang belum pernah mempelajarinya sekalipun. Menurut komentar dari salah satu mahasiswa prodi Chemical and Food Processing (CFP) yang menjadi pengunjung, mengatakan bahwa, topik-topik yang dipilih sangat menarik. Kemudian ide dari setiap kelompok presenter juga sangat kreatif dengan digunakannya visualisasi dan alat peraga yang relevan, sehingga pengunjung dapat dengan mudah mengerti materi yang disampaikan. Adapun topik-topik yang dipresentasikan meliputi, Cytoskeleton, The Lipid Bilayer, Central Dogma, Mitochondria and Energy Production, Mitosis/Cell Cycle. Untuk setiap topik terbagi menjadi lima booth dengan masing-masing presenter. Pada booth cytoskeleton mereka menjelaskan bagaimana pentingnya cytoskeleton terhadap sel, sama halnya rangka tubuh terhadap manusia. Cytoskeleton adalah kerangka sel yang terdiri dari protein-protein berbentuk benang halus (filament) yang terdapat di sitoplasma. Semua jenis sel memiliki sitoskeleton. Menurut Blessari (Mahasiswi BMS, 2021), secara umum fungsi cytoskeleton paralel satu sama lain, yaitu berperan dalam menopang dan memberikan bentuk, serta mobilitas sel. Maka dari itu, seperti yang pada umumnya diketahui bahwa rangka tubuh memiliki peran yang sangat krusial bagi manusia, begitupun cytoskeleton bagi sel. Kemudian, pada booth the lipid bilayer, mereka menjelaskan salah satu komponen penyusun membran, yaitu fosfolipid. The Lipid Bilayer merupakan membran polar tipis yang terbuat dari lapisan molekul lipid. Menurut Jessica (Mahasiswi BMS, 2021), membran sendiri memiliki “love and hate relationship”. Hal tersebut disebabkan karena adanya lipid bilayer yang memiliki dua bagian yang dapat bersifat hidrofobik “tidak suka air” dan hidrofilik “suka air”. Relasi tersebut memiliki peran yang sangat penting dalam transpor molekul-molekul, dari dalam dan keluar sel”. Booth central dogma, secara garis besar menjelaskan bagaimana proses pembentukan protein dari DNA. Pada booth ini, Priscilla (Mahasiswi BMS, 2021) menggunakan analogi berupa resep makanan yang digunakan sebagai instruksi atau panduan untuk membuat makanan, begitupun DNA yang berisi instruksi untuk sel dapat membuat suatu protein. Pameran ini menjadi suatu wadah bagi mahasiswa prodi BMS yang terlibat untuk menceritakan mengenai keunikan dan kompleksitas dari sel. Dengan terlaksananya kegiatan ini, Prodi BMS berharap agar banyak orang dapat lebih mengapresiasi dan mengagumi sel sebagai building blocks of life yang diciptakan oleh Tuhan dengan begitu kompleks dan keunikan sel untuk setiap proses yang ada di dalamnya.
Mei
12
Susu Pasteurisasi vs Susu UHT: Mana yang Lebih Baik?
Penulis : Harwin, M.Sc. Anda mungkin pernah berbelanja ke supermarket dan melihat ada banyak produk susu yang dijual. Ada produk susu pasteurisasi yang diletakkan di etalase pendingin dan ada produk susu UHT yang diletakkan di rak biasa. Anda mungkin menjadi penasaran dan akhirnya membeli kedua susu tersebut. Ketika Anda mencicipi kedua susu tersebut, ternyata rasa susunya juga berbeda. Lalu, mungkin muncul pertanyaan, yaitu apa bedanya susu pasteurisasi dan susu UHT? Kenapa susu pasteurisasi harus disimpan di etalase pendingin, sedangkan susu UHT tidak? Kenapa rasa susu pasteurisasi berbeda dengan rasa susu UHT? Kenapa susu UHT yang diletakkan di etalase biasa malah mampu tahan lebih lama? Apakah semuanya itu dikarenakan susu UHT mengandung bahan pengawet, seperti yang banyak dipercaya masyarakat? Artikel ini akan menjawab berbagai pertanyaan tersebut dalam dua bagian. Bagian pertama akan membahas tentang susu pasteurisasi terlebih dahulu, dan bagian kedua akan membahas tentang susu UHT. Ketika kita berbicara tentang susu (baik pasteurisasi maupun UHT), pertama-tama kita harus meninjau bahan bakunya terlebih dahulu, yaitu susu itu sendiri. Susu yang umum dipasarkan adalah susu sapi. Susu segar yang diperah dari sapi yang sehat secara praktis adalah susu yang steril. Akan tetapi, susu yang telah meninggalkan ambing (udder) sapi sangat mudah terkontaminasi oleh mikroorganisme (seperti bakteri) yang berada di udara dan lingkungan sekitarnya. Susu juga sangat kaya dengan nutrisi yang diperlukan mikroorganisme untuk berkembang biak. Oleh sebab itu, kunci untuk memperlambat laju kerusakan susu adalah dengan memperlambat aktivitas bakteri atau mematikan bakteri yang ada dalam susu segar. Teknik yang paling umum digunakan untuk mematikan bakteri tersebut adalah pasteurisasi. Istilah “pasteurisasi” berasal dari nama seorang ilmuwan Perancis bernama Louis Pasteur[1], yang menemukan bahwa pemanasan wine pada temperatur yang relatif tinggi (57oC) dapat membunuh bakteri yang menyebabkan wine menjadi asam. Teknik yang sama dapat diterapkan pada susu dengan memperhatikan antara temperatur pemanasan dan lama waktu pemanasan yang sesuai. Gambar 1 menunjukkan bagaimana pengaruh temperatur dan waktu pemanasan dalam membunuh mikroorganisme patogen. Gambar 1. Kurva yang menunjukkan pengaruh temperatur dan durasi pemanasan (heat treatment) dalam membunuh berbagai jenis mikroorganisme patogen[2] Dari kurva tersebut, dapat dilihat bahwa semakin tinggi temperatur pemanasan (heat treatment), semakin singkat waktu yang diperlukan untuk membunuh mikroorganisme yang mengontaminasi susu. Sebagai contoh, bakteri typhus penyebab penyakit tifus akan mati jika susu dipanaskan pada temperatur 60oC selama sekitar 10 menit. Akan tetapi, jika susu dipanaskan hingga temperatur 65oC, hanya dibutuhkan waktu sekitar 1 menit untuk membunuh bakteri typhus tersebut. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sterilisasi susu dari bakteri berbahaya seperti bakteri coliform, bakteri typhus dan bakteri tubercle, dapat dicapai pada temperatur pemanasan sekitar 72oC selama 10 detik, atau pada temperatur 75oC selama kurang dari 10 detik. Pasteurisasi pada temperatur tinggi untuk durasi yang singkat ini disebut pasteurisasi HTST (high-temperature short-time). Pasteurisasi susu pada umumnya dilakukan pada temperatur 72-75oC selama 15-20 detik. Diagram alir sederhana untuk unit pasteurisasi susu ditunjukkan dalam Gambar 2. Unit pasteurisasi susu pada umumnya terdiri dari beberapa bagian, yaitu bagian pasteurisasi (2A), bagian pemanasan awal (2B dan/atau 2C), dan bagian pendinginan (2D). Unit pasteurisasi juga dapat dilengkapi dengan peralatan lain, seperti balance tank, homogenizer, ataupun deaerator, namun peralatan tersebut tidak menjadi pembahasan dalam artikel ini. Gambar 2. Diagram alir sederhana untuk proses pasteurisasi susu Susu segar yang akan dipasteurisasi terlebih dahulu dialirkan ke bagian pemanasan awal atau disebut juga preheating. Jika susu yang akan diproduksi adalah susu rendah lemak atau susu skim, susu akan dipanaskan hingga temperatur 50-55oC dalam bagian pertama (2C), lalu dialirkan ke alat separator (3), yang berfungsi untuk memisahkan krim dari susu. Akan tetapi, jika susu yang akan diproduksi adalah susu full cream, alat separator ini tidak diperlukan. Susu yang telah diskim akan dialirkan ke bagian kedua (2B) untuk menyelesaikan proses pemanasan awal. Dari bagian pemanasan awal, susu selanjutnya dialirkan ke bagian pasteurisasi (2A), di mana susu akan dipanaskan dengan medium pemanas (seperti air pemanas) hingga mencapai temperatur pasteurisasi (72-75oC), dan setelah itu barulah dialirkan ke holding tube (5). Bagian holding tube didesain untuk mempertahankan temperatur pasteurisasi selama 15-20 detik sehingga proses pasteurisasi tercapai dengan sempurna. Susu pasteurisasi dari holding tube memiliki temperatur yang masih tinggi sehingga masih mengandung kalor yang dapat dimanfaatkan kembali (heat recovery). Pemanfaatan kembali kalor tersebut umumnya dilakukan dengan menggunakan susu pasteurisasi untuk memanaskan susu segar (umpan masuk) di bagian pemanasan awal (2B, 2C). Pemanfaatan kembali kalor tersebut dapat menurunkan konsumsi energi secara keseluruhan. Selanjutnya, susu pasteurisasi tersebut akan didinginkan hingga temperatur 4-8oC di bagian pendinginan (2D). Medium pendingin yang umumnya digunakan adalah chilled water atau ice water. Proses pendinginan tersebut akan memperlambat rekontaminasi susu dan pertumbuhan spora bakteri dan bakteri yang tidak berbahaya yang masih tersisa dalam susu. Gambar 3 menunjukkan pengaruh temperatur terhadap pertumbuhan bakteri dalam susu. Pada temperatur 15oC atau lebih tinggi, pertumbuhan bakteri meningkat secara eksponensial dan cepat. Akan tetapi, pada temperatur 4oC, pertumbuhan bakteri relatif tidak terdeteksi sehingga dapat disimpulkan bahwa pendinginan ke temperatur sekitar 4oC cukup ideal untuk menyimpan susu pasteurisasi. Gambar 3. Pengaruh temperatur terhadap pertumbuhan bakteri dalam susu[3] Hal penting yang harus diperhatikan adalah pendinginan tersebut hanya memperlambat, namun tidak mencegah atau menghentikan pertumbuhan bakteri yang masih tertinggal sehingga umur susu pasteurisasi relatif tidak terlalu panjang. Umur penyimpanan susu pasteurisasi umumnya adalah sekitar 7 hari. Kesimpulan Pada artikel ini, kita telah membahas tentang pasteurisasi susu, bagaimana pasteurisasi susu dapat menjadi solusi untuk mencegah pertumbuhan bakteri dalam susu, dan kenapa susu pasteurisasi harus disimpan pada temperatur rendah. Pada artikel berikutnya, kita akan membahas mengenai susu UHT, lalu membandingkannya dengan susu pasteurisasi. [1] https://www.britannica.com/technology/pasteurization [2] https://dairyprocessinghandbook.tetrapak.com/chapter/heat-exchangers [3] https://dairyprocessinghandbook.tetrapak.com/chapter/microbiology
Apr
16
Tim dari Calvin Institute of Technology (CIT) meraih Juara 1 dalam GEMASTIK XV 2022
Apr
16
Padiros: Karya Mahasiswa-mahasiswa CIT untuk Mengurangi Kasus Diabetes di Indonesia
Mengonsumsi nasi putih adalah suatu budaya yang sudah melekat dalam masyarakat Indonesia. Rasanya akan sangat tidak lengkap jika memakan apa pun tanpa nasi putih. Nasi sudah seperti menjadi menu wajib bagi setiap orang Indonesia. Sebagai salah satu sumber karbohidrat utama, nasi putih memang sangat penting untuk ada dalam menu makanan karena nasi putih berfungsi sebagai penyeimbang rasa dari lauk-pauk dan sayur-sayuran yang ada dalam piring. Tanpa keberadaan nasi putih, rasa makanan akan menjadi terlalu kuat sehingga makanan tidak dapat dinikmati. Selain itu, tekstur dari nasi putih yang lembut dan halus membuatnya sangat enak untuk dikunyah di mulut. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika orang Indonesia suka mengonsumsi nasi putih, tetapi nasi putih dapat membawa bahaya bagi tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan. Di balik kelezatan dan kenikmatan nasi putih, tersimpan risiko yang cukup besar. Perlu diketahui bahwa nasi putih pada dasarnya didapatkan dari padi yang bulir-bulir telah dibuang sehingga menyisakan bagian endosperma dari padi. Bagian endosperma ini mengandung banyak sekali pati yang tersusun oleh glukosa. Dengan demikian, kandungan glukosa yang relatif tinggi ini membuat glycemic index dari nasi putih sangatlah tinggi. Nilai glycemic index yang tinggi ini menunjukkan bahwa memakan nasi putih akan menaikkan kadar glukosa dalam aliran darah secara signifikan. Dalam tubuh kita, memang ada mekanisme untuk mengontrol kadar gula darah, yaitu dengan menggunakan hormon insulin yang disekresikan oleh pankreas. Namun, hormon insulin tentunya memerlukan waktu untuk bekerja dan pankreas memiliki laju sekresi hormon insulin yang terbatas. Oleh sebab itu, jika seseorang terlalu banyak memakan nasi putih secara terus-menerus tanpa regulasi eksternal (misalnya berolahraga untuk menggunakan gula tersebut dengan cepat), ada kemungkinan besar bahwa orang tersebut akan kelebihan gula dalam aliran darah. Penyakit yang ditimbulkan akibat kadar gula yang terlalu tinggi dalam aliran darah seseorang disebut sebagai diabetes. Pada orang yang sudah terkena diabetes, kadar gulanya benar-benar harus dikontrol dengan ketat agar tak menimbulkan komplikasi. Tidak mengherankan jika pada akhirnya banyak penderita diabetes yang tidak boleh lagi makan nasi putih yang lezat dan nikmat itu. Jika penderita diabetes tidak menjaga kadar gula darahnya dengan baik, gula yang terus masuk ke dalam aliran tubuh akan menumpuk. Penumpukan gula dalam pembuluh darah ini akan menyumbat suplai oksigen dan nutrisi ke bagian yang tersumbat tersebut. Bagian yang biasanya tersumbat oleh banyaknya gula ini adalah kaki (ditandai dengan kaki yang menghitam warnanya akibat kurangnya oksigen dan nutrisi). Tidak jarang kita melihat banyak penderita diabetes yang sudah fatal harus diamputasi kakinya akibat penumpukan gula yang sudah terlalu banyak di pembuluh darah kaki (jika tidak, pembuluh darah dapat pecah dan membahayakan nyawa). Di Indonesia sendiri, diabetes merupakan penyakit yang umum. Menurut data dari Statista, diketahui terdapat 19,5 juta penderita diabetes di Indonesia pada tahun 2021. Maka dari itu, memakan nasi terlalu banyak ternyata tidak bagus bagi kesehatan. Ini membuat banyak orang mencari alternatif sumber karbohidrat lain selain nasi yang glycemic index-nya lebih rendah. Contohnya adalah kentang, ubi, dan singkong. Namun, seperti yang telah dijelaskan, budaya Indonesia adalah makan nasi. Tidak makan nasi sama dengan tidak makan sama sekali sehingga ada juga orang-orang yang mencari alternatif jenis nasi lain, seperti nasi hitam dan merah. Namun, nasi-nasi semacam ini masih memiliki bulir-bulir padi yang tidak dihilangkan saat proses produksi beras sehingga cukup banyak orang tidak menyukai teksturnya yang agak keras. Percuma saja makan untuk sehat tapi tidak enak (bukankah itu menyiksa diri?). Jadi, bagaimana solusinya? Solusinya adalah ini: Padiros! Mahasiswa-mahasiswa CIT (Brandon Christopher dari BMS 2019, Livia Fillias Tanira dari BMS 2019, Christopher Owen Candlerson dari BMS 2019, Jonathan Timothy Oei dari BMS 2021, dan Samuel Wong dari ASD 2021) telah membuat suatu inovasi untuk mengatasi masalah diabetes, yaitu dengan menciptakan nasi antidiabetik yang level glycemic index-nya lebih rendah sehingga risiko diabetes berkurang. Cara melakukannya adalah dengan menerapkan rekayasa genetika. Gen PAL dari tanaman rosemary dimasukkan ke padi. Dimasukkannya gen PAL ini akan meningkatkan produksi asam rosmarinat pada tanaman padi. Asam rosmarinat adalah senyawa yang berperan sebagai inhibitor (penghambat) dalam sintesis pati. Dengan demikian, dengan meningkatnya produksi asam rosmarinat, kadar glukosa yang diproduksi dalam tanaman padi akan berkurang (secara khusus pada bagian endospermanya). Ini membuat nasi putih yang nantinya dihasilkan mengandung lebih sedikit glukosa sehingga lebih sehat untuk dikonsumsi secara rutin. Beras Padiros merupakan suatu inovasi yang sangat baik karena memungkinkan seseorang untuk tetap menikmati kelezatan tekstur dan rasa dari nasi putih tanpa perlu memikirkan risiko terkena diabetes. Oleh sebab itu, jika inovasi ini terus dikembangkan pada masa depan, kasus diabetes di Indonesia dapat dengan signifikan ditekan. Biarlah inovasi dari mahasiswa-mahasiswa CIT ini dapat membawa berkat bagi banyak orang. Melalui inovasinya tersebut, lima mahasiswa CIT yaitu, Brandon Christopher (Biomedical Science, 2019), Livia Fillias Tanira (Biomedical Science, 2019), Christopher Owen Candlerson (Biomedical Science, 2019), Jonathan Timothy Oei (Biomedical Science, 2021), dan Samuel Wong (Architecture and Sustainable Design, 2021), berhasil meraih medali emas dan mendapatkan penghargaan presentasi terbaik dalam ajang kompetisi BIOS2022 yang diselenggarakan oleh Inbio Indonesia. Sepanjang perlombaan, kelima mahasiswa ini diajak untuk berproses dan berkembang. Saat permulaan lomba, para peserta lomba diberikan topik-topik untuk dipilh. Tim dari CIT dengan mantap memilih topik diabetes melitus tipe II, yaitu tipe diabetes yang disebabkan oleh kurangnya efektivitas insulin dalam mengatur kadar gula darah. Dalam proses brainstorming, mahasiswa-mahasiswa CIT berpikir bahwa akan sangat baik jika pencarian masalah dari diabetes tersebut dikaitkan dengan konteks masyarakat Indonesia yang memiliki budaya mengonsumsi nasi putih. “Saat mencari inovasi untuk menangani kasus diabetes di Indonesia yang mayoritas penduduknya mengonsumsi nasi, kami mencetuskan ide beras antidiabetik,” tutur Brandon Christopher. Dia mengakui bahwa dirinya dan teman-teman seperjuangannya sama-sama dilatih untuk berpikir kritis, realistis, dan konteksrual dalam mencari solusi yang sekiranya tepat untuk menyelesaikan masalah dalam negeri. Selain mereka sendiri, para mahasiswa CIT tidak sendirian dalam lomba tersebut. Berkat Ibu Fidelia Sihombing M.Sc. (selaku salah satu dosen program studi Biomedical Science di CIT), para mahasiswa dapat memiliki arah yang lebih jelas dan jernih tentang apa yang sebenarnya ingin mereka kerjakan. Dengan keahlian beliau di dalam rekayasa genetika, beras antidiabetik bukanlah suatu hal yang mustahil diciptakan. Namun, perlombaan BIOS2022 bukanlah perlombaan yang mudah karena ada banyak tahap-tahap yang perlu dilalui. Perjuangan dimulai dengan proses pembuatan abstrak yang memutar otak para mahasiswa. “Kami semua memutar otak untuk memikirkan bagaimana caranya kami dapat memaparkan ide yang belum terlalu matang, tetapi harus disampaikan dengan jelas, padat, dan singkat,” tutur Brandon Christopher. Bersyukurnya, meskipun dengan persiapan yang agak mepet, abstrak mereka lolos tahap seleksi sehingga mereka lanjut ke tahap kedua, yaitu pembuatan video elevator pitch. Video ini berisi semacam pidato singkat yang biasanya digunakan pebisnis untuk menyampaikan produknya kepada investor dengan waktu yang sangat singkat. Tahap selanjutnya menanti. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa mereka lolos. Hanya tinggal selangkah lagi sebelum final. Brandon Christopher mengatakan, “Kami belajar bahwa usaha harus terus dilakukan sampai akhir. Jangan menyerah sampai kita telah memberikan yang terbaik. Kalahkan diri kita sendiri untuk dapat maju terus.” Dia sadar bahwa tahap ketiga merupakan tahap yang sangat sulit. Dalam tahap ini, mereka harus melakukan penelitian secara in silico, yaitu penelitian yang dilakukan dengan menggunakan komputer (berkaitan erat dengan bioinformatika. Hasil akhirnya berupa laporan penelitian dan poster ilmiah. Selama empat bulan penuh, ketekunan mereka diuji. Bioinformatika adalah salah satu bidang yang cukup baru bagi mereka sehingga berbagai metode penelitian baru perlu dipelajari bersama. Meskipun penuh tantangan dan jerih payah hingga rasanya ingin menyerah, mereka ternyata berhasil. Mereka lolos seleksi tahap ketiga. Tahap terakhir (final) sudah di depan mata mereka. Pada tahap ini, mereka perlu melakukan presentasi ilmiah selama 10 menit, lalu dilanjutkan dengan tanya jawab oleh para juri. Awalnya, presentasi mereka masih berantakan. Namun, berkat bimbingan Bapak Martin Tjahjono Ph.D. (selaku Wakil Rektor Kemahasiswaan CIT sekaligus dosen program studi Chemical and Food Processing), presentasi mereka menjadi semakin baik seiring berjalannya waktu. Brandon Christopher mengatakan, “Beliau membantu dalam mengarahkan, memeriksa, dan melatih presentasi yang akan kami bawakan.” Dengan demikian, mereka berhasil memperoleh penghargaan Best Presentation. Bersamaan dengan didapatkannya medali emas, seluruh proses perlombaan yang panjang tersebut tidaklah sia-sia. Kegigihan dari lima mahasiswa CIT yang turut andil dalam lomba ini membawa mereka menuju kemenangan. Biarlah kemenangan ini menjadi benih-benih karya yang inovatif pada masa mendatang dari mahasiswa-mahasiswa CIT.
Apr
14
Inovasi Mahasiswa CIT: Pengembangan Spray Antimikroba Berbasis Limbah Bekatul untuk Memperpanjang Umur Simpan Buah
Limbah bekatul atau sering juga disebut sebagai sekam padi adalah limbah yang dihasilkan dari penggilingan beras. Limbah ini terdiri dari kulit ari dan lapisan tipus di luar butir beras yang tidak dapat dimakan dan sulit diuraikan. Meskipun merupakan produk samping, limbah tersebut ternyata dapat dimanfaatkan menjadi spray antimikroba untuk memperpanjang umur simpan buah. Inovasi pengolahan limbah bekatul menjadi spray antimikroba tersebut merupakan inovasi yang dikembangkan oleh mahasiswi-mahasiswi Calvin Institute of Technology (CIT) program studi Chemical and Food Processing, yaitu Angellie Naomi dan Fiona Wijaya yang meraih Juara 1 dan Juara Favorit dalam kompetisi CONCEPT UNPAR. Mereka merancang inovasi tersebut berdasarkan studi literatur yang mereka lakukan, dengan tujuan untuk memperpanjang masa simpan buah. Fiona mengatakan bahwa mereka memiliki slogan “from waste to reduce waste”, maka dari itu mereka menggunakan limbah bekatul untuk mengurangi sampah buah. Keunggulan inovasi tersebut terletak pada penggunaan bahan baku yang berasal dari limbah pertanian yang umumnya tidak dimanfaatkan. Di Indonesia sendiri menurut Bappenas tahun 2021, sampah buah per tahunnya mencapai 8,6 juta ton dengan penyebab utama umur simpan buah yang singkat. Kemudian, menurut Atlas Big tahun 2021, untuk limbah bekatul per tahunnya mencapai enam juta ton. Maka dari itu, inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi solusi alternatif dalam mengurangi limbah pangan dan dampaknya terhadap pencemaran lingkungan. Menurut Fiona terdapat dua aspek penting yang mereka pikirkan, yaitu aspek lingkungan dan aspek ekonomi. Inovasi produk tersebut dapat menurunkan emisi karbon yang dihasilkan dari pembusukan buah, sekaligus berperan dalam meningkatkan ekonomi dimana semakin sedikit buah yang busuk pada saat distribusi, maka semakin banyak buah yang dapat dijual. Meskipun bekatul memiliki senyawa aktif polifenol yang dapat membunuh mikroba, penggunaannya terhadap buah sebagai spray antimikroba tetap aman dikonsumsi karena konsentrasi senyawa tersebut kecil sehingga tidak berbahaya bagi manusia. Selain itu, spray antimikroba yang dihasilkan juga berbasis air dan tidak berbau. Dengan mengikuti lomba tersebut, mereka menyatakan bahwa banyak hal berharga yang dipelajari, baik itu dari sisi pengetahuan yang didapat maupun pengalaman. Mengikuti perlombaan membuat mereka memiliki pengetahuan yang lebih luas mengenai permasalahan yang ada dalam masyarakat, dalam hal ini sampah buah yang dihasilkan, yang kemudian mendorong mereka untuk memikirkan solusi yang tepat terhadap permasalahan tersebut. Lebih dari pada itu, dengan inovasi yang mereka tawarkan mereka dapat menjadi shalom bagi orang lain. Menurut salah satu anggota pemenang lomba tersebut, Angellie, manusia hidup di dunia ini bukan hanya untuk memanfaatkan alam tetapi harus juga menjaganya, sehingga melalui inovasi yang dikembangkan diharapkan dapat menjadi berkat bagi orang lain. Mereka menyatakan bahwa pembelajaran yang diterima di kelas juga sangat membantu, terutama untuk mata kuliah yang termasuk dalam kurikulum Reformed Liberal Arts (RLAC) dapat mereka integrasikan dalam lomba, baik dalam hal teknik presentasi maupun aspek ekonomi. CIT memberikan dukungan secara penuh terhadap mahasiswa yang mengikuti suatu perlombaan. Terdapat dosen-dosen yang terus mendorong setiap mahasiswa untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang ada, karena pembelajaran tidak hanya diperoleh secara internal melalui perkuliahan, melainkan dapat juga diperoleh dari luar, salah satunya dengan mengikuti perlombaan. Selain itu, terdapat dosen yang berperan untuk membimbing setiap mahasiswa yang mengikuti perlombaan. Fiona mengatakan bahwa bimbingan yang diberikan oleh dosen pembimbing bersifat progresif, dimana dosen dengan sabar mengarahkan mahasiswa untuk memikirkan solusi yang tepat terhadap permasalahan yang diangkat. Kemudian, dalam proses pembelajarannya terdapat kritik dan saran yang juga membangun. Hal yang paling utama, yaitu pola pikir mahasiswa juga dibentuk agar dapat melihat bahwa yang terpenting dari suatu perlombaan bukan persoalan menang atau kalahnya, melainkan proses pembelajaran yang diperoleh sehingga suatu kemenangan merupakan sebuah bonus.
2022 (19)
Nov
11
Pembuatan Roti
Penulis: Pilandari Lembono, M.Sc. Bagaimana cara membuat roti? Apakah kalian tahu bahwa roti yang banyak dikonsumsi sekarang dibuat dengan cara fermentasi? Kapan awal mulanya roti dibuat dengan cara fermentasi?
Agu
9
Teknologi Pengolahan Air Laut Menjadi Air Minum
Penulis: Maria Anindita Nauli, M.Sc. Air adalah salah satu kebutuhan esensial bagi kehidupan manusia, khususnya air minum. Manusia dewasa memerlukan air minum sebanyak minimal 2 L setiap harinya. Bagi penduduk di kota besar di Indonesia, air minum mungkin bukan menjadi suatu komoditas yang sulit dicari. Akan tetapi, bagi penduduk yang tinggal di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (atau sering disebut sebagai 3T) air minum merupakan barang yang langka. Faktanya, sebagian dari daerah 3T terletak di pesisir pantai, artinya dekat dengan laut. Namun, sangat disayangkan meskipun laut merupakan sumber air yang melimpah, air laut tidak dapat langsung diminum oleh manusia karena kandungan garam yang tinggi di dalamnya. Tidak dapat langsung diminum bukan berarti tidak bisa diolah lebih lanjut untuk siap diminum. Hingga saat ini, sudah terdapat beberapa teknologi pengolahan air laut menjadi air minum, tetapi masih terdapat beberapa tantangan di dalam implementasinya. Dilansir dari artikel IEEE Spectrum, terdapat paling tidak 8 teknologi pengolahan air laut menjadi air minum, yang dibagi menjadi 2 kategori, telah siap guna yaitu thermal desalination dan reverse osmosis, dan masih di dalam tahap penelitian yaitu capacitive deionization, better membrane, spin cycle, forward osmosis, osmotic power, dan microbial fuel cell. Dua teknologi yang paling umum diterapkan yaitu thermal desalination dan reverse osmosis, pada dasarnya merupakan teknologi yang memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk memisahkan air dengan garam. Thermal desalination melibatkan panas, di mana air laut direbus sehingga air akan menguap dan menyisakan garam. Air yang telah menjadi uap kemudian dikumpulkan kembali lewat proses kondensasi. Reverse osmosis melibatkan material yang disebut dengan membran. Air laut dipaksa untuk melewati sebuah membran semipermeable yang memisahkan air dengan garam. Masing-masing teknologi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Thermal desalination merupakan proses yang memerlukan banyak energi. Reverse osmosis bergantung pada material membran yang memiliki harga dan penanganan yang cukup mahal. Sebuah teknologi seharusnya membawa shalom bagi masyarakat. Jika sebuah teknologi membawa dampak positif bagi suatu tempat belum membawa dampak yang sama untuk tempat lainnya. Banyak faktor yang mempengaruhi dampak teknologi terhadap masyarakat setempat. Hal ini bergantung pada konteks masing-masing daerah. Jika sebuah teknologi pengolahan air laut menjadi air minum hendak diimplementasikan untuk membantu masyarakat di daerah 3T, maka kondisi masyarakat tersebut perlu untuk diperhatikan. Misalnya, apakah masyarakat tersebut sudah melek teknologi, solusi apa yang sesuai dengan kondisi mereka, bagaimana kondisi infrastruktur daerah tersebut, dan sebagainya. Dalam rangka perlombaan yang diadakan oleh Program Studi Teknik Kimia Universitas Lampung yang mengusung tema teknologi Pengolahan Air Laut Menjadi Air Minum, mahasiswa dan dosen program studi CFP bersama dengan program studi IEE memikirkan sebuah teknologi yang sesuai diimplementasikan untuk masyarakat daerah 3T. Solusi yang diajukan adalah kombinasi antara thermal desalination dan reverse osmosis berskala kecil. Air laut diumpankan ke alat pengolahan air. Di tahap pertama, air laut dipanaskan dan didinginkan sehingga garam mengendap. Air yang telah didinginkan diharapkan memiliki kadar garam lebih rendah, kemudian diumpankan ke dalam alat reverse osmosis skala rumah tangga. Desain yang diajukan masih di dalam tahap awal yaitu desain konseptual yang telah dilengkapi dengan prototipe. Untuk dapat memastikan alat ini dapat diimplementasikan, perlu dilakukan penelitian dan uji coba lebih lanjut terhadap konsep dan prototipe yang telah dirancang. Beberapa hal yang perlu untuk diperiksa antara lain efektivitas proses thermal desalination dan reverse osmosis, komposisi produk pada setiap keluaran tahap, baik itu setelah tahap thermal desalination dan reverse osmosis, dan efisiensi energi yang digunakan. Harapannya, teknologi ini dapat diwujudkan dan diimplementasikan sehingga sungguh-sungguh bermanfaat bagi masyarakat daerah 3T yang masih kesulitan memperoleh air minum. Referensi: https://spectrum.ieee.org/eight-technologies-for-drinkable-seawater
Jul
22
Mengapa Toko yang Mirip, Lokasinya Berdekatan?
Penulis: Hendrik S. Sugiarto, B.Sc., Ph.D. Gambar di atas adalah fenomena umum yang sering ditemukan di daerah manapun. Di Indonesia, kita sering menjumpai indomaret yang bersebelahan atau berseberangan dengan alfamart. Selain itu, kita juga sering menjumpai berbagai macam bentuk perdagangan lain (misalnya: pom bensin, kedai kopi, toko emas, toko pakaian, toko elektronik, dll) yang berdekatan dengan pedagang serupa. Fenomena ini tidak hanya ditemukan di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Pada artikel ini, kita akan membahas suatu analisis terkenal yang berusaha menjelaskan fenomena ini, bernama Hotelling’s law. Harold Hotelling merupakan seorang ahli matematika dan ekonomi ternama pada abad ke 20. Untuk menjelaskan kasus ini, ia pernah merancang sebuah pemodelan untuk menyelidiki penempatan toko dan harga dalam rangka memaksimalkan profit masing-masing. Hotelling’s law juga merupakan suatu argumen klasik yang berhasil mendemonstrasikan bahwa permodelan konseptual maupun komputasi dapat sangat berguna untuk menjelaskan maupun memprediksi berbagai fenomena sosial. Di dalam model ini, beberapa toko berusaha untuk memaksimalkan profit mereka dengan berpindah tempat dan merubah harga. Setiap konsumen akan memilih toko berdasarkan jarak mereka dari toko dan harga yang ditawarkan. Pemodelan ini mengasumsikan bahwa setiap konsumen menjumlahkan jarak dan harga dari setiap toko, lalu mereka pergi ke toko yang total biayanya paling rendah. Selain itu, masing-masing toko akan berpindah di sepanjang jalan untuk mendapatkan market share yang lebih besar. Jika tidak aktivitas ini tidak menguntungkan, maka ia tidak akan berpindah. Lalu setiap toko akan mencoba apakah bisa memperoleh profit lebih besar dengan menaikan atau menurunkan harga. Jika aktivitas ini tidak menguntungkan, ia tidak akan merubah harga. Setiap keputusan diambil secara independen tanpa mengetahui strategi kompetitor. Untuk menjelaskan model ini secara lebih intuitif, kita akan mencoba menggunakan sebuah simulasi. Misalkan terdapat 2 penjual es krim yang terletak di sebuah jalan yang panjang di tengah terik matahari. Mereka menjual produk yang sama persis hanya berbeda merk (es biru dan es hijau). Awalnya mereka terletak berjauhan dan dibanjiri oleh pelanggan masing-masing yang sedang kepanasan dan mencari es krim terdekat. Konfigurasi ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Dimana sumbu y menunjukan posisi baik setiap konsumen maupun penjual di sepanjang jalan tersebut. Sumbu x menunjukan perubahan lokasi pada setiap iterasi. Lokasi penjual es biru direpresentasikan oleh lingkaran berwarna biru dan penjual es hijau direpresentasikan oleh lingkaran berwarna hijau. Warna pada jalan adalah market share untuk masing-masing penjual. Konsumen yang berlokasi di sepanjang jalan berwarna biru akan bergerak menuju penjual es biru (market share es biru). Sedangkan konsumen yang berlokasi di sepanjang jalan berwarna hijau akan bergerak menuju penjual es hijau (market share es hijau). Simulasi berbasis agen seperti ini dapat dengan mudah diimplementasikan dengan menggunakan program NetLogo. Pada iterasi pertama, penjual es hijau akan mulai mencoba berhitung, “kalau saja aku bergerak sedikit mendekati penjual es biru, mungkin beberapa konsumen yang pergi ke penjual es biru akan berpindah kemari”. Lalu ia mulai berpindah lokasi dan bergerak sedikit mendekati penjual es biru. Mengetahui hal ini, masing-masing pelanggan di sepanjang jalan akan menghitung ulang harga dan jarak yang harus dibayar, lalu memilih penjual es yang paling menguntungkan. Sehingga dengan melakukan perpindahan ini, penjual es hijau akan mendapatkan sedikit tambahan pelanggan yang sebelumnya membeli es biru. Penjual es biru yang menyadari profitnya turun karena beberapa pelanggannya berpindah setia, akan mulai mencari cara untuk mendapatkan pelanggannya kembali. Ia bisa menurunkan harga, atau berpindah posisi mendekati penjual es hijau. Menurunkan harga mungkin efektif secara sementara, tapi harga tidak mungkin diturunkan terus-terusan. Salah satu alternatif strategi terbaik memang adalah terus bergerak mendekat. Sehingga pada iterasi berikut-berikutnya, kedua penjual ini akan terus berpindah dan tanpa mereka sadari kedua posisi mereka sudah sangatlah dekat dan berada di tengah-tengah jalan tersebut. Simulasi komputasi sederhana ini menunjukan bahwa memang gerakan perpindahan alami antara 2 toko yang mirip pada akhirnya akan menyebabkan lokasi mereka berdekatan. Simulasi ini mengasumsikan baik penjual maupun pembeli mudah berpindah tempat. Namun pada kasus di mana biaya pemindahan toko terlalu mahal, maka salah satu strategi yang paling masuk akal adalah dengan menempatkan toko disebelah toko kompetitor secara langsung. Melalui memilih lokasi yang dekat dengan kompetitor, mereka bisa memaksimalkan market share yang terletak pada area tersebut. Alasan yang sama inilah yang menyebabkan mengapa indomaret sering memilih lokasi yang letaknya berdekatan dengan Alfamart.
Mei
21
Fermentasi Teh Menghasilkan Kombucha, Minuman Kaya Antioksidan
Penulis: Lius Daniel, Ph.D Fermentasi merupakan proses perubahan (konversi) komponen dalam suatu bahan pangan melalui aktivitas enzimatik atau mikroorganisme. Pada fermentasi, terjadi pembentukan senyawa-senyawa seperti asam organik dan alkohol yang dapat bermanfaat sebagai pengawet, antioksidan, maupun penambah rasa [1]. Awalnya, fermentasi digunakan untuk mengawetkan bahan pangan makanan karena asam organik dan alkohol yang terbentuk mampu membunuh mikroorganisme asing. Namun, dewasa ini fermentasi banyak digunakan untuk menghasilkan produk pangan dengan cita rasa yang unik dan memiliki manfaat kesehatan. Tempe, tapai, wine, yoghurt adalah beberapa produk fermentasi yang sudah dikonsumsi secara luas. Kombucha adalah salah satu produk fermentasi yang diperoleh dari air seduhan teh yang difermentasi oleh simbiosis kultur bakteri dan khamir atau yang dikenal sebagai SCOBY. Bakteri yang terdapat dalam kultur ini didominasi oleh bakteri asam laktat seperti Acetobacter xylinum, Acetobacter xylinoides, Bacterium gluconicum, sedangkan Schizosaccharomyces pombe, Saccharomycodes ludwigii, dan Saccharomyces cerevisiae adalah beberapa jenis khamir yang ditemukan dalam SCOBY [2]. Kombucha pertama kali dikenal sejak 220 SM karena khasiat kesehatannya di Manchuria [3]. Produk fermentasi teh ini kemudian menjadi popular di Rusia dan Eropa timur. Fermentasi oleh kultur kombucha menghasilkan dua fasa, yaitu (i) bagian lapisan selulosa pada permukaan minuman yakni kultur (SCOBY) dan (ii) cairan teh dengan rasa manis asam yang khas, yaitu kombucha. Selama proses fermentasi, terjadi perubahan gula menjadi senyawa-senyawa asam, vitamin B kompleks, vitamin C, asam folat dan alkohol, sehingga kombucha memiliki rasa asam dan aroma alkohol. Senyawa-senyawa yang terbentuk selama fermentasi juga memiliki aktivitas antioksidan, sehingga menjadikan kombucha sebagai salah satu minuman fungsional yang memiliki manfaat bagi kesehatan. Fermentasi kombucha merupakan salah satu modul Laboratorium Teknologi Kimia II Tahun Ajaran 2021/2022 yang dilakukan oleh mahasiswa program studi Chemical and Food Processing. Pada praktikum ini, kombucha dibuat dari fermentasi berbagai jenis teh seperti teh hitam, hijau, oolong, dan teh putih. Selain jenis teh, variabel lain seperti jumlah cairan inang (mother tea), konsentrasi gula, dan penambahan perisa juga divariasikan untuk mengevaluasi pengaruh variabel-variabel tersebut terhadap produk kombucha yang dihasilkan. Kombucha hasil praktikum juga diuji dan dibandingkan dengan kombucha komersial untuk mendapatkan standar parameter kombucha yang diterima dan disukai pasar. Beberapa parameter yang diuji adalah pH, total asam tertitrasi, kandungan gula, dan uji organoleptik rasa dari sampel kombucha yang diambil setiap 2 hari selama 7 hari pengamatan. Melalui praktikum pembuatan kombucha ini, mahasiswa dilatih untuk membuat kombucha secara mandiri dan menentukan variabel-variabel yang penting dalam menghasilkan kombucha yang dapat diterima oleh pasar. Dengan inokulasi SCOBY berukuran setengah lingkaran dengan diameter 10 cm dan tebal 1 cm, pH kombucha terus mengalami penurunan seiring fermentasi mulai dari pH pada kisaran 3,5 hingga 2,5 setelah 7 hari (lihat gambar di bawah). Sebaliknya, total asam tertitrasi meningkat dari ~10 mM menjadi ~50-60 mM setelah 7 hari. Nilai ini cukup dekat dengan kombucha komersial yang memiliki pH 2.6. Sementara itu, kadar gula pada kombucha komersial didapati lebih rendah hingga setengah dari kombucha yang dibuat dengan kosentrasi gula ~13 gram/mL larutan. Temuan ini menunjukkan bahwa kosentrasi gula yang optimum adalah sebesar ~6-7 gram gula pasir (sukrosa)/mL larutan. Praktikum ini ditutup dengan kesimpulan dari hasil organoleptik yang membandingkan kombucha dari berbagai jenis teh dengan dan tanpa tambahan perisa. Berdasarkan uji organoleptik oleh 10 panelis, kombucha dari teh oolong dengan kadar gula rendah merupakan kombucha yang paling digemari mengungguli teh hijau, hitam, putih bahkan produk komersial kombucha. Referensi [1] M. L. Marco, D. Heeney, S. Binda, C. J. Cifelli, P. D. Cotter, B. Foligné, M. Gänzle, R. Kort, G. Pasin, A. Pihlanto, et al., Curr. Opin. Biotechnol. 2017, 44, 94–102. [2] G. Sreeramulu, Y. Zhu, W. Knol, J. Agric. Food Chem. 2000, 48, 2589–2594. [3] C. J. Greenwalt, K. H. Steinkraus, R. A. Ledford, J. Food Prot. 2000, 63, 976–981.
Apr
8
YOUTH FINANCIAL LITERACY ONLINE SEMINAR oleh BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA (BEM) CIT
Anak muda zaman ini mudah tergiur oleh investasi yang begitu menjanjikan, tetapi mungkin juga mendatangkan malapetaka. Berangkat dari maraknya jenis investasi baru yang terus bermunculan seiring berkembangnya teknologi, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Calvin Institute of Technology (CIT) menyelenggarakan seminar online dengan mengangkat tema “Youth Financial Literacy” untuk meningkatkan literasi dalam bidang keuangan pada generasi muda zaman ini. Seminar ini diadakan secara daring dan dibagi menjadi empat sesi dengan topik yang berbeda-beda. Pada Sabtu, 26 Maret 2022, Pdt. Ivan Kristiono, M.Div., M.Hum. membuka sesi pertama dengan judul “Christians and Investments” untuk memberikan gambaran mengenai perspektif Firman Tuhan terhadap investasi. Lebih lanjut, Bapak Gamaliel Waney, S.T., MLA memaparkan cara mengelola pemasukan, pengeluaran, dan investasi pribadi yang benar dalam sesi kedua yang berjudul “Personal Finance and the Glory of God”. Sesi ketiga dan keempat yang dilangsungkan pada Sabtu, 2 April 2022 membahas lebih praktis mengenai dua jenis instrumen investasi yang sedang ramai dilirik oleh kaum muda, yaitu pasar saham dan cryptocurrency. Ibu Suryani Salim, S.E. menjelaskan tentang apa itu saham, bursa saham, dan analisa yang dapat digunakan untuk memilih saham sebagai salah satu instrumen investasi. Dan pada sesi terakhir, Bapak Ezra Y. S. Tjung, Ph.D., P.E. memberikan pengenalan akan cryptocurrency yang sedang menjadi tren, serta baik dan bahayanya dalam dunia investasi. Seluruh sesi “Youth Financial Literacy” diikuti oleh 840 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, orang tua, dan pekerja dari seluruh pelosok Nusantara hingga ke beberapa kota di luar negeri seperti Tokyo dan Melbourne. Rangkaian seminar ini diharapkan dapat memperlengkapi masyarakat Indonesia, khususnya anak muda dalam mencermati instrumen investasi dan mengelola keuangan sebagai seorang Kristen.
Feb
12
Perbaikan Mikro Yang Dirayakan Global: Gebrakan Dalam Traveling Salesman Problem Pada Awal Dekade Kedua Abad 21
Penulis : Yozef Tjandra, S.Si, M.Sc. Masalah Traveling Salesperson Problem (TSP) merupakan salah satu masalah klasik yang akan selalu muncul dalam hampir setiap buku teks ilmu komputer di setiap generasi. Masalah TSP begitu sederhana sehingga setiap murid sekolah menengahpun akan sanggup memahami duduk perkaranya. Namun di sisi lain, masalah ini juga telah menyisakan misteri tak terselesaikan kepada para pakar terbaik dunia di sepanjang sejarah ilmu komputer. TSP telah memantik berbagai kelompok peneliti ilmu komputer untuk berlomba-lomba mencari penyelesaiannya. Pertama-tama, memang masalah ini mewakilli tantangan nyata muncul di berbagai bidang kehidupan, mulai dari perencanaan perjalanan wisata hingga desain optimal microchip. Namun, lebih lanjut lagi penyelesaian masalah ini akan mampu memberikan hasil dalam salah satu pencarian terbesar dalam ilmu komputer, yaitu masalah P vs NP, yang pemecahnya dijanjikan hadiah sebesar satu juta dolar oleh The Clay Mathematics Institute! Tidak disangka, dalam awal dekade kedua dari abad ke-21 ini kita dikejutkan oleh munculnya terobosan penting mengenai perkembangan penyelesaian masalah TSP yang ditemukan oleh Nathan Klein, seorang mahasiswa doktoral di University of Washington, Amerika Serikat. Hasil tersebut dimuat oleh suatu makalah yang diterbitkan secara preprint pada Juli 2020 yang kemudian dengan cepat membangkitkan berbagai respon semarak dari komunitas ilmuwan komputer. Sebagaimana dikutip oleh majalah sains Quanta, Prof. David P. Williamson, seorang pakar ilmu teori kompleksitas dari Cornell University yang telah menekuni masalah TSP sejak 1980an, mengungkapkan bahwa ini merupakan prestasi terbesar yang selama ini diharapkan dapat ia hasilkan di sepanjang karir akademiknya. Tanpa diduga, prestasi ini justru dihasilkan oleh seorang mahasiswa! Gambar 1 Nathan Klein (kiri) dengan kedua pembimbing doktoralnya Anna Karlin (tengah) dan Shayan Oveis Gharan (kanan). Sumber: https://www.quantamagazine.org/computer-scientists-break-traveling-salesperson-record-20201008/ Sebetulnya penyelesaian yang diberikan Klein tidak benar-benar telah menyelesaikan masalah TSP secara tuntas, melainkan hanya memberikan sebuah algoritma aproksimasi saja. TSP telah diketahui berada dalam kelas NP-Complete, yang berarti bahwa hingga saat ini belum ditemukan suatu algoritma dengan efisiensi polinomial yang dapat menyelesaikan masalah tersebut (dan jika algoritma demikian ditemukan maka masalah P vs NP juga ikut terselesaikan!) Dalam makalahnya yang memiliki tebal 89 halaman tersebut, Klein sebetulnya hanya memberikan algoritma untuk mencari perkiraan solusi yang secara absolut memang bukan nilai yang paling optimal. Lebih lanjut lagi, algoritma Klein juga tidak sepenuhnya berjalan untuk setiap kasus yang ada, namun hanya pada suatu subkelas permasalahan yang direstriksi untuk memenuhi suatu asumsi ideal tertentu, yang disebut sebagai masalah Metric TSP. Yang lebih mengherankan lagi, rupanya hasil menghebohkan yang dipublikasikan Klein bersama kedua pembimbing doktoralnya, Anna Karlin dan Shayan Gharan ini sebetulnya hanya memiliki peningkatan sebesar kurang lebih 10-34 persen saja dari hasil penelitian yang sudah ada sebelumnya! Untuk memberikan gambaran, seorang kuintilioner adalah orang kaya yang memiliki harta sebesar satu juta trilyun rupiah. Anggaplah penyelesaian TSP pada penelitian sebelumnya membutuhkan dana sebesar harta kekayaan dari satu juta trilyun orang kuintilioner yang dikumpukan. Sementara itu, algoritma Klein sebetulnya hanya menghemat 1 rupiah saja di antara astronomi rupiah biaya yang sudah dihabiskan tersebut. Laju peningkatan ini luar biasa kecil, bahkan hampir dapat kita abaikan sebetulnya! Lantas mengapa pencapaian ini menjadi begitu berharga dan mendapatkan perhatian besar? Untuk dapat melihat signifikansi besar atas pencapaian mikroskopis ini, mari kita menilik lebih detail mengenai permasalahan ini. Pertanyaan yang diajukan oleh masalah TSP, sebagaimana terjelaskan oleh judul masalahnya sendiri, terinspirasi dari diskusi mengenai bagaimana merencanakan perjalanan seorang salesman yang perlu mengunjungi sekian kota yang menjadi target penjualannya. Untuk memberikan konteks, anggaplah salesman ini perlu mengunjungi 34 provinsi di Indonesia dalam sebuah putaran yang bermula dan berakhir di DKI Jakarta. Tentu kita perlu memikirkan agar perjalanan yang direncanakan memiliki rute yang sependek mungkin untuk menekan biaya operasional. Permasalahan TSP menyelidiki bagaimana cara mencari rute yang termurah di antara semua rute keliling Indonesia yang mungkin. Apakah ini adalah masalah yang mudah? Ya, mungkin terdengar mudah karena isu ini juga muncul dalam masalah sehari-hari yang tidak jarang kita hadapi pula bukan? Namun demikian, penyelidikan yang teliti akan mengungkap bahwa masalah ini menyimpan ruang solusi yang membesar secara faktorial untuk diselidiki setiap kemungkinannya. Sebagai gambaran, untuk memastikan optimalitas solusi rute keliling Indonesia, sebetulnya kita perlu menyelidiki seluruh kemungkinan rute yang ada, yaitu sebanyak rute. Jika seluruh populasi dunia diminta untuk memeriksa suatu rute dengan kecepatan pemeriksaan 1 detik per rute, maka sejuta trilyun tahun pun tidak cukup untuk menyelesaikan tugas ini! Solusi optimal TSP berukuran terbesar yang berhasil diselesaikan sepanjang sejarah dihasilkan dari proyek PLA85900. Dalam proyek ini, TSP memberikan rute optimal untuk pemotongan 85.900 titik terminal dengan menggunakan LaserLogic untuk suatu chip komputer di AT&T Lab. Penyelesaian masalah ini dikerjakan oleh suatu fasilitas cluster komputasi di Georgia Institute of Technology yang dijalankan sejak Februari 2005 hingga April 2006 dengan total beban komputasi setara 136 tahun CPU. Gambar 2 Visual Laser Logic pada proyek PLA85900 (sumber: http://www.math.uwaterloo.ca/tsp/pla85900/tours/pla8maze.gif) Walaupun penyelesaian eksak atas TSP terlihat begitu jauh dari genggaman tangan kemanusiaan, sebetulnya sejak tahun 1976 kita telah memilliki suatu algoritma polinomial untuk menghitung solusi aproksimasi yang cukup mumpuni untuk digunakan hasilnya dalam praktek masalah nyata. Christofides dan Serdyukov secara independen menemukan algoritma dengan efisiensi kubik yang menjamin bahwa besar rute pengelilingan hasil aproksimasi tidak lebih buruk dari 150% solusi yang optimal. Tentu saja hal ini merupakan hasil yang signifikan pada zaman tersebut, karena secara pragmatis hasil ini telah membuka jalan untuk memberikan solusi yang ‘lumayan’ bagi berbagai permasalahan yang secara natural muncul sebagai TSP. Sejak dipublikasikannya algoritma Christofides-Serdyukov, para ilmuwan komputer terus berupaya untuk meningkatkan akurasi solusi algoritma aproksimasi dengan menekan angka 150% di atas optimal agar menjadi makin dekat menuju 100% optimal. Namun demikian, sayangnya upaya ini tidak pernah membuahkan hasil yang secara esensial melampaui apa yang Christofides dan Serdyukov telah pasang sebagai standar yang tak terkalahkan selama beberapa dekade. Memang terdapat banyak grup peneliti yang dapat memberikan tingkat aproksimasi yang lebih baik, namun hal tersebut hanya berlaku untuk subkelas permasalahan yang terlalu spesifik seperti Euclidean TSP, planar TSP, dan low-genus metric TSP yang terselesaikan dalam jangka waktu 1990an hingga 2000an. Algoritma Christofides-Serdyukov bersifat heuristik dan cukup dikenal sebagai algoritma klasik yang memiliki gagasan inti yang relatif sederhana. Untuk memulai pencarian sirkuit ke setiap kota, strategi yang dilakukan algoritma ini adalah mencari terlebih dahulu pohon yang merentang seluruh kota yang ada dengan bobot terkecil. Dari struktur pohon tersebut, jalan demi jalan ditambahkan hingga diperoleh sirkuit yang utuh yang mengelilingi setiap kota. Dengan makin populernya teknik randomisasi dalam algoritma pada abad ke 21 ini, banyak ilmuwan komputer percaya bahwa teknik inipun akan dengan natural mampu mengoptimalkan strategi Christofides dan Serdyukov. Ola Svensson dari Swiss Federal Institute of Technology di Laussane mengungkapkan bahwa secara intuisi atas hal ini begitu sederhana dan meyakinkan, namun pembuktian formalnya begitu sulit untuk ditaklukkan. Hal senada ini pula yang diperjuangkan oleh Klein, dan kedua pembimbing doktoralnya. Gharan, salah satu pembimbing Klein secara spesifik merupakan pakar dalam suatu disiplin ilmu matematika yang mengamati sifat geometris dari polinomial. Sejak studi doktoralnya pada tahun 2010, Gharan begitu yakin bahwa bidang ilmu ini menjadi kunci penting untuk mengalahkan algoritma Christofides-Serdyukov. Segera setelah Gharan bertemu dengan Karlin dan Klein, mereka sepakat untuk memulai penyelidikan yang lebih mendalam pada permasalahan ini. Tanpa disangka, kolaborasi mereka akhirnya telah menuntaskan visi Gharan yang telah ia gumuli selama hampir 10 tahun. Fakta bahwa algoritma Karlin, Klein, dan Gharan berhasil memberikan aproksimasi yang secara faktual lebih baik dari algoritma Christofides-Serdyukov merupakan kenyataan yang terlalu mengejutkan untuk diterima oleh komunitas ilmu komputer. Laju peningkatan yang sebetulnya hanya mikroskopis tersebut sama sekali tidak menjadi bahan tertawaan, namun sebaliknya telah menjadi suluh yang menerangi jalan para peneliti untuk makin mengobarkan energi ke arah perkembangan TSP yang lebih signifikan. Karlin, Klein dan Gharan sendiri percaya bahwa algoritma mereka seharusnya dapat menghasilkan 4/3-aproksimasi, yang secara signifikan lebih baik dibanding 3/2-aproksimasi yang disediakan oleh Christofides-Serdyukov. Namun demikian, keyakinan ini masih sulit untuk mereka buktikan dan dengan demikian sepatutnya hal ini membuka lebar pintu undangan bagi berbagai peneliti ilmu komputer kelas dunia untuk berkolaborasi membuktikan konjektur tersebut. Akankah gebrakan kecil yang mendunia ini mengakibatkan gelombang inovasi yang akan menuntun pada penyelesaian masalah yang lebih fenomenal lagi? Tidak ada yang tahu, namun hal ini memberikan alasan yang sangat baik untuk kita makin bertekun dalam kontribusi masalah ini. Kiranya artikel singkat ini dapat membangkitkan gairah kita dalam meneliti.
Feb
12
Kecerdasan Buatan dan Informasi Spasial
Penulis : Lucas E. Suryana, S.T., M.T. Beberapa waktu lalu masyarakat Indonesia sempat dihebohkan oleh berita kecelakaan di jalan raya yang merenggut nyawa seorang pemimpin salah satu perusahaan waralaba terbesar di Indonesia. Setelah dilakukan penyelidikan, diketahui kalau pengendara kendaraan naas tersebut tertimpa truk yang berada di sampingnya ketika ia berusaha untuk menyalip truk tersebut lewat bahu jalan tol. Menurut pakar keselamatan berkendara, menyalip kendaraan lewat bahu jalan memang tidak dibenarkan karena merupakan titik buta bagi pengendara yang berada di kanannya. Untuk mencegah kecelakaan seperti ini, perlu dilakukan tindakan mitigasi. Selah mitigasi yang dapat dilakukan adalah dengan meletakkan rambu dan lampu lalu lintas. Keberadaan rambu dan lampu lalu lintas di jalan raya dipercaya dapat memberikan ketertiban dan keamanan bagi pengguna jalan. Informasi berupa peringatan dan petunjuk jalan akan membantu pengendara untuk lebih berhati-hati pada saat berkemudi. Jika pengguna jalan was-was akan kondisi di sekitarnya, maka peluang terjadinya kecelakaan dapat diminimalkan. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk meletakkan rambu dan lampu lalu lintas pada lokasi yang tepat. Selain itu, keberadaannya juga perlu dimaintain. Informasi keberadaan benda dapat diperoleh dengan menggunakan Mobile Mapping System (MMS) yang mampu menangkap video dengan georeferensi. Dari video ini, rambu dan lampu lalu lintas ditandai satu per satu secara manual dengan menggunakan perangkat lunak khusus. Namun, prosedur manual ini memakan banyak waktu dan memerlukan ketelitian mata manusia. Untuk mempercepat proses penandaan ini, algoritme deteksi objek dengan menggunakan kecerdasan buatan dan informasi spasial dapat dimanfaatkan. Gambar 1. Kendaraan MMS Gambar 2. Proses penandaan rambu dan lampu lalu lintas secara manual Di dalam artikel ini, potensi penggunaan kecerdasan buatan untuk mengotomasi proses penandaan objek lalu lintas dengan biaya terjangkau akan ditunjukkan. Lokasi studi kasus yang akan digunakan adalah jalan yang berada di Puncak, Bogor. Data yang diperoleh selanjutnya akan ditampilkan di dalam suatu dasbor berbasis spasial. Berikut adalah outline dari proses penandaan objek: Pengambilan Data Pembuatan & Pengujian Model Dasbor spasial Kesimpulan Pengambilan Data Video dengan georeferensi diperoleh dengan menggunakan GoPro versi 7 yang diletakkan di dalam kendaraan pada saat berkendara di Puncak. GoPro versi ini memiliki kelebihan karena informasi data telemetri seperti gyroscope dan GPS dapat diekstrak untuk analisa video lebih lanjut. Jika dibandingkan dengan MMS, GoPro versi 7 ini memiliki harga jauh lebih murah. Gambar 3. GoPro versi 7 Gambar 4. Tampilan video dengan georeferensi Pembuatan dan Pengujian Model Proses pembuatan model kecerdasan buatan untuk deteksi rambu dan lampu lalu lintas dilakukan dengan menggunakan TensorFlow, pustaka bahasa pemrograman Python untuk pembelajaran mesin. Sebelum dimasukkan ke dalam model, pertama-tama video dengan georeferensi dibagi per satuan waktu menjadi kumpulan foto. Selanjutnya, foto tersebut diberikan penandaan secara manual dan dibagi menjadi data uji dan data latih. Langkah terakhir yang perlu dilakukan adalah memasukkan semua data latih untuk dilatih di dalam model Tensorflow. Setiap rambu dan lampu lalu lintas yang sudah terdeteksi dari foto selanjutnya diambil informasi lokasinya. Gambar 5. Proses penandaan foto Gambar 6. Data uji dan latih Gambar 7. Pelatihan model dengan TensorFlow Dasbor Spasial Setelah data uji dimasukkan ke dalam model, hasilnya dapat ditampilkan di dalam dasbor geospasial untuk memberikan intuisi secara lebih mendalam. Objek yang sudah terdeteksi ditampilkan dengan tiga buah pin berbeda. Pin berwarna merah, kuning dan biru secara berturut-turut menunjukkan lampu penerangan jalan, lampu lalu-lintas, dan rambu lalu-lintas. Gambar dari objek yang sudah dideteksi dapat diperoleh dengan mengarahkan kursor pada pin tertentu di dalam peta. Untuk mendapatkan informasi secara lebih baik, data tambahan seperti lokasi kecelakaan, kecepatan dan arah kendaraan dapat ditampilkan bersamaan dengan hasil deteksi objek. Gambar 8. Dasbor spasial – deteksi objek Gambar 9. Dasbor spasial – deteksi objek + data tambahan Kesimpulan Dengan menggunakan kecerdasan buatan untuk mendeteksi objek yang disertai dengan informasi spasial, maka proses penandaan pada MMS dapat diotomasi. Proses yang tadinya memakan waktu berjam-jam kini dapat dilakukan dalam waktu hitungan menit. Hal ini memberikan kepada kita suatu wawasan baru akan potensi yang dimiliki oleh kecerdasan buatan di dalam menggali informasi di dalam foto yang nilai informasinya dapat ditambah jika diberi informasi spasial.
Feb
12
Secangkir Kopi dan Teknik Kimia
Penulis : Maria Anindita Nauli, M.Sc Siapa yang tidak tahu tentang kopi? Atau mungkin pertanyaannya boleh diganti, siapa yang belum pernah minum kopi? Kopi dinikmati oleh hampir semua kalangan. Semua orang bisa minum secangkir kopi. Kopi memiliki berbagai macam jenis, dari mulai kopi instan yang mudah sekali disiapkan hingga kopi seduh yang setiap tetesannya merupakan hasil olahan barista profesional. Ada banyak cerita yang bisa dinarasikan lewat secangkir kopi. Setiap orang bahkan punya kopi kegemarannya masing-masing. Namun, selagi orang menikmati setiap tegukan kopi, tidak banyak yang tahu bahwa mereka sedang menikmati hasil akhir dari setiap proses di dalam teknik kimia. Mungkin sebagian dari kita langsung bertanya, apa hubungan secangkir kopi nikmat saya dengan sebuah jurusan yang bernama teknik kimia? Bukankah teknik kimia itu berurusan dengan hal-hal rumit terkait bahan kimia, proses kimia, dan reaksi kimia? Bagaimana mungkin secangkir kopi nikmat yang saya minum setiap hari berhubungan dengan keilmuan teknik kimia? Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya jika kita sedikit mengenal terlebih dahulu apa itu teknik kimia. Diambil dari laman salah satu asosiasi terkemuka teknik kimia dunia, IChemE (Institution of Chemical Engineers), teknik kimia didefinisikan sebagai ilmu yang belajar bagaimana cara mengubah bahan mentah menjadi produk yang berguna, yang kita temui sehari-hari, dengan cara yang aman dan dengan biaya yang hemat. Pada dasarnya, teknik kimia mempelajari tentang proses, oleh karena itu, insinyur teknik kimia sering disebut sebagai insinyur proses. Sudah terdengar lebih membumi? Sekarang sudah sedikit lebih jelas bahwa proses pembuatan kopi dapat dikategorikan juga sebagai salah satu contoh aplikasi ilmu teknik kimia, di mana langkah-langkahnya merupakan cerminan dari berbagai operasi teknik kimia. Dimulai dari biji-biji kopi, biasanya dikenal sebagai coffee berries, yang diambil dari pohon kopi, biji kopi siap diproses lebih lanjut. Biji-biji kecil ini akan melewati proses awal cukup panjang yang dibagi menjadi dua jenis, wet processing atau dry processing. Masing-masing proses memiliki metode pembersihan yang berbeda. Setelah biji kopi melewati proses ini, biasanya dikenal sebagai green beans, biji tersebut siap didistribusikan kepada pengolah kopi seluruh dunia atau bahkan langsung ke rumah kita. Biji kopi hijau (green beans) selanjutnya akan melewati minimal tiga proses berikut: pemanggangan (roasting), penggilingan (grinding), dan penyeduhan (brewing). Setiap proses memiliki keunikan masing-masing dan harus dilakukan dengan seksama demi menghasilkan secangkir kopi dengan rasa dan aroma yang nikmat. Proses Memanggang atau Roasting Kopi Dari ketiga proses yang disebutkan sebelumnya, salah satu contoh yang dapat digunakan untuk memperlihatkan kerumitan sekaligus keindahan pemrosesan kopi dan hubungannya dengan ilmu teknik kimia adalah proses memanggang atau roasting. Bagi para pecinta kopi, istilah light roast, medium roast, dan dark roast tentu saja sudah tidak asing lagi. Tiga istilah tersebut menggambarkan sejauh mana pemanggangan kopi berlangsung. Proses roasting adalah proses pemanasan yang mengubah biji kopi hijau menjadi berwarna kecoklatan dan beraroma nikmat, sehingga siap untuk digiling dan akhirnya diseduh. Melalui roasting, aroma dan rasa yang tersimpan di dalam biji kopi hijau dapat keluar. Proses roasting diawali dengan pemanasan pada temperatur tertentu. Biji kopi hijau dimasukkan ke dalam roaster yang sudah di dalam kondisi panas. Pada saat biji kopi mengalami panas tinggi, terjadi perubahan fisik dan kimia dari senyawa yang ada di dalam biji kopi. Seiring dengan pemanasan lebih lanjut, hingga mencapai temperatur hampir 200oC, tekanan uap pada biji kopi meningkat dan mengakibatkan biji kopi terbuka (atau lebih dikenal sebagai cracking). Pada saat cracking, terdengar bunyi-bunyi letupan dari dalam roaster dan aroma yang sangat sedap mulai terhirup. Peristiwa cracking mengakibatkan uap air dan gas lain keluar dan volume biji meningkat. Proses roasting dapat langsung dihentikan setelah cracking terjadi dan akan menghasilkan biji yang dinamai light roast beans. Ciri khas dari hasil panggangan jenis ini dilihat dari warnanya yang coklat muda. Jika ingin mendapatkan warna yang lebih tua atau medium roast dan dark roast beans, pemanasan bisa dilanjutkan hingga durasi tertentu, tergantung pada hasil yang diinginkan. Bukan hanya cracking (perubahan fisik) yang terjadi saat roasting, melainkan terjadi juga salah satu reaksi paling terkemuka dalam konteks pemrosesan bahan pangan, yaitu reaksi Maillard. Pada temperatur antara 150-200°C, grup karbonil (dari gula) dan grup amino (dari protein) bereaksi dan menghasilkan berbagai senyawa aroma dan rasa. Reaksi Maillard adalah reaksi kunci yang berkontribusi terhadap dihasilkannya aroma dan rasa kopi nikmat menggugah selera. Masih banyak peristiwa lain yang terjadi selama proses roasting, seperti pirolisis dan karamelisasi. Lalu apa kaitannya dengan teknik kimia? Semakin banyak fenomena-fenomena yang dapat diketahui dengan detail saat proses roasting, semakin kita dapat menghasilkan kopi dengan kualitas yang baik. Bagaimana bisa? Melalui pengamatan dan pembelajaran akan fenomena yang terjadi, seorang chemical engineers dapat melakukan berbagai perbandingan kombinasi parameter yang berbeda terhadap hasil roasting. Di dalam ilmu teknik kimia, dipelajari ilmu-ilmu dasar yang menunjang pemahaman akan proses roasting, diantaranya ilmu kimia, ilmu proses perpindahan kalor, dan ilmu teknik reaksi kimia. Intinya, ilmu teknik kimia memberikan modal yang sangat cukup untuk memahami fenomena-fenomena saat roasting dan berbagai parameter yang mempengaruhinya. Ilmu teknik kimia tidak berhenti sampai di memahami dan merekayasa prosesnya saja, tetapi bahkan mampu melanjutkan hingga ke desain proses dan alat pemrosesnya. Dari secangkir kopi, kita dapat bercerita tentang ilmu teknik kimia. Apakah kalian tertarik untuk mempelajari ilmu teknik kimia? Atau mempelajari lebih lanjut tentang pemrosesan kopi? Atau mungkin, segera pergi ke kedai kopi terdekat dan minum kopi kesukaan. Selamat menikmati! Referensi: Ristenpart, William and Kuhl, Tonya, 2017. The Design of Coffee, An Engineering Approach, 2nd Ed. Kuhl Publishing. California. USA. https://www.icheme.org/education/whynotchemeng/ https://www.ncausa.org/about-coffee/coffee-roasts-guide https://www.acs.org/content/dam/acsorg/pressroom/reactions/infographics/why-does-your-coffee-taste-and-smell-delicious.pdf
Feb
11
Bangunan Hijau untuk Indonesia Hijau
Penulis : Giska Raissa, S.T., M.U.P. Pemanasan global atau yang lebih dikenal dengan istilah global warming tanpa disadari sudah mulai dirasakan akibatnya oleh seluruh umat manusia. Mulai dari perubahan cuaca yang ekstrem, berbagai bencana alam seperti banjir dan kekeringan, sampai dengan munculnya berbagai penyakit baru di dunia (Etkin, Medalye, dan Higuchi 2012; Rossati, 2017). Tidak banyak yang menyadari bahwa pembangunan khususnya sektor bangunan menjadi kontributor terbesar dalam produksi gas emisi yang mendorong terjadinya pemanasan global (Williams, 2007). Pembangunan bukanlah hal yang dapat ditunda mengingat kebutuhan sarana dan prasarana yang terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah populasi manusia di dunia dan secara khusus di Indonesia. Oleh karena itu diperlukan pembangunan yang berkelanjutan dan juga gerakan bangunan hijau di Indonesia yang membantu mengurangi dampak pemanasan global. Artikel ini disusun dengan tujuan untuk menjelaskan pentingnya konsep keberlanjutan dan gerakan bangunan hijau dalam usaha mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Pemanasan Global, Perubahan Iklim dan Pembangunan Secara singkat pemanasan global dapat dijelaskan sebagai suatu kondisi peningkatan suhu planet bumi yang diakibatkan oleh aktivitas manusia (Rossati, 2017). Peningkatan suhu ini terjadi karena meningkatnya kadar gas karbon dioksida, gas metan dan gas polutan lainnya di atmosfer. Berbagai gas tersebut merupakan gas rumah kaca yang mengakibatkan radiasi panas matahari menjadi terperangkap di atmosfer bumi (Michaelis, 1992). Perubahan suhu permukaan bumi dengan cepat mendorong terjadinya perubahan iklim. Selain mencairnya gletser atau lapisan es di kutub utara dan selatan, perubahan iklim juga mengakibatkan berbagai bencana alam yang terjadi secara global seperti kekeringan yang ekstrem, banjir, kebakaran hutan, dan badai topan (Etkin, Medalye, dan Higuchi 2012). Perlu diketahui bahwa salah satu sumber penghasil emisi gas rumah kaca karbon dioksida terbesar di dunia adalah sektor bangunan, yaitu sebesar 39% (Ahmed, Ahmad, dan Yusup, 2020). Sebagai perbandingan, sektor transportasi yang sering dianggap sebagai sumber masalah polusi udara, berkontribusi sebesar 22% (Ahmed, Ahmad, dan Yusup, 2020). Energi tahunan yang diperlukan untuk mengoperasikan bangunan residensial, komersial dan industrial ditambah dengan energi yang digunakan untuk memproduksi material-material bangunan seperti keramik, kaca, beton, baja dan lain sebagainya, menjadikan bangunan tempat manusia melakukan berbagai aktivitas sebagai sektor pengguna energi dan penghasil emisi gas rumah kaca terbesar melampaui sektor lainnya (Bergman, 2013; Williams 2007). Selain itu perlu diketahui bahwa rata-rata bangunan memiliki umur operasional selama 50 bahkan hingga 100 tahun, dan selama itu bangunan akan terus mengonsumsi energi dan menghasilkan emisi (Williams, 2007). Menghentikan kegiatan pembangunan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca bukanlah solusi yang tepat. Bagaimanapun juga pembangunan tetap harus terus dilakukan mengingat jumlah populasi manusia yang semakin bertambah menuntut penyediaan sarana dan prasarana yang cukup untuk manusia dapat beraktivitas dan hidup dengan sejahtera. Disinilah peran agen pembangunan salah satunya arsitek untuk mendorong pembangunan yang lebih ramah lingkungan. Kenyataannya, arsitek tahu bahwa bangunan sebenarnya dapat didesain untuk dapat beroperasi dengan kurang dari setengah energi rata-rata yang digunakan bangunan selama ini melalui proses perancangan yang tepat (William, 2007). Desain memiliki pengaruh yang sangat kuat untuk membentuk bangunan bahkan pola hidup manusia yang menggunakannya (Bergman, 2013). Konsep Keberlanjutan dalam Sektor Bangunan dan Konstruksi Secara umum konsep keberlanjutan memiliki pengertian pemenuhan kebutuhan manusia hari ini tanpa merugikan generasi masa depan untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka (UN World Commission on Environment and Development). Secara khusus konsep keberlanjutan dalam sektor bangunan dan konstruksi menyatakan proses desain, konstruksi dan pengoperasian yang menggunakan sumber daya dan energi dengan efisien serta mampu mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan (Bergman, 2013). Bangunan yang berkelanjutan justru akan memberikan kontribusi yang positif pada lingkungan dan terutama meningkatkan kualitas hidup manusia yang menggunakannya. Pada akhirnya konsep keberlanjutan pada sektor bangunan dan konstruksi akan memberikan solusi untuk menyelesaikan tantangan pada tiga pilar keberlanjutan yaitu tantangan ekonomi, sosial dan lingkungan. Di saat yang bersamaan konsep keberlanjutan menekankan pentingnya tahap awal pembangunan yaitu proses desain. Pada tahap desain seluruh konsep keberlanjutan dapat diintegrasikan sebagai solusi rancangan. Selain itu, proses desain yang komprehensif ini menuntut kerja sama interdisiplin yang kuat. Williams (2007) mengatakan bahwa desain bangunan dan konstruksi yang mengintegrasikan konsep keberlanjutan akan mempertimbangkan tiga elemen penting dalam tahap awal proses merancang, antara lain connectivity (konektivitas), indigenous (asli atau kearifan lokal), dan long life-loose fit (panjang umur-fleksibel). Connectivity menyatakan bagaimana hasil rancangan dapat memperkuat hubungan antara bangunan dengan konteks, lingkungan dan komunitas. Indigenous menekankan pada hasil rancangan yang merespon keaslian dan kearifan lokal yang sudah ada di dalam tapak selama ratusan tahun, termasuk di dalamnya pemanfaatan energi yang sudah tersedia pada tapak. Sedangkan elemen long life-loose fit menyatakan bagaimana bangunan dapat menjadi bangunan yang tanggap dan bertahan dalam waktu yang lama dengan berbagai dinamika yang terjadi seperti perubahan penghuni, aktivitas di dalam bangunan, dan koteks. Seluruh elemen dari konsep keberlanjutan tersebut kemudian diwujudkan dalam satu konsep bangunan hijau. Bangunan Hijau di Indonesia Indonesia yang dikenal sebagai paru-paru dunia karena hutan hujan tropisnya, justru tidak luput dari persoalan yang diakibatkan oleh pemanasan global. Berbagai bencana alam seperti banjir, kekeringan, kebakaran hutan, badai topan dan tanah longsor, tanpa disadari merupakan gejala dari perubahan iklim yang sebenarnya diakibatkan oleh kegiatan pembangunan dan aktivitas manusia yang menghasilkan karbon dioksida dan berbagai gas emisi lainnya. Bahkan sampai saat ini aktivitas deforestasi yang masih terus terjadi telah mengubah hutan hujan tropis di Indonesia menjadi ladang dan juga concrete jungle (hutan beton). Solusi untuk menghentikan kegiatan pembangunan dan aktivitas manusia tentu tidak dapat dilakukan begitu saja. Perlu diketahui bahwa pertambahan jumlah penduduk di Indonesia dalam satu dekade terakhir (2010-2020) mencapai 1,25% setiap tahunnya, dimana pada tahun 2010 jumlah populasi manusia di Indonesia adalah 241,8 juta jiwa dan pada tahun 2020 telah mencapai 270,2 juta jiwa (BPS, 2021). PBB bahkan memperkirakan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2050 akan mencapai 300 juta jiwa. Situasi tersebut memberikan implikasi perlunya percepatan pembangunan untuk mengakomodasi seluruh aktivitas kehidupan masyarakat Indonesia saat ini dan di masa yang akan datang. Sayangnya peningkatan tersebut tidak akan disertai dengan peningkatan luasan daratan yang sangat terbatas dan sumber daya alam yang tidak terbarukan. Mengingat sektor bangunan dan konstruksi menjadi salah satu pengguna sumber energi dan kontributor terbesar dalam produksi gas rumah kaca, diperlukan suatu konsep yang mampu mengurangi bahkan menghilangkan dampak buruk dari sektor bangunan dan konstruksi pada lingkungan. Di saat yang bersamaan justru diharapkan dapat memberikan kontribusi yang baik bagi perbaikan kualitas lingkungan dan hidup manusia. Penerapan konsep bangunan hijau adalah upaya yang dapat dilakukan untuk melakukan pembangunan yang berkelanjutan. Konsep bangunan hijau memiliki prinsip-prinsip keberlanjutan yang merespon pada tuntutan bangunan ramah lingkungan dan hemat sumber daya, mulai dari tahap perancangan, konstruksi, penggunaan/operasi, perawatan, bahkan renovasi (Council, U.G.B., 1996). Prinsip-prinsip perancangan berkelanjutan dari bangunan hijau yang harus diterapkan di Indonesia antara lain meliputi: (1) menentukan tapak atau lahan bangunan dengan tepat; (2) mengupayakan konservasi dan penggunaan energi dengan efisien; (3) memanfaatkan air dengan tepat dan efisien; (4) mengupayakan konservasi sumber daya dan memaksimalkan siklus material; (5) memaksimalkan kualitas kesehatan dalam bangunan; serta (6) memaksimalkan pengelolaan bangunan (Bergman, 2013). Kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan bangunan hijau tidak hanya mengurangi secara signifikan dampak pemanasan global dan perubahan iklim, tapi juga meningkatkan kualitas kehidupan serta produktivitas manusia yang menggunakannya (Bergman, 2013; Williams, 2007). Bangunan hijau bukanlah barang mewah yang tidak dapat diterapkan di Indonesia karena justru konsep ini sebenarnya adalah solusi yang terjangkau dan terbaik yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak pemanasan global dan perubahan iklim yang sebagian besar diakibatkan oleh sektor bangunan dan konstruksi. Kesadaran pentingnya konsep bangunan hijau bukan hanya menjadi urusan dari arsitek ataupun engineer saja, tapi seluruh masyarakat melalui berbagai metode edukasi yang sesuai. Daftar Pustaka Ahmed Ali, K., Ahmad, M.I. and Yusup, Y., 2020. Issues, impacts, and mitigations of carbon dioxide emissions in the building sector. Sustainability, 12(18), p.7427. Bergman, D., 2013. Sustainable Design: A Critical Guide. Princeton Architectural Press. Badan Pusat Statistik (BPS) diakses dari http://www.bps.go.id/, diakses pada tanggal 13 Agustus 2021. Council, U.G.B., 1996. Sustainable building technical manual: green building design, construction, and operations. Etkin, D., Medalye, J. and Higuchi, K., 2012. Climate warming and natural disaster management: An exploration of the issues. Climatic change, 112(3), pp.585-599. Michaelis, P., 1992. Global warming: efficient policies in the case of multiple pollutants. Environmental and Resource Economics, 2(1), pp.61-77. Rossati, A., 2017. Global warming and its health impact. The international journal of occupational and environmental medicine, 8(1), p.7. Williams, D.E., 2007. Sustainable design: ecology, architecture, and planning. John Wiley & Sons.
Jan
19
DIES NATALIS Ke-3 Calvin Institute of Technology: HERE WE STAND
Ibadah Syukur | DIES NATALIS Ke-3 Calvin Institute of Technology HERE WE STAND Fighting for The Supremacy of Christ in Higher Education Since MMXVIII Bersyukur atas kesempatan untuk kembali mengingat setiap pemeliharaan dan penyertaan Tuhan atas Calvin Institute of Technology (CIT) melalui ibadah syukur Dies Natalis ke-3, yang diselenggarakan pada Sabtu, 6 November 2021, di J. S. Bach Recital Hall, Reformed Millennium Center Indonesia, lt. 24. Dalam acara Dies Natalis ke-3 ini, Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Antonius Steven Un, Ph.D., yang merupakan Ketua Badan Pengurus Sinode Gereja Reformed Injili Indonesia, dan juga Anggota Badan Pengawas Yayasan Pendidikan Tinggi Reformasi Injili. Pdt. David Tong, Ph.D., selaku Rektor CIT menyampaikan laporan rektorat mengenai perkembangan serta informasi terbaru terkait aktivitas dan program kerja bagi seluruh Civitas Academica CIT. Beliau juga menyampaikan perkembangan dari proses pembangunan gedung baru CIT yang akan berlokasi di BSD, Tangerang. Melalui momen yang berbahagia ini, mahasiswa serta staf CIT memberikan persembahan pujian melalui paduan suara, yang membawakan lagu berjudul “Lord, Here I Am” dan “By Gentle Powers Lovingly Surrounded”. Kata sambutan disampaikan oleh Pdt. Dr. (H.C.) Stephen Tong, yang merupakan Founder and Honorary Chairman of Calvin Institute of Technology. “Nilai diri kita bukan ditentukan oleh apapun, selain pengertian dan kesadaran akan panggilan Tuhan,” ujar Pdt. Dr. (H.C.) Stephen Tong di dalam sambutannya. Melalui Dies Natalis ke-3 ini, seluruh Civitas Academica CIT kembali diingatkan akan panggilan Tuhan untuk terus melanjutkan semangat reformasi dan terus memperjuangkan panggilan meninggikan supremasi Kristus di dalam perguruan tinggi zaman ini. Mari terus berjuang bersama. Soli Deo Gloria #CalvinInstituteofTechnology #CIT #RedeemingMinds #GodsPeopleForGodsGlory #DiesNatalis3 #WeAreCalvin #KampusTeknik #KuliahTeknik #KampusJakarta #KampusKristen #SupremasiKristus
Jan
13
Mekatronika dalam Sistem Berbasis Internet of Things (IoT)
Penulis : Aditya H. Prathama, B.Eng, M.Sc., M.S., Ph.D. Mekatronika telah ada sejak manusia menggunakan komputer untuk mengontrol proses dan sistem mekanik(1). Diperkenalkannya teknologi integrated circuit yang semakin murah dan perkembangan mikroprosesor menghasilkan sistem mekatronik yang diterapkan ke bidang manufaktur dan teknologi kendaraan. Mata kuliah maupun spesialisasi mekatronik mulai diperkenalkan dalam studi akademik tingkat sarjana dan magister, sehingga fondasi keilmuan pun diletakkan untuk menunjang perkembangan bidang ini. Namun seiring berjalannya waktu, apa yang didefinisikan sebagai mekatronika telah mengalami diversifikasi baik dalam isi maupun konsep(2). Hal ini dimotori oleh pergeseran paradigma mengenai pengertian tentang sistem. Tadinya, suatu sistem adalah berbasiskan interkonektivitas antar komponen fisis, dimana informasi ditransmisikan hanya demi kebutuhan kontrol. Namun, kini informasi justru menjadi pusat dari sistem yang dilayani oleh piranti cerdas mekatronik. Sistem tersebut bahkan dapat mengganti komponen fisis jika dirasa perlu, sebagai respon akan kebutuhan dan kondisi saat itu. Konsep ini didasari oleh model sistem Internet of Things (IoT), dimana informasi dianggap sebagai komoditas yang nilainya ditentukan oleh kebutuhan dan konteks dari pengguna atau sistem. Informasi yang berada di cloud dapat diakses dan digunakan secara otomatis oleh piranti cerdas yang terhubung melalui internet. Cloud juga memiliki dan memungkinkan akses terhadap berbagai layanan dan fasilitas yang bisa diperoleh on demand oleh klien cloud dalam bentuk piranti cerdas yang terhubung. Pergeseran perspektif ini meningkatkan kompleksitas dalam membuat piranti mekatronik, yang mampu menghasilkan sejumlah besar data yang perlu dikomunikasikan ke sistem sehingga dapat diintegrasikan dengan informasi lainnya. Setiap piranti ini pun kini mencari informasi dari cloud agar dapat menjalankan tugasnya. Sebagai ilustrasi adalah suatu sistem partisipatif, dimana pengguna mendefinisikan sistem melalui pilihan-pilihan dan spesifikasi komponen yang sesuai. Sistem kemudian menggunakan informasi berdasarkan konteks setempat dan saat itu untuk menghasilkan luaran yang diinginkan, tentunya dengan dukungan umpan balik dari pengguna itu sendiri. Penekanan sistem ini terletak pada infrastruktur informasi yang melandasi konfigurasi sistem, dan tidak terlalu pada komponen sistem. Ini berarti desain sistem berbasis fungsi, sedangkan pemilihan komponen baik piranti lunak maupun keras disesuaikan dengan layanan atau fungsi yang diperlukan.Tantangan yang perlu diperhatikan bagi pengembangan sistem seperti ini adalah kemampuan untuk menyesuaikan konfigurasi sesuai individu, integrasi data sejumlah banyak individu untuk menemukan pola perilaku, dan lagi masalah hukum privasi seseorang dikarenakan sulit untuk menentukan pihak yang bertanggung jawab dalam konteks pengoperasian sistem tersebut. Dalam kaitannya dengan mekatronika, selain aspek-aspek mekatronik konvensional, ada kebutuhan untuk mengembangkan piranti cerdas maupun komponen fisis yang berbasiskan fungsi, yang dapat dimodifikasi dan diintegrasikan ke dalam berbagai sistem. Sebagai contoh adalah kendaraan bermotor yang memiliki sub-sistem mekatronik seperti manajemen drive-train, lampu cerdas, dan parkir otomatis. Setiap komponen ini lalu diintegrasikan ke dalam sistem yang menolong dan memberikan informasi kepada pengemudi untuk monitoring kondisi baik kendaraan maupun pengemudi. Sistem ini juga dapat menganjurkan dan melakukan servis akan komponen kendaraan. Lebih lanjut lagi, informasi dari setiap kendaraan dapat disampaikan ke sistem manajemen lalu lintas, yang juga dapat digunakan pengemudi lain. Sistem ini tentunya memuat informasi seperti kondisi jalan dan lalu lintas setempat. Tantangan bagi mekatronika adalah bagaimana kaidah desain mekatronik yang sudah ada dapat diperluas agar memungkinkan transfer of functionality sampai ke tingkat integrasi ke dalam sistem. Salah satu cara adalah dengan menanamkan kesadaran akan konteks dan pengenalan diri pada piranti, sehingga ia dapat memahami perannya begitu terintegrasi pada suatu sistem. Sistem pun dapat menyesuaikan dengan performa piranti yang baru dan melakukan rekonfigurasi secara cepat. Perkembangan mekatronik terkait dengan kemampuan mengakses, mentransmisi, dan memproses data semakin cepat, yang didukung oleh perkembangan sensor dan teknologinya. Hal ini dapat kita lihat pada perkembangan telepon genggam, Arduino, Raspberry Pi, dan Ninja Blocks, dimana setiap piranti dapat dikonfigurasi untuk berfungsi dalam tingkat piranti maupun sistem. Raspberry Pi dapat dikembangkan sebagai responder pertama digital yang murah untuk perawatan kesehatan di tempat terpencil(3). Berbagai sensor kesehatan untuk mengukur denyut jantung, kadar oksigen dalam darah, suhu dan respirasi dapat dihubungkan dengan Raspberry Pi untuk merekam medis pasien. Informasi termasuk lokasi pasien dapat disampaikan kepada tenaga kesehatan untuk ditindaklanjuti. Selain monitor pasien jarak jauh, Raspberry Pi juga memberikan peringatan berdasarkan kondisi pasien dan memperbarui status triage secara otomatis. Piranti dapat terus dikembangkan dengan menambah antarmuka seperti layar sentuh dan “pointing”, sehingga pasien dapat memberitahu keluhan dan bagian tubuh yang sakit. Dulunya, piranti seperti ini hanya dibuat untuk tujuan spesifik dan hanya bisa berinteraksi sesuai spesifikasi produsen. Kini dengan layar high definition, kemampuan prosesor, dan sensor memungkinkan interaksi aktif dan pasif yang lebih fleksibel. Kenyamanan interaksi ini pun telah dinikmati pada piranti berbasis Google Android dan Apple iOS dengan kemampuan voice accessnya. Ini membawa kultur gadget dalam masyarakat, melalui kombinasi mekatronik dan piranti cerdas lainnya dengan ketersediaan piranti lunak berbasis cloud. Tantangan dalam bidang keamanan dapat timbul karena arsitektur IoT yang bersifat terbuka, seperti serangan siber Stuxnet(4) pada sistem yang meliputi SCADA pada sentrifuge (mekatronik), jaringan IP, dan sneaker-net (aspek manusia pembawa data). Maka, aspek keamanan pada mekatronik dan IoT tidak dapat dipandang secara terpisah, namun harus secara satu sistem keseluruhan. Umumnya, produsen piranti kurang mementingkan aspek keamanan, karena komunikasi dan penyimpanan data yang aman memerlukan teknik kriptografi dengan biaya komputasi yang mahal. Namun, keamanan siber harus dipertimbangkan sejak dalam fase pengembangan sistem IoT, dimana pengetesan keamanan eksplisit harus dilakukan sehingga kelemahan yang diketahui dapat diinformasikan kembali untuk meningkatkan keamanan siber sistem. Di bidang pendidikan, mekatronika diperkenalkan pada kurikulum sarjana dan pascasarjana sekitar tahun 1980an. Penekanan topik pembelajaran umumnya berkisar antara penerapan mikrokontroler baik pada perabot rumah tangga maupun teknologi manufaktur dan robotika serta komponen seperti pompa cerdas. Namun, mahasiswa mekatronik pada masa kini perlu juga menguasai teknologi informasi dan pengetahuan komputer, terutama untuk memahami dan menyelesaikan masalah yang terjadi di cloud. Sehingga, keseimbangan antara materi rekayasa dan teknologi informasi dengan fokus pada pengembangan desain perlu diterapkan pada mahasiswa yang bekerja secara individu maupun kelompok. Aspek kelompok ini sangat penting karena mekatronik saja mencakup domain teknik yang beragam, sehingga sulit bagi seseorang untuk menguasai semua aspek mekatronik, ditambah lagi aspek IoT. Dalam bidang industri, sistem industri modern yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi memberikan iklim yang kondusif untuk penerapan IoT dalam manufaktur dan inovasi, seperti industri bio-farmasi, peralatan medis, dan manufaktur terkini (advanced). Pengoperasian manufaktur pada masa kini sering tersebar secara geografis, dan karenanya memerlukan jaringan internal untuk kontrol dan optimasi produksi, dimana kunci utama terletak pada sistem kontrol kualitas (QC) otomatis dan perencanaan logistik(5). Hasilnya adalah kumpulan data yang digunakan untuk optimasi proses produksi, sehingga mampu menghasilkan produk yang lebih berkualitas dengan biaya yang lebih murah. Selain itu, teknologi aditif atau 3D kini memungkinkan inovasi melalui kombinasi teknik data mining untuk menghasilkan produk baru dengan proses manufaktur yang fleksibel. Lagipula, sistem IoT yang memungkinkan akses informasi secara real-time akan mendorong pergeseran menuju manufaktur on demand dengan penjadwalan otomatis, berdasarkan pengetahuan akan utilisasi dan ketersediaan mesin. Kesimpulannya, definisi dan ruang cakupan mekatronika terus berkembang mengikuti perkembangan jaman, termasuk pada masa kini dalam kaitannya dengan sistem berbasis IoT. Perkembangan IoT yang begitu cepat mendorong mereka yang terlibat dalam desain, praktik, maupun edukasi di bidang mekatronik untuk menelaah kembali bagaimana suatu sistem atau piranti mekatronik didesain dan diproduksi. Peranan piranti cerdas mekatronik sebagai bagian sistem IoT yang dibangun sesuai konteks pengguna tidak terlepas dari isu-isu seperti etika mesin, interaksi dengan pengguna, kompleksitas, dan keamanan data dan individu menjadi semakin penting. Maka solusi yang inovatif terhadap tantangan tersebut akan menunjukkan bahwa konsep mekatronika memiliki nilai dan manfaat (merit) dalam lingkungan yang terus berubah, secara khusus dalam konteks piranti cerdas yang berorientasi pengguna dalam sistem IoT. Referensi: (1) Harashima F, Tomizuka M, Fukuda T. Mechatronics – “What is it, why, and How?”. Editorial, IEEE/ASME Trans. Mechatronics 1996;1(1):1-4. (2) Bradley D, Russell D, Ferguson I, Isaacs J, MacLeod A, White R. The Internet of Things – The future or the end of mechatronics. Mechatronics 2015; 27:57–74. (3) Blaya JA, Fraser HSF, Holt B. E-Health technologies show promise in developing countries. Health Aff 2010;29(2):244-51. (4) Desai D. Beyond location: data security in the 21st century. Commun ACM 2013;56(1):34-6. (5) Bucherer E, Uckelmann D. Business models for the internet of things. In: Uckelmann D et al., editors. Architecting the internet of things; 2011. p. 252-77
Jan
12
Perencanaan Terowongan Kembar (Twin Tunnel) Di Jawa Barat Dengan Pemodelan Elemen Hingga Multilaminate: Suatu Studi Parametrik
Penulis: Ir. Wilham George Louhenapessy, M.Sc., Ph.D. ABSTRACT: Sudah banyak konstruksi terowongan teknik sipil dibatuan, contohnya terowongan untuk jalan raya, kereta api, “spillway” bendungan, ruang penyimpanan mesin pembangkit listrik pada bendungan, dan tentu saja terowongan pada infrastruktur penambangan. Umumnya batuan yang ditemukan adalah batuan utuh (intact rock) dan batuan berkekar (joint rock). Disain pembangunan proyek terowongan batuan melibatkan berbagai bidang ilmu, dan satu diantaranya adalah mekanika batuan, klassifikasi batuan (Rock Mass Classification) dalam kaitannya dengan formulasi penyangga terowongan (Sistim Penyangga batuan berbasiskan NGI / Q system, RMR dan RMi, dll ) dan pemodelan numerik konstitutip (kriteria runtuh/failure criteria) dari material batuan utuh (intact rock) dan batuan berkekar (joint rock) tsb. Era komputer dan teknologi informasi telah membawa kita pada penyelesaian metode numerik dengan berbagai algoritma perhitungan yang kompleks, dalam hal ini Metode Elemen Hingga (FEM) dengan kerangka acuan Multilaminate dengan menggunakan software Newmo3962_2000 yang dikembangkan penulis di Swansea University. Keywords: Terowongan Kembar, Joint Rock, Multilaminate Framework UMUM Banyak konstruksi infrastrukur teknik sipil melibatkan pembuatan terowongan dibatuan, seperti terowongan untuk terowongan jalan raya, kereta api (CNBC Indonesia 2021), “spillway” bendungan, ruang penyimpanan mesin pembangkit listrik pada bendungan “spillway” bendungan, ruang penyimpanan mesin pembangkit listrik pada bendungan, terowongan pada tambang-tambang. Umumnya batuan yang ditemukan adalah batuan utuh (intact rock) dan batuan berkekar (joint rock). Perencanaan pembangunan proyek terowongan batuan melibatkan berbagai bidang ilmu, dan satu diantaranya adalah mekanika batuan, klassifikasi batuan (Rock Mass Classification) dalam kaitannya dengan formulasi penyangga terowongan (Sistim Penyangga batuan berbasiskan NGI, RMR dan RMi, dll ) dan pemodelan numerik konstitutip (kriteria runtuh / failure criteria) dari material batuan utuh / berkekar tsb. Komputer dan teknologi informasi telah membawa kita kepada era penyelesaian metode numerik dengan berbagai algoritma perhitungan yang kompleks, dalam hal ini Metode Elemen Hingga (FEM), metode beda hingga (FD), metode BEM dll. Beberapa kelemahan dari Sistim Penyangga batuan untuk terowongan yang berbasiskan Q system (Louhenapessy & Pande, 1998)adalah sebagai berikut: (a) kurang diperhitungkannya arah kekar terhadap permukaan galian terowongan; (b) pengaruh waktu tidak diperhatikan; (c) tidak diperhitungkannya kriteria runtuh Mohr – Coulomb atau Getas-Daktail atau brittle-ductile (Papaliangas et.al 1996) untuk terowongan di yang berada di kedalaman tertentu (Louhenapessy 2003) dan (d) kurang rasionalnya analisa pengaruh air di dalam masa kekar batuan. Uraian dibawah ini adalah tentang metode yang lebih rasional dengan mem-pertimbangkan semua pengaruh tersebut diatas berdasarkan Metode Elemen Hingga dengan kerangka Multilaminate Model untuk masa kekar batuan/joint rock (Zienkiewicz-Pande 1977). Keruntuhan batuan diakibatkan dua pilihan runtuh, yaitu runtuhnya batuan utuh (intact rock failure) atau runtuhnya batuan berkekar (joint rock failure). Pemodelan parametrik numerik terfokus pada terowongan kembar sebuah proyek di Indonesia, dengan kedalaman 64 m, berbagai tekanan lateral, berbagai arah kekar dan kriteria runtuh Mohr-Coulomb. CONSTITUTIVE MODELS dan rumus-rumus dasar Di masa permulaan analisa terowongan di batuan dengan mempergunakan Metode Elemen Hingga Prof. Zienkiewicz et.al. (1968) mengusulkan kriteria kekar/batuan sebagai no-tension material (material yang tidak dapat tahan tegangan tarik) serta memakai kriteria runtuh kekar/batuan (joint rock) Mohr-Coulomb untuk tegangan gesernya. Kriteria runtuh BATUAN UTUH (INTACT ROCK) Kriteria runtuh yang dipergunakan untuk batuan utuh (Intact Rock) adalah Kriteria runtuh Mohr-Coulomb sbb., F = |τi| – Co + σni tan φo = 0 (1) dimana σni = tegangan normal pada bidang keruntuhan daidalam batuan utuh, φo = sudut geser dalam dari batuan utuh, Co= kohesi batuan utuh tsb. Agar dapat dicari besarnya dalam gaya-gaya dengan berorientasi pada sumbu lokal, maka diperlukan bentuk persamaan dalam bentuk tegangan-tegangan invariant, maka persamaan (1) menjadi: F = _ σ (cosθ + (sin θ sin φo)/ √3 ) – σm sin φo – Co cos φo = 0 (2.a) _ dimana σ, θ dan σm adalah komponen-komponen invariant tegangan, dan F adalah lambang dari batas keruntuhan (Failure). Kriteria runtuh Mohr-Coulomb untuk BATUAN berkekar (Joint rock) Pemodelan kriteria runtuh Mohr-Coulomb untuk kekar batuan (joint rock) adalah: F = |τj | + σn tan φj = 0 (2.b) atau τj = Cj + σn tan φ Dimana, φj = sudut geser kekar batuan (joint rock friction angle), τj = tegangan geser pada bidang kekar, dan σn = tegangan normal pada permukaan kekar. F adalah lambang dari batas keruntuhan (Failure). Suatu kerangka acuan bagi pengembangan model massa batuan berkekar (joint rock mass)[2]* Program / Kerangaka-acuan “multilaminate / banyak-laminasi” untuk model-konstitutive bagi masa batuan berkekar (jointed rockmass) sudah dibahas secara rinci di lain publikasi (Zienkiewicz & Pande 1977, Louhenapessy & Pande 1998, Louhenapessy 2000). Konstanta Elastis massa batuan berkekar (joint rock) dapat ditentukan dari eksperimen skala besar ditempat (in-situ) atau uji triaxial batuan skala-besar (Gambar 3 Kiri: Natau et.al. 1995, Kanan: koleksi pribadi). Gambar 3 Uji Triaxial “Large Scale” [Kanan: Koleksi foto pribadi penulis saat mengunjungi Karlsruhe tahun 1997]. Pendekatan alternatif untuk menurunkan matriks elastisitas massa batuan adalah dilihat dari asal muasal batuan tsb, yaitu batuan utuh (intact) dan kekarnya sendiri (joint rock). Filosofinya adalah untuk melihat massa batuan sebagai bahan komposit, yang mana hal ini untuk mencari kekakuan normal (normal stiffness) dan kekakuan geser (shear stiffness). Jadi matriks elastisitas massa batuan (elasticity matrix of rock mass) DeRM , adalah sbb.: DeRM = [ ∑ nT CLJoint TT + [DeIntact ]-1 ]-1(3) i=1 dimana “n” adalah jumlah set-joint (number of joint sets), T adalah matriks transformasi matrix, C adalah matriks “compliance” yang mengandung data kekakuan kekar (joint stiffness data), dan DeIntact adalah matriks konvensional elastic batuan utuh atau the conventional elasticity matrix of the intact rock (Pande, Beer & Williams 90). Kekakuan Normal dan Kekakuan Tangensial dari batuan berkekar (Normal and tangential stiffness of joint rock): Mula-mula kita mendefinisi satuan (unit) kekakuan kekar (joint stiffness) dengan standar tertentu, suatu benda uji / specimen batuan-berkear (rock joint specimen) di laboratorium. Mula-mula tegangan normal, σn, diaplikasikan lalu specimen dipendekan, sehingga permukaan kekar (asperities in the joint) berdeformasi (δn). Deformasi normal kekar (joint normal deformation), δn, dapat diplot –secara grafis- terhadap gaya diaplikasikan (applied normal stress) di Gambar 4 (a). Perlu dicatat disini bahwa σn, adalah hanya gaya tekan. Sekarang, anggaplah suatu gaya geser (shear stress), τs, sedang diaplikasikan secara horizontal (x direction) sehingga menghasilkan suatu deformasi kekar arah tangensial (joint tangential deformation), δs, seperti ditunjukan dalam Gambar 4 (b). Perbandingan dari pertambahan deformasi tegangan di tahap awal, menghasilkan kekakuan-elastik dari kekar batuan tsb (the elastic stiffness of the rock joint). Gambar 4. Kurva perpindahan typical tegangan vs perpindahan relativ (Stress-relative displacement curve). Matriks Complience, , dari sebuah joint set (rock joints) direpresntasikan oleh, (4) Di mana f is adalah frekwensi dari jumlah kekar (number of joint) per meter lari (Pande, Beer & Williams 90), adalah kekakuan normal (normal stiffness) dan adalah kekakuan tangensial (tangential stiffness), Gambar 4.b. Kemudian matriks Compliance lokal di-transformasikan jadi suatu sistim global dengan mempergunakan matriks transformasi, T, sehingga persamaannya menjadi, (5) Compliance kumulatif untuk sejumlah “n” set-set kekar (joint sets), , menjadi, (6) dan matriks compliance massa batuan (rock mass), Crm menjadi, (7) dimana adaah matriks elastisitas konvensional dari batuan utuh (intact rock), (8) Sehingga, kekakan matriks massa batuan (rock mass), , direduksi menjadi (9) METHODOLOGI PERHITUNGAN TEKANAN (PRESSURE) PADA PENYANGGA TEROWONGAN (TUNNEL SUPPORTS ) Perilaku dari massa Batuan Berkekar (joint rock) sangat tidak linear (non-linear). Perhitungan komputer yang memakan biaya diperlukan dalam upaya memecahkan masalah kompleks interaksi-struktur (terowongan)-dengan-batuan. Cara lainnya adalah dengan menerapkan, apa yang disebut ‘metode jalur tegangan’ (STRESS PATH METHOD) yang mana dilakukan analisa perhitungan perkiraan berdasarkan jalur tegangan (stress path) yang dialami oleh titik-titik penting (typical) di permukaan dalam terowongan. Kestabilan titik-titik penting di massa batuan tsb (jointed rockmass) dianggap berdasarkan kriteria runtuh (failure criterion): Mohr-Coulomb; selanjutnya dapat dihitung berapa besar tekanan penyangga terowongan (Tunnel Support Pressure) yang diperlukan. Jadi bisa diketahui berapa tegangan rock-bolt yang harus diaplikasikan sehingga massa batuan dapat dicegah agar tidak runtuh / fail. Gambar 5. Tekanan diterapkan tegak lurus pada permukaan dalam terowongan (the tunnel periphery), yaitu di titik A untuk mencegah kegagalan (failure) di massa batuan, (a) Geometri, (b) penerapan / aplikasi dari tekanan penyangga tegak-lurus untuk mencegah keruntuhan (failure) dibawah jalur tegangan (stress path) yang dialami titik A, (c) Gambar Jalur Tegangan titik A pada Terowongan didalam ruang tegangan utama (principal stress space). Misalnya, lihat titik A pada atap terowongan (Gambar 5), terowongan tsb. digali pada kedalaman tertentu dalam suatu massa batuan berkekar (joint rock). Sebelum penggalian ini titik A tsb. mengalami tegangan geostatic – γ x h, dimana h kedalaman titik A dari permukaan tanah/batuan (ground surface). Tegangan-tegangan pada titik A setelah penggalian terowongan (bisa penggalian bertahap) dapat dihitung dengan mengasumsikan massa batuan ini adalah: Terdiri dari suatu material multi-laminate (banyak lapisan) yang anisotropic yang memiliki matriks kekakuan seperti diberikan oleh rumus-rumus di Section 3.3 diatas. Deviasi tegangan dari kondisi geostatic siap diperoleh dan memberikan jalur tegangan (stress path) yang mana massa batuan di titik A akan dibebani (atau diambil bebannya). Jalur tegangan pada suatu titik ini dikenakan pada massa batuan dan peritungan dilakukan untuk memeriksa (check) jenis-jenis kegagalan (failure) apa yang mungkin terjadi. Yaitu, salah satu dari type berikut: a) Keruntuhan batuan utuh (failure of intact rock). Parameter-parameter kekuatan dari batuan utuh diperiksa dan fungsi kegagalan (failure function; -atas dasar konstitutif model/model pokok) dicentang. dan b) Kegagalan kekar/joint set. Parameter-parameter kekuatan diperiksa dan failure pada geser (shear) atau pada tarik (tension) juga diperiksa. Suatu algoritma, yang menentukan tempat-tempat keruntuhan (failure), misalnya batuan utuh atau joint rock disajikan secara rinci di publikasi lain (Louhenapessy 2000, Louhenapessy 2003). Saat keruntuhan (failure) dan jenisnya telah diprediksi terjadi sesuai Analisa numerik, maka suatu tegangan (p) yang tegak lurus permukaan dalam terowongan dapat segera dihitung besarnya. Hal ini dilakukan agar failure/keruntuhan massa batuan berkekar (joint rock mass) tsb –di suatu tempat tertentu- dapat dihindari. Algoritma ini, dilakukan berulang-ulang di sejumlah lokasi di permukaan dalam terowongan, kemudian dilakukan perhitungan disain sederhana untuk menentukan dimensi jarak antar rock-bolt (tanpa tunnel lining) dan/ dimensi tunnel lining. STUDI PARAMETER TEROWONGAN KEMBAR. Studi parameter yang digunakan dalam analsis terowongan kembar ini memiliki diameter 10 m berbentuk semi-lingkaran, yang digali dikedalaman 64 m dengan as ke as masing-masing terowongan adalah 30 m. Kondisi joint set yang digunakan satu set joint (one sets of joints), parametric study ini bertujuan untuk menganalisa kebutuhan kekuatan penyangga terowongan (tunnel support pressure) yang dibutuhkan. Penyangga terowongan ini dapat menggunakan shotcrete, rockbolt maupun penyangga baja. Catatan: Titik 1 sampai 5 letaknya di permukaan dalam salah satu dari terowongan kembar. d adalah diameter terowongan, h = kedalaman terowongan = 64 m, dan θ = dip – angle atau arah orientasi kekar (orientation of joint rock). Gambar 6. Geometri Terowongan dan fabric dari kekar (rock joint) (inset) Parameters material batuan berkekar dalam analisis studi parameter ini ditunjukkan dalam Tabel 2 berikut: Tabel 2. Material parameters Intact Rock (batuan tertentu) Joint Rock (One set dan Two sets) E = 1000 MPa dan 2000 MPa ν = 0.2 Kohesi batuan intact = 300 kPa φ = 35o and ρ = 27 kN/m3 Cn = 1 x 10-7 m/kPa Cs = 1 x 10-7 m/kPa Jarak antar kekar (Joint Spacing) = 2.5 m Kohesi Joint = 0 Mohr Coulomb φ = 20 o dand 25o Tegangan Penyangga (Support pressure) pada Rock-Bolt dan gaya-gaya di Tunnel Lining (Shotcrete) yang telah dianalisa, hal ini juga melibatkan Tahapan-Tahapan Penggalian (Stages Excavation) dari muka terowongan. Semuanya dilakukan dengan analisa linier Metode Elemen Hingga (Elastic Finite Element). Telah dilakukan analisa tegangan pada Tunnel Lining (Louhenapessy&Sargawi 2011), dengan hasil untuk tekanan tanah diam (at rest) Ko=1 dan Ko=2 selain itu arah joint set (0,30,45,60 dan 90) dan kekuatan geser joint set (φ=20 deg dan φ=25 deg). Kunjungan Lapangan Di bulan September 2018, penulis berkesempatan mengadakan kunjungan lapangan ke Site terowongan kembar yang dalam proses penyelesaian konstruksi (tahap akhir). Di Gambar 7 adalah foto-foto dan keterangan dari kunjungan lapangan tersebut. Gambar 8 menunjukan lokasi terowongan Google Earth. KESIMPULAN Analisa terowongan kembar (twin tunnel) dengan mengunakan ‘metode jalur tegangan’ (Metode STRESS PATH). Kestabilan terowongan dalam massa batuan (jointed rockmass) diasumsikan berdasarkan kriteria runtuh (failure criterion) Mohr-Coulomb, sehingga didapat besarnya tekanan penyangga terowongan (Tunnel Support Pressure. Hasil analisis ini juga menunjukkan bahwa pada bagian lengkung (heading) dengan terowongan berbentuk tapal kuda sangat dipengaruhi oleh arah dan besarnya kuat geser joint set. Masa Depan Ke depan proses Analisa terowongan kembar (twin tunnel) akan dilakukan dengan mengunakan a.l. Machine Learning/ML (COGGE 2021) Artificial Intelegence (Apoji, D & K. Soga 2022 to be published) Kombinasi ML dan Multilaminate (Louhenapessy, W. 2022) ReferenSI Barton, N., Lien, R., & Lunde, J. 1974. Engineering classification of rock masses for the design of tunnel support. Rock Mech., 6, Hal. 189-236. Bieniawski, Z.T. 1990. Engineering rock mass classification. 1st ed. Chichester: Wiley. CNBC Indonesia 2021. https: //www.cnbcindonesia.com/news/20211101111308-4-288012/mesin-bor-raksasa-tembus-gunung-rute-ka-cepat-hampir-jadi (1st Nov. 2021) COGGE Fall 2021 Meeting: 14th Oct 2021 – Prof. Kenichi Soga presentation Apoji, D. dan K. Soga (June 11, 2021 – Draft for Geo-Congress 2022) Dayu Apoji, S.M.ASCE,1 Yuji Fujita,2 and Kenichi Soga, Ph.D., F.ASCE3 Deere, D.U. 1968. Geological consideration. Hal. 1-20 from “ Rock Mechanics in Engineering Practice. Stagg, K.G., dan Zienkiewicz, O.C. (eds)”, London: John Wiley & Sons. Hoek, E, Kaiser.P.K., dan Bawden, W.F. 1995. Support of Underground Excavations in Hard Rock. 1st Edition. Rotterdam: A.A.Balkema. Louhenapessy, Wilham G. – 2022 Pemodelan Elemen Hingga dan ML (to be published) Louhenapessy, Wilham G. dan Rivai Sargawi. 2011. Studi Parameter Perencanaan Terowongan Kembar (Twin Tunnel) dengan Pemodelan Numerik Multilaminate. Proc. 9th Indonesian Geotechnical Conference, page 195-200. (Prosiding KOGEI-IX & PIT-XV HATTI 2011, Hal. 195-200) Louhenapessy, Wilham. G. 2000. Analysis of Tunnel Supports using the Finite Element Method, Ph.D. Thesis. University of Wales Swansea, UK. Louhenapessy, W. G. 2003. FEM in Rock Tunnel Engineering:Introduction to A New Method of Tunnel Support Design. Prosiding KOGEI-VI & PIT-VII HATTI 2003, Hal. 9-298. Louhenapessy, W. G. dan Pande, G. N. 1998. On a rational method of analysis and design of tunnel supports based on the finite element technique. Journal of Rock Mech. & Tunneling Tech., 4 (2), 97-124. Louhenapessy, Wilham G. dan Pande, G. N. 2000. Newmo3962_2000: User’s Instruction Manual. Rep No.CR/1022/00. Civil Eng. Dept., Univ.of Wales Swansea, Swansea, UK. Natau, O, Buhler, M, Keller, S, & Mutschler, T. 1995. Large scale triaxial test in combination with a FEM analysis for the determination of the properties of a transversal isotropic rock mass. Hal. 635-643, Dalam 8th International Congress on Rock Mechanics, vol. 2. ISRM, Tokyo. (Editor: Fuji, T). Palmstrom, A. 1995. RMi – a system for characterizing rock mass strength for use in rock engineering. J. of Rock Mech. & Tunneling Tech., 1(2), Hal.69-108. Pande, G.N., & Williams, J.R. 1990. Numerical Methods in Rock Mechanics. Chichester: John Willey. 327 Halaman. Papaliangas, T.T., Lumsden, A. and S. Hencher, 1996. Prediction of in situ shear strength of rock joints, Dalam EUROC’96, Barla (ed.), Hal., 143-149, A.A.Balkema, Rotterdam. Rivai Sargawi and W.G. Louhenapessy. 2010. Draft Preliminary Design Tunnel. Zienkiewicz, O.C.; Valliapan, S. and King, I.P. 1968. Stress Analysis of Rock as a ‘no-tension Material’, Geotechnique Vol. 18, Hal. 56-66. Zienkiewicz, O.C., & Pande, G.N. 1977. Time dependent multi-laminate model of rocks – a numerical study of deformation and failure of rock masses. Int. J. Numerical and Analytical Meth. in Geomech.), 1 (1), Hal. 219-247. a b c d Gambar 7. Terowongan Kembar Cisumdawu Ketika masih Konstruksi (2018) 7.a. Penulis dengan latar belkang portal masuk Terowngan Cisumdawu (Sisi selatan) 7.b dan c: Penulis dengan latar belkang portal masuk Terowngan Cisumdawu (Sisi utara) 7.d. Penyelesaian Tunnel Lining (dengan Shotcrete) Gambar 8. Lokasi Terowongan Kembar Cisumdawu menurut Google Earth Paper ini telah diupdate 2021, dan Sebagian porsi dari paper ini ditulis saat Dr W. G. Louhenapessy masih bertugas di PT MKSI, sebagai Tenaga Ahli Terowongan. Sekarang beliau paruh waktu mengajar di SCCE, Calvin Institute of Technology, Jakarta. ↑ * Penyatuan pengaruh ‘INTACT ROCK’ dan ‘JOINT ROCK’ kedalam formulasi dasar (constitutive model) “Multilaminate” ↑
Jan
12
Tanggap Banjir Kala Pagebluk Covid19
Penulis: Fritz Harland Sihombing, S.T.P., M.Sc., Ph.D. Ramalan Cuaca, Banjir, dan Covid19 Hujan lebat kembali mengguyur Jakarta beberapa waktu terakhir ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pun telah mengeluarkan peringatan dini akan potensi banjir. BMKG memprediksi puncak musim hujan untuk periode 2021/2022 akan terjadi pada bulan Januari dan Februari 2022[1]. Pada awal tahun ini, setidaknya tercatat 30 titik genangan banjir yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta dengan ketinggian berkisar antara 30 cm hingga di atas 1,5 m sebagai akibat dari lebatnya hujan yang terjadi mendekati puncak musim hujan[2]. Pada saat itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, meminta seluruh warga Jakarta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kejadian banjir dan tanah longsor sebagai akibat dari hujan lebat yang mengguyur[3]. Kewaspadaan mutlak diperlukan untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi dampak bahaya yang ditimbulkan oleh hujan lebat. Terlebih lagi pada saat pagebluk ini, selain bahaya banjir atau tanah longsor, terdapat juga potensi bahaya wabah Covid19 yang dapat merebak baik di lokasi bencana maupun di tempat pengungsian sementara. Pada musim penghujan periode 2020/2021 kemarin, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, memberitahukan bahwa terdapat pengungsi banjir yang terkonfirmasi Covid19. Para pengungsi tersebut telah ditangani secara khusus dengan menempatkan mereka di tenda isolasi[4]. Antisipasi Tanggap Bencana Melihat adanya potensi bahaya banjir dan mungkin merebaknya wabah Covid19 gelombang ketiga yang terjadi pada saat yang sama[5], diperlukan pemutakhiran rencana penanganan bahaya banjir yang sudah ada. Hal ini diperlukan supaya kegiatan evakuasi dan penanganan bencana tidak menjadi sumber-sumber baru dari penularan wabah Covid19. Beberapa isu penting yang harus diperhatikan antara lain, rencana evakuasi, lokasi pengungsian, sarana dan prasarana dasar di lokasi pengungsian, dan sumber daya manusia. Rencana Evakuasi Rencana evakuasi meliputi kapan permulaan evakuasi, waktu untuk menempuh perjalanan menuju tempat pengungsian, dan pemeriksaan medis Covid19. Permulaan evakuasi adalah hal yang penting, hal ini dikarenakan pada masa pagebluk ini, kerumunan massa yang hendak mengungsi harus dihindari untuk mengurangi terjadinya kontak fisik pada saat berdesak-desakan. Sehingga strategi yang mungkin dilakukan di lapangan adalah membentuk kelompok-kelompok keberangkatan untuk evakuasi. Diharapkan melalui kelompok-kelompok ini, tidak terjadi penumpukan massa pada satu waktu di suatu titik ketika evakuasi terjadi, karena para pengungsi bergerak menuju titik pengungsian secara berurut-urutan. Waktu tempuh juga menjadi perhatian karena, untuk menerapkan physical distancing, sebuah penelitian menyatakan dibutuhkan waktu tiga kali lebih banyak daripada waktu evakuasi normal[6]. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengurangi bahaya penyebaran wabah Covid19 di tempat pengungsian, sehingga diperlukan metode pengujian/screening yang cepat dan cukup efektif. Rapid test antigen ataupun tes GeNoseC19[7] dapat menjadi solusi untuk pemeriksaan medis sebelum memasuki tempat pengungsian. Tentu saja, dibutuhkan selang waktu tertentu untuk dapat melakukan pemeriksaan medis pada seluruh korban banjir yang hendak mengungsi. Oleh karena itu, menilik kebutuhan waktu untuk evakuasi dan pemeriksaan medis sebelum memasuki tempat pengungsian, kapan dimulainya proses evakuasi sangat kritis dalam menentukan keberhasilan proses evakuasi yang tetap patuh terhadap protokol kesehatan di masa pagebluk. Tantangan yang mungkin dihadapi adalah terjadinya false alarm ataupun keterlambatan dalam memulai evakuasi. Untuk mengurangi kesalahan ketika mengambil keputusan mengevakuasi warga diperlukan data-data penunjang yang cukup akurat. Data-data tersebut antara lain prediksi lamanya waktu hujan dan perubahan trend intensitas curah hujan yang sedang berlangsung pada saat itu, tinggi muka air pada tiap-tiap bendung dan pintu air, kemampuan operasional pompa, dan tinggi muka air di hilir. Lokasi Pengungsian Lokasi pengungsian adalah hal penting selanjutnya yang harus diperhatikan. Pemetaan daerah-daerah rawan bencana banjir beserta lokasi strategis untuk pengungsian (contohnya sekolah, tanah lapang, ataupun tempat ibadah) perlu ditinjau ulang dengan menambahkan peta penyebaran wabah Covid19 yang memberi informasi tentang besarnya laju penyebaran wabah Covid19. Sebuah penelitian yang melakukan pemodelan skenario evakuasi dan pengungsian menyatakan bahwa, angka penularan Covid19 ketika bencana dan evakuasi terjadi dapat ditekan dengan mengevakuasi warga ke daerah-daerah yang mempunyai laju penyebaran Covid19 yang rendah[8]. Selain itu, penelitian tersebut menekankan perlunya prioritas penanganan darurat kepada kelompok penduduk yang rentan baik secara kesehatan maupun secara usia. Keberhasilan dari strategi ini memerlukan kemampuan aparat pemerintah dalam menyediakan kebutuhan para pengungsi terutama yang berhubungan dengan air minum dan kesehatan lingkungan (di tempat pengungsian). Sarana dan Prasarana Dasar Pemerintah kota dan aparat dengan segera perlu melakukan inventarisir kebutuhan sarana dan prasarana dasar di masing-masing lokasi yang akan menjadi tempat pengungsian korban banjir. Ketersediaan persediaan air minum, sarana kebersihan, dan sanitasi mutlak diperlukan, pengaturan distribusi bahan makanan dan juga obat-obatan juga tidak kalah pentingnya. Keberaadan hal-hal tersebut diharapkan dapat menjamin kesehatan lingkungan di tempat pengungsian, serta dapat menghindari terjadinya keramaian ketika para pengungsi hendak memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Hal lain yang bisa dipertimbangkan adalah penyediaan alat bantuan pernafasan darurat[9] (emergency ventilator) di tempat pengungsian apabila ada kebutuhan mendadak ketika pengungsi mengalami gejala susah bernapas yang mungkin dikarenakan oleh infeksi virus Covid19. Sumber Daya Manusia Situasi di tempat pengungsian tentu saja memerlukan pengawasan dan pengaturan dari aparat pemerintah maupun sukarelawan yang membantu. Kedisiplinan untuk menjaga protokol kesehatan (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan) harus diberlakukan di tempat pengungsian dengan harapan dapat meminimalisir penularan virus Covid19. Aparat dan sukarelawan, utamanya, harus dapat menjadi contoh nyata dalam penerapan disiplin protokol kesehatan sekaligus juga menjadi pengawas dalam pelaksanaannya di tempat pengungsian. Apabila memungkinkan, tersedia alat pelindung diri (APD) yang dapat digunakan dalam keadaan darurat ketika harus membawa penderita Covid19 di antara pengungsi ke rumah sakit terdekat. Selain itu para aparat dan sukarelawan perlu diperlengkapi dengan APD ketika gelombang pengungsi mulai tiba di tempat pengungsian dan dilakukan pemeriksaan medis sebelum menerima mereka masuk pengungsian. Diharapkan dengan persiapan seperti ini, para aparat dan sukarelawan tetap dapat menjalankan misi kemanusiaannya tanpa harus mengorbankan kesehatan dirinya. Penutup Kejadian banjir dan situasi pagebluk saat ini merupakan potensi bahaya yang dapat mengakibatkan kerugian material dan jiwa. Potensi bahaya tersebut masih dapat diminimalisir dengan melakukan perencanaan penanganan yang terstruktur dan terukur. Keberhasilan dari pelaksanaannya juga memerlukan koordinasi yang jelas dan komunikasi yang efektif di lapangan antara para aparat dan sukarelawan dengan para korban banjir yang memerlukan bantuan. https://nasional.tempo.co/read/1505607/musim-hujan-ditaksir-datang-lebih-awal-bmkg-ingatkan-bencana-hidrometeorologi/full&view=ok (2021-11-03, 08.39 AM) ↑ https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210220151044-20-608768/daftar-30-titik-banjir-di-jakarta-versi-jaki (2021-02-21, 10.06 PM) ↑ https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210220210354-20-608859/dki-diminta-gandakan-kesiagaan-hadapi-potensi-cuaca-ekstrem (2021-02-21, 10.06 PM) ↑ https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210221200519-20-609096/sejumlah-pengungsi-banjir-jakarta-positif-covid (2021-02-21, 11.46 PM) ↑ https://www.liputan6.com/news/read/4699123/pimpin-ratas-ppkm-maruf-amin-ingatkan-mitigasi-ancaman-gelombang-ketiga-covid-19 (2021-11-03, 08.46 AM) ↑ https://www.thelancet.com/journals/lanplh/article/PIIS2542-5196(20)30175-3/fulltext#%20 (2021-02-21, 11.46 PM) ↑ https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20201228190526-199-587139/5000-alat-cek-corona-genose-rp20-ribu-disebar-februari-2021 (2021-02-22, 10.16 AM) ↑ Compound Risks of Hurricane Evacuation Amid the COVID‐19 Pandemic in the United States. https://agupubs.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1029/2020GH000319 (2021-02-21, 11.46 PM) ↑ https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200514065156-199-503147/ventilator-darurat-buatan-ri-diproduksi-bantu-pasien-corona (2021-02-22, 10.16 AM) ↑
Jan
12
Smart Meter: Definisi, Kegunaan, dan Implementasi Sederhana
Penulis: Victor Chris Samuel Purba, B.Eng, M.Eng., Ph.D. Salah satu komponen penting dari sebuah smart grid adalah smart meter. Smart meter didefinisikan sebagai sebuah pembaca penggunaan energi seorang konsumen dari suatu perusahaan utilitas yang memiliki fungsi lebih dari hanya merekam penggunaan energi dan menampilkannya pada meteran itu sendiri. Apa yang disebut dengan smart meter tidak hanya membaca dan merekam penggunaan energi, tetapi juga dapat mengirimkan informasi tersebut pada perusahaan utilitas secara remote sehingga mereka tidak perlu mengirimkan karyawannya untuk mengecek meteran dari konsumen-konsumennya secara manual. Perbedaan arsitektur dari meteran yang konvensional dan smart meter dapat disimpulkan dalam bagan pada Gambar 1. Penggunaan smart meter sekarang ini tidak hanya digunakan untuk mengukur listrik saja, tetapi juga utilitas lain seperti air dan gas. Artikel ini hanya berfokus kepada smart meter untuk listrik. Gambar 1. Arsitektur meteran konvensional dan smart grid [1]. Panah pada gambar menunjukkan arah komunikasi. Konsep dari pengukuran secara remote, atau disebut remote metering, sebenarnya sudah diperkenalkan pada tahun 1960an, tetapi baru pada tahun 1977 T. Paraskevakos menciptakan sistem remote metering yang komersil dan dapat terotomatisasi untuk jaringan listrik [2]. Perusahaan-perusahaan dan negara-negara di dunia sekarang ini sudah menghabiskan uang yang tidak sedikit untuk memasang smart meter pada pengguna listrik [3]. Di Indonesia sendiri, meteran di mana konsumen memasukkan token untuk dapat mengakses listrik (disebut prepaid meter) juga dikategorikan sebagai smart meter. Penggunaan smart meter dalam sebuah jaringan listrik pada jaman sekarang akan semakin penting. Selain kemampuan pembacaan secara remote, smart meter juga dapat menjalankan perintah kontrol secara remote, memonitor dan mengontrol peralatan listrik rumah tangga dengan persetujuan konsumen, serta dapat mengumpulkan informasi diagnostik mengenai jaringan distribusi dan berkomunikasi dengan smart meter lainnya [1]. Kebutuhan akan pengukuran yang akurat dan tersinkronisasi antara utilitas dan konsumer juga semakin penting dikarenakan semakin pesatnya keberadaan generasi terdistribusi (yaitu, energi terbarukan pada sistem distribusi) di mana perusahaan utilitas tidak hanya menjual, tetapi juga membeli listrik dari konsumen, sehingga membutuhkan informasi yang tepat mengenai jumlah energi yang dihasilkan oleh kedua pihak pada jaringan listrik [3]. Selain merekam pembacaan energi, smart meter juga dapat merekam informasi terkait lainnya, seperti daya faktor, daya aktif, reaktif, dan daya semu (apparent power), harmonik, serta pemadaman listrik [4]. Smart meter pada negara-negara di mana transaksi energi dilakukan secara market-based dapat melakukan demand response. Di sini, konsumen dapat membaca harga dari listrik secara real time sehingga dapat memindahkan beban kepada saat harga listrik lebih murah [5]. Skema mengenai sistem smart meter diilustrasikan pada Gambar 1. Sistem tersebut menggunakan beberapa perangkat kontrol, sensor untuk mengetahui parameter elektrik, dan beberapa perangkat untuk mengirimkan data sinyal perintah [1]. Perpindahan data dari smart meter dapat dibagi menjadi 2 bagian (seperti pada Gambar 1), yaitu pada Local Area Network (LAN) dan Wide Area Network (WAN). Jika hanya ada satu konsumen pada suatu sistem smart meter, maka data langsung dikirim ke internet melalui gateway. Sistem komunikasi yang biasa digunakan pada sistem smart meter adalah komunikasi seluler [6,7], power line communication (PLC) [8], yaitu perpindahan data melalui medium jaringan listrik, Zigbee [9], dan Wi-Fi [4]. Jenis mikroprosesor/mikrokontroler untuk membaca dan memroses data sensor juga berbeda-beda. Jika hanya untuk membaca data sensor dan memroses data tersebut secara sederhana, mikrokontroler yang biasa digunakan sekarang adalah Arduino [4,7]. Artikel ini akan membahas satu model smart meter yang diajukan oleh [4]. Model ini dapat diimplementasikan menggunakan alat-alat pada laboratorium IEE. Gambar 2. Bagan smart meter yang menggunakan teknologi IoT yang diajukan oleh [4]. Skema dari sistem smart meter yang diajukan oleh [4] diilustrasikan pada Gambar 2. Komponen-komponen utama dari sistem ini adalah Arduino UNO ATMEGA328, Modul Wi-fi ESP8266, transformer arus, transformer tegangan, dan satu layar LCD 16×2. Data kemudian dikirimkan melalui Wi-fi ke platform IoT ThingSpeak yang digunakan untuk mengumpulkan dan menyimpan data dalam cloud, serta dapat diakses melalui web browser atau aplikasi mobile. Pada sistem ini, transformer arus dan tegangan digunakan untuk menurunkan arus dan tegangan (step down) dari sumber sehingga berada pada jangkauan yang dapat dibaca oleh Arduino, yaitu 0 – 5 V. Dalam hal ini, transformer dengan rating 230V/10V dan 5A/5mA untuk transformer tegangan dan arus digunakan. Kemudian, sebuah ofset DC ditambahkan sehingga nilai mereka berada pada jangkauan tersebut. Arus dan tegangan yang telah diturunkan ini dihubungkan pada pin input analog dari Arduino untuk dibaca. Selanjutnya daya aktif, reaktif, semu, energi, dan faktor daya dapat dihitung dan ditampilkan pada LCD. Urutan dari komputasi parameter elektrik berdasarkan data mentah, yaitu data bacaan langsung dari sensor, adalah sebagai berikut: [4] Ukur nilai mentah dari tegangan dan arus melalui port ADC dari Arduino dan mulai sebuah counter untuk menghitung jumlah dari sampel digital (N) yang terkumpul pada waktu tertentu. Saring nilai offset dari sampel mentah yang terkumpul untuk mendapatkan nilai instan tegangan dan arus (kita sebut dan ). Cari nilai instan daya aktif dengan mengalikan dengan . Hitung beberapa parameter elektrik berikut: Tegangan dalam RMS (root mean square): , Arus dalam RMS: , Daya aktif rata-rata: , Daya semu: , Faktor daya: Hitung energi dari daya aktif dalam basis per satu detik. Tambah hitungan energi per detik secara terus menerus untuk mendapatkan bacaan yang sebenarnya. Gambar 3. Flow chart proses bekerja smart meter yang diajukan oleh [4]. Flow chart proses bekerja dari smart meter ini ditunjukkan pada Gambar 3. Proses ini dimulai dengan inisialisasi dan mendirikan koneksi menggunakan modul Wi-fi. Jika terhubung, maka kemudian mendirikan koneksi dengan channel IoT, dalam hal ini menggunakan ThingSpeak. Lalu, arduino mulai membaca data analog dari sensor, yaitu arus dan tegangan dari sumber yang telah diturunkan dengan transformer. Selanjutnya, semua parameter elektrik dihitung, yaitu daya aktif, reaktif, semu, faktor daya, dan energi. Data parameter elektrik diunggah ke ThinkSpeak dan ditampilkan di layar LCD. Pada artikel ini, kita membahas mengenai definisi dan kegunaan smart meter pada suatu jaringan listrik. Perbedaan mendasar dengan meteran konvensional, yaitu smart meter memiliki kemampuan untuk mengirimkan suatu informasi kepada perusahaan utilitas, beserta perbedaan arsitektur mereka telah dibahas. Salah satu desain dari sistem smart meter dari literatur yang menggunakan alat-alat yang relatif mudah didapatkan dan terjangkau juga telah dijelaskan pada artikel ini. Daftar Pustaka [1] S. S. S. R. Depuru, L. Wang, V. Devabhaktuni and N. Gudi, “Smart meters for power grid — Challenges, issues, advantages and status,” 2011 IEEE/PES Power Systems Conference and Exposition, 2011, pp. 1-7, doi: 10.1109/PSCE.2011.5772451. [2] S. Nimbargi, S. Mhaisne, S. Nangare and M. Sinha, “Review on AMI technology for Smart Meter,” 2016 IEEE International Conference on Advances in Electronics, Communication and Computer Technology (ICAECCT), 2016, pp. 21-27, doi: 10.1109/ICAECCT.2016.7942549. [3] L. Peretto, “The role of measurements in the smart grid era,” in IEEE Instrumentation & Measurement Magazine, vol. 13, no. 3, pp. 22-25, June 2010, doi: 10.1109/MIM.2010.5475163. [4] S. Saha, S. Mondal, A. Saha and P. Purkait, “Design and Implementation of IoT Based Smart Energy Meter,” 2018 IEEE Applied Signal Processing Conference (ASPCON), 2018, pp. 19-23, doi: 10.1109/ASPCON.2018.8748696. [5] L. I. Minchala-Avila, J. Armijos, D. Pesántez and Y. Zhang, “Design and Implementation of a Smart Meter with Demand Response Capabilities,” in Energy Procedia, vol. 103, doi: 10.1016/j.egypro.2016.11.272. [6] L. Labib, et. al., “Design and implementation of low-cost universal smart energy meter with demand side load management,” in IET Generation, Transmission & Distribution, vol. 11, no. 16, pp. 3938-3945, doi: https://doi.org/10.1049/iet-gtd.2016.1852. [7] B. Sahani, T. Ravi, A. Tamboli and R. Pisal, “IoT based smart energy meter,” in International Research Journal of Engineering and Technology (IRJET), 2017, vol.4, no. 4, pp. 96-102. [8] G. Aurilio, D. Gallo, C. Landi, M. Luiso and G. Graditi, “A low cost smart meter network for a smart utility,” 2014 IEEE International Instrumentation and Measurement Technology Conference (I2MTC) Proceedings, 2014, pp. 380-385, doi: 10.1109/I2MTC.2014.6860772. [9] V. Preethi and G. Harish, “Design and implementation of smart energy meter,” 2016 International Conference on Inventive Computation Technologies (ICICT), 2016, pp. 378-382, doi: 10.1109/INVENTIVE.2016.7823225.
Jan
12
Menjawab Tantangan Ketahanan Energi
Penulis : Lius Daniel, S.T., M.Eng., Ph.D. Pemenuhan kebutuhan energi di dunia merupakan salah satu tantangan yang sedang dan akan terus dihadapi dunia. Konsumsi energi global diprediksi akan meningkat signifikan dari konsumsi pada tahun 2000 yakni sebesar 13.5 TW menjadi 27 TW pada tahun 2050 (sekitar dua kali lipat dalam 50 tahun).1 Jumlah ini bahkan diprediksi terus meningkat tajam hingga 2100. Diantara konsumen energi global, transportasi adalah salah satu sektor yang mengambil porsi yang sangat besar. Berdasarkan data US Energy Information Administration (EIA), 29% dari total konsumsi energi di US merupakan kontribusi dari sektor transportasi, yang juga mewakili postur konsumsi dari sektor transportasi secara global.2 Tantangan tersebut diperparah dengan ketergantungan yang sangat besar pada sumber bahan bakar fosil. Data mencatat sekitar 88% pemenuhan sektor transportasi didapatkan dari bahan bakar fosil yang tidak terbarukan yang menghasilkan emisi berbasis karbon yang tinggi. 2 Meskipun mean carbon intensity (kg carbon yang dihasilkan per watt daya diproduksi) terus menunjukkan tren menurun, pemanfaatan sumber energi rendah emisi karbon dan pemanfaatan teknologi konversi energi berefisiensi tinggi memainkan peranan sangat penting dalam isu energi global, khususnya sektor transportasi. Aspek pertama dalam isu ketahanan energi yang perlu mendapat perhatian adalah sumber energi (energy sources). Dalam aspek ini, stakeholder dunia perlu perlahan-lahan melakukan transisi pada sumber energi dengan emisi karbon lebih rendah atau bahkan carbon-neutral. Dari beberapa kandidat sumber energi (seperti sinar matahari atau solar, wind, hydro, geothermal, dan nuklir), solar merupakan sumber energi yang paling melimpah, merata dan mempunyai ketersediaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energi global. Jumlah total energi solar yang sampai ke permukaan bumi adalah sekitar 4.3 × 1020 J, lebih besar dari kebutuhan energi global selama setahun pada 2001 (4.1 ×1020 J).3 Dari potensi yang sangat besar tersebut hanya <1% nya telah dikonversi menjadi energi yang siap dikonsumsi. Aspek kedua yang juga memegang peranan penting dalam isu ketahanan energi adalah penggunaan teknologi konversi energi yang efisien baik dalam skala industri maupun dalam skala kecil seperti rumah tangga atau kendaraan. Seperti yang telah dibahas diatas, sektor transportasi yang berkontribusi besar pada konsumsi energi global dan emisi gas rumah kaca masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil yang umumnya dikonversi menggunakan mesin berbasis internal combustion engine (ICE) yang memiliki efisiensi sangat rendah. Studi menunjukkan bahwa teknologi converter berbasis ICE seperti pada kendaraan yang umum ditemui dan pembangkit listrik memiliki efisiensi sekitar 40% lebih rendah daripada teknologi konversi energi berbasis elektrokimia seperti fuel cell.4 Teknologi untuk memanen dan mengonversi solar seperti photovoltaic panel, teknologi wind turbine dan hydro turbine untuk memanfaatkan energi dari wind dan hydro juga merupakan berbagai teknologi dengan angka efisiensi yang tinggi dan layak dikembangkan. Aspek penting lain yang juga berperanan penting dalam rangkaian peningkatan ketahanan energi adalah teknologi penyimpanan. Energi terbarukan yang diperoleh dari kebanyakan sumber terbarukan, seperti solar dan wind tidak tersedia secara konstan sepanjang waktu dan memiliki fleksibilitas konsumsi seperti sumber energi berbahan fosil sehingga teknologi penyimpanan memegang peranan penting untuk mengatur beban pemakaian dan produksi. Teknologi penyimpanan juga memungkikan energi terbarukan dipakai pada aplikasi mobile (bergerak) seperti kendaraan. Karakteristik teknologi penyimpanan yang sesuai adalah yang memiliki kapasitas penyimpanan besar dan produksi atau keluaran energi yang relatif cepat. Baterai dengan perkembangan terkini menggunakan Lithium (lithium-based battery) yang memiliki kapasitas penyimpanan besar menjadi salah satu solusi yang tepat untuk kebutuhan penyimpanan energi. Sebagai kesimpulan, isu kebutuhan energi yang diikuti dengan isu lingkungan hidup adalah tantangan yang sangat nyata dan dekat. Kebutuhan energi yang meningkat secara signifikan membutuhkan jawaban yang cepat dan tepat tanpa mengabaikan tanggung jawab menjaga keseimbangan level gas rumah kaca di atmosfer dan perubahan iklim. Pemilihan dan pemakaian sumber energi yang murah, melimpah dan bersih, pemanfaatan teknologi konversi yang efisien, serta pemgembagan teknologi penyimpanan merupakan aspek-aspek kritikal untuk menjawab tantangan isu energi dan lingkungan hidup kedepannya. References: (1) Lewis, N. S.; Nocera, D. G. Powering the Planet: Chemical Challenges in Solar Energy Utilization. Proc. Natl. Acad. Sci. 2006, 103, 15729–15735. (2) Administration, U. S. E. I. Monthly Energy Review October 2017; 2017. (3) Nations, U.; Council, W. E. World Energy Assessment: Energy and the Challenge of Sustainability; 2000. (4) Chubbock, S.; Clague, R. Comparative Analysis of Internal Combustion Engine and Fuel Cell Range Extender. SAE Int. J. Altern. Powertrains 2016, 5, 175–182.
Jan
12
What You Need To Know About Vaccine Against Sars-Cov2 Right Now
Penulis : Hartiyowidi Yuliawuri, S.Si., M.Biomed. Apakah vaksin itu? Apakah sama dengan imunisasi? Apa perbedaan antar jenis vaksin? Selama pandemi COVID-19, banyak pertanyaan yang terlintas diantara masyarakat mengenai vaksin. Vaksin bisa disebut imunisasi juga, karena memiliki tujuan untuk memicu kekebalan tubuh, sehingga meningkatkan jumlah sel imun dalam menghadapi paparan kuman penyebab infeksi. Dengan melakukan vaksinasi, tubuh kita diajari mengenali kuman tertentu dan bagaimana cara meresponnya. Tubuh akan menyiapkan “prajurit” yaitu sel-sel imun yang memiliki memori untuk kuman tertentu, sehingga ketika ada serangan, maka tubuh kita lebih siap berperang melawan mereka. Terdapat beberapa pendekatan untuk merancang vaksin. Seperti sebuah mobil memiliki bahan bakar khusus, vaksin memiliki bahan baku tertentu dalam perancangannya. Jenis vaksin yang dikembangkan untuk melawan virus SARS-CoV2 penyebab COVID-19 antara lain: vaksin Live Attenuated atau Inactivated whole virus, vaksin messenger RNA (mRNA), vaksin DNA, dan vaksin subunit (purified antigens). Berikut penjelasan dan contoh dari masing-masing jenis vaksin. Vaksin attenuated/inactivated whole virus. Vaksin ini menggunakan pendekatan tradisional yaitu mengambil virus, memperbanyak virus, dan melemahkan atau menginaktivasi virus. Oleh karena itu, teknik ini sangat cepat dikembangkan karena teknologi sudah sering digunakan khususnya di Indonesia, seperti vaksin MMR, BCG, Varicella untuk virus dilemahkan, dan polio, influenza serta hepatitis A untuk virus inaktivasi. Jenis vaksin inaktivasi yang digunakan untuk SARSCoV2 yaitu SINOVAC. Vaksin messenger RNA (mRNA). Vaksin ini berbasis mRNA (mRNA spike) yang dienkapsulasi (dibungkus) oleh nanopartikel berupa lipid. Contohnya yaitu vaksin Moderna dan Pfizer-BioNTech. Kekurangannya struktur mRNA kurang stabil pada suhu ruang sehingga vaksin jenis ini perlu disimpan di dalam freezer suhu -20 sampai -70°C. Vaksin DNA. Vaksin jenis ini dikembangkan oleh tim Oxford-AstraZeneca untuk melawan virus SARS-CoV 2. Sebagian dari virus (DNA spike) dimasukkan ke dalam vektor Adenovirus. Vektor sebagai kendaraan yang mengantarkan paket (contoh: DNA spike SARS-CoV2) ke dalam sel. Wah mengapa ada tambahan virus lainnya (adenovirus)? Tenang, karena sebagai vektor tugasnya mengantarkan paket dan vektor tidak dapat bereplikasi/berkembangbiak dalam sel. Setelah berhasil masuk ke sel, paket dihantarkan ke inti sel (nukleus). Di inti sel, paket ini (DNA spike) kemudian menjadi mRNA lalu keluar dari inti sel dan menjadi protein. Protein muncul ke permukaan sel dan dikenali oleh sistem imun. Karena bentuk DNA (untai ganda), maka vaksin ini lebih stabil dibandingkan jenis mRNA (untai tunggal). Vaksin dapat disimpan di kulkas suhu (2-8°C) selama kurang lebih enam bulan. Vaksin Subunit (purified antigens). Pendekatan ini digunakan tim peneliti di Lembaga Eijkman sebagai lembaga utama untuk mengembangkan vaksin merah putih, beserta lembaga mitra dari institusi maupun universitas. Vaksin tersebut berbasis rekombinan protein yaitu subunit protein S (Spike) dan N (Nucleocapsid). Sampai saat ini, vaksin merah putih dalam tahap pengembangan dan selanjutnya akan diproduksi massal oleh PT. BioFarma. Apakah booster (pengulangan) vaksin ketiga diperlukan? Ada dua istilah yang perlu dibedakan, yaitu antara dosis vaksin booster dengan dosis vaksin tambahan. Dikutip dari pernyataan WHO (October 2021), dosis vaksin booster diperuntukkan bagi orang yang sudah pernah mendapatkan vaksin dosis pertama atau kedua (bergantung pada produknya), ketika seiring berjalannya waktu imunitas tubuh menurun. Tujuan dari dosis vaksin booster adalah untuk mengembalikan efektivitas vaksin yang dianggap tidak mencukupi lagi. Sedangkan, dosis vaksin tambahan diperuntukkan bagi orang dengan kondisi tertentu (seperti orang dengan penyakit sistem imun atau lanjut usia) atau kebijakan dari pemerintah nasional bagi populasi yang memerlukan imunitas tambahan. Tujuan dari dosis tambahan adalah untuk mengoptimalkan atau meningkatkan respon imun sehingga diperoleh efektivitas yang cukup untuk melawan penyakit. Jadi dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa masyarakat sebenarnya sudah mendapatkan dosis vaksin booster kedua sesuai dengan produk vaksin yang diterima. Keperluan booster vaksin ketiga, atau yang lebih tepat disebut adalah dosis vaksin tambahan, diperlukan hanya bagi masyarakat yang memerlukan imunitas tambahan seperti pekerja di rumah sakit, orang lanjut usia atau yang memiliki penyakit imunitas. Kontributor: Hartiyowidi Yuliawuri, M. Biomed. & Jeanne Elvia Christian, M. Biomed. Referensi Baden LR, El Sahly HM, Essink B, Kotloff K, Frey S, Novak R, Diemert D, Spector SA, Rouphael N, Creech CB, McGettigan J, Khetan S, Segall N, Solis J, Brosz A, Fierro C, Schwartz H, Neuzil K, Corey L, Gilbert P, Janes H, Follmann D, Marovich M, Mascola J, Polakowski L, Ledgerwood J, Graham BS, Bennett H, Pajon R, Knightly C, Leav B, Deng W, Zhou H, Han S, Ivarsson M, Miller J, Zaks T; COVE Study Group. Efficacy and Safety of the mRNA-1273 SARS-CoV-2 Vaccine. N Engl J Med. 2021 Feb 4;384(5):403-416. doi: 10.1056/NEJMoa2035389. Epub 2020 Dec 30. PMID: 33378609; PMCID: PMC7787219. Corum, Jonathan & Carl Zimmer. How the Oxford-AstraZeneca Vaccine Works. 2021 May 7th [cited 2021 November 2nd]. Available from: https://www.nytimes.com/interactive/2020/health/oxford-astrazeneca-covid-19-vaccine.html Lembaga Eijkman. Pembaruan Vaksin COVID-19. 2020 [cited 2021 November 2nd]. Available from: http://covid19.eijkman.go.id/pembaruan-vaksin/. Thomas, S. J., Moreira, E. D., Kitchin, N., et al. (2021). Safety and Efficacy of the BNT162b2 mRNA Covid-19 Vaccine through 6 months. The New England Journal of Medicine. doi:10.1056/NEJMoa2110345. https://www.nejm.org/doi/10.1056/NEJMoa2110345. WHO. Interim statement on booster doses for COVID-19 vaccination. 2021 October 4th [cited 2021 November 2nd]. Available from: https://www.who.int/news/item/04-10-2021-interim-statement-on-booster-doses-for-covid-19-vaccination.
Jan
12
Aplikasi Genome Editing Tool CRISPR-Cas untuk Deteksi dan Terapi SARS-CoV-2
Penulis : Edvan A. Suherman, S.Si., M.Si., Jeanne E. Christian, S.Si., M.Biomed. Pandemi COVID-19 yang kita alami sejak awal Maret 2020 hingga sekarang bukanlah yang pertama kali terjadi di dunia. Sejarah mencatat bahwa berbagai wabah penyakit menular terjadi berulang kali. Pandemi yang disebut Black Death terjadi di abad ke-14, Flu Spanyol di tahun 1918, SARS di tahun 2002-2003, flu babi/H1N1 di tahun 2009, MERS di tahun 2012, Ebola di tahun 2014-2016, dan Zika di tahun 2015-2016 (Huremović, 2019). Setiap kali terjadi pandemi, selalu ada hambatan dalam meresponi ancaman virus yang muncul. Hambatan tersebut adalah ketiadaan atau kurangnya pengujian/tes untuk mendeteksi virus dengan cepat, akurat, dan mudah diakses (Broughton dkk., 2020). Tes yang sudah banyak digunakan untuk mendeteksi SARS-CoV-2 menggunakan metode quantitative RT-PCR (qRT-PCR) dan serologi. Akan tetapi, kedua metode deteksi tersebut memiliki kelemahan. Metode qRT-PCR membutuhkan waktu 4-6 jam untuk mendeteksi virus (Broughton dkk., 2020). Metode serologi memang bereaksi dengan cepat dan tidak memerlukan peralatan mahal. Namun demikian, metode ini hanya mendeteksi antibodi yang melawan infeksi SARS-CoV-2 dan tubuh memerlukan waktu beberapa hari hingga minggu untuk memproduksi antibodi hingga kadarnya cukup tinggi untuk dapat terdeteksi (Zhang dkk., 2020). Apakah ada tes alternatif yang menghilangkan kelemahan-kelemahan dari metode qRT-PCR dan metode serologi? Apa kaitan antara genome editing tool CRISPR-Cas dan COVID-19? Artikel ini akan membahas semua pertanyaan tersebut. Sebelumnya, kita harus memahami terlebih dahulu mengenai CRISPR-Cas. Kembali ke dasar: Biologi CRISPR-Cas Apa itu CRISPR-Cas? Kata “CRISPR” adalah singkatan dari Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats. Jika dilihat dari nama panjangnya, kita akan mendapat sedikit petunjuk mengenai karakteristik CRISPR. CRISPR adalah serangkaian urutan DNA berulang yang pendek dan diselingi secara reguler oleh urutan DNA unik dengan ukuran serupa yang disebut spacer. Cas juga merupakan singkatan, yaitu CRISPR associated (Cas) genes (Grissa dkk., 2007). Rangkaian urutan CRISPR bersama dengan gen-gen Cas membentuk sistem CRISPR-Cas (Gasiunas & Siksnys, 2013). CRISPR pertama kali ditemukan pada genom Escherichia coli pada tahun 1987 (Ishino dkk., 1987). Beberapa tahun kemudian, banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa CRISPR-Cas ditemukan pada banyak prokariota (arkaea dan bakteri) (Grissa dkk., 2007). Sistem CRISPR-Cas yang ditemukan dalam berbagai prokariota telah diklasifikasikan ke dalam enam tipe berbeda (tipe I-VI) (Mohanraju dkk., 2016). Apa fungsi CRISPR-Cas di dalam sel bakteri? Pada tahun 2007 (20 tahun setelah CRISPR ditemukan), Horvath dkk., melaporkan hasil penelitiannya yang membuktikan bahwa sistem CRISPR-Cas tipe II berfungsi sebagai sistem imunitas adaptif bakteri untuk melawan virus yang menginfeksi (Barrangou dkk., 2007). Ketika virus menginfeksi bakteri, virus akan menginjeksikan materi genetikanya ke dalam sel bakteri. Fragmen DNA virus tersebut akan diintegrasikan ke dalam rangkaian CRISPR pada kromosom bakteri inang sebagai spacer baru. Urutan spacer ini berperan seperti genetic record atau memori dari infeksi sebelumnya, yang memampukan bakteri inang untuk melawan invasi virus yang sama di masa depan. Rangkaian CRISPR dalam bakteri akan diproses (transkripsi) untuk menghasilkan precursor-CRISPR RNA (pre-crRNA). Sementara itu, gen trans-activating CRISPR RNA (tracrRNA) ditranskripsikan secara terpisah dari rangkaian CRISPR dan berikatan dengan pre-crRNA melalu pasangan basa yang sesuai (komplemen) untuk membentuk molekul ganda pre-crRNA – tracrRNA. Molekul pre-crRNA kemudian dipotong oleh enzim RNase III untuk menghasilkan CRISPR RNA (crRNA) yang lebih pendek (~20 nukleotida) dan fungsional. Ketika bakteri diinfeksi oleh virus yang sama untuk kedua kalinya, molekul ganda crRNA-tracrRNA akan mengikat protein Cas9 dan kompleks nukleoprotein ini akan mengikat ke fragmen DNA virus yang memiliki urutan yang komplemen dengan urutan crRNA. Selanjutnya, protein Cas9 yang adalah enzim pemotong asam nukleat akan memotong DNA virus, sehingga virus tidak dapat meneruskan proses infeksinya (Jiang & Doudna, 2017). Pengembangan sistem CRISPR-Cas sebagai teknologi genome editing: from nature to lab. bench Jinek dkk. (2020), meneliti tentang molekul ganda crRNA-tracrRNA dan merekayasanya menjadi molekul RNA tunggal yang disebut single guide RNA (sgRNA). Molekul sgRNA tidak kehilangan fungsi dari molekul ganda crRNA-tracrRNA, yaitu dapat mengikat Cas9 dan membawanya ke urutan DNA yang komplemen untuk melakukan pemotongan DNA secara spesifik. Melihat potensi ini, Jinek dkk. menyadari bahwa CRISPR-Cas dapat dikembangkan menjadi teknologi genome editing yang baru. Genome editing adalah teknik untuk memanipulasi materi genetik organisme dengan menghapus, mengganti, atau memasukkan urutan DNA. Umumnya genome editing bertujuan untuk meningkatkan kualitas tumbuhan, hewan ternak, atau memperbaiki mutasi yang mengakibatkan penyakit genetik (OxfordLanguages). CRISPR-Cas sebagai genome editing tool terdiri dari dua komponen yaitu, sgRNA dan protein Cas. Di dalam sel, sgRNA akan mengikat Cas dan mengantarkannya ke gen target. Setelah sgRNA dan Cas menempel pada urutan gen target, protein Cas yang adalah enzim nuklease akan memotong untai ganda DNA target. Jadi, protein Cas berfungsi seperti “gunting molekuler.” Kerusakan DNA ini memicu sel untuk melakukan perbaikan DNA yang cenderung mengakibatkan perubahan urutan DNA di tempat pemotongan. Perubahan urutan DNA ini dapat menonaktifkan gen yang menyebabkan suatu penyakit pada ternak atau manusia. Selain itu, peneliti juga dapat menambahkan potongan DNA ke dalam sel untuk menggantikan urutan gen yang termutasi dengan urutan gen yang normal, sehingga berpotensi menyembuhkan penyakit genetik. Molekul sgRNA dapat disintesis di laboratorium dengan urutan basa nukelotida yang disesuaikan (custom) agar komplemen dengan urutan DNA target. Dengan demikian, Cas dapat diprogram oleh sgRNA sintetik untuk melakukan pemotongan gen dari berbagai organisme secara spesifik/tertarget. Kemampuan Cas yang dapat diprogram oleh sgRNA sintetik untuk memotong urutan DNA secara spesifik inilah yang dimanfaatkan oleh peneliti sebagai dasar molekuler dari teknologi deteksi SARS-CoV-2. Aplikasi CRISPR-Cas untuk deteksi SARS-CoV-2 Feng Zhang dkk. di Broad Institute dari MIT dan Harvard, menggunakan Cas13a pada teknologi deteksi asam nukleat yang dinamakan Specific High-Sensitivity Enzymatic Reporter UnLOCKing (SHERLOCK). Protein Cas13a yang termasuk dalam sistem CRISPR-Cas tipe VI adalah enzim ribonuklease (RNase). Selain memotong RNA target, Cas13a juga memiliki aktivitas kolateral, yaitu dapat memotong molekul-molekul RNA non target yang terdapat di sekitarnya. Aktivitas kolateral ini teraktivasi ketika kompleks crRNA-Cas13a berikatan dengan RNA target. Cas13a dapat diprogram untuk mendegradasi RNA virus dengan menentukan urutan nukleotida pada crRNA agar dapat berikatan dengan RNA virus (Abudayyeh dkk., 2016). Sebenarnya, kompleks crRNA-Cas13a yang mendasari sistem SHERLOCK sudah pernah direkayasa sebelumnya untuk mendeteksi virus Zika dan virus Dengue, dan memberikan hasil deteksi yang spesifik (Gootenberg dkk., 2017). Sistem SHERLOCK ini dikonfigurasi ulang oleh tim peneliti di Broad Institute menggunakan sgRNA sintetik yang dapat berikatan dengan urutan DNA tertentu dari SARS-CoV-2. Teknologi SHERLOCK untuk deteksi SARS-CoV-2 dalam sampel pasien melalui tiga tahap. Tahap pertama adalah inkubasi RNA yang telah diekstraksi dari pasien dengan reaksi amplifikasi isotermal pada suhu 42oC selama 25 menit. Tahap kedua adalah inkubasi reaksi dari tahap pertama dengan protein Cas13, sgRNA sintetik, dan molekul reporter pada suhu 37oC selama 30 menit. Tahap terakhir dilakukan dengan mencelupkan kertas strip uji ke dalam reaksi dari tahap kedua. Hasil ditunjukkan melalui sinyal visual yang muncul dalam waktu 5 menit (Broad Institute, 2020). Dengan demikian, teknologi SHERLOCK hanya membutuhkan waktu reaksi selama ±60 menit. Teknologi SHERLOCK menggunakan format tes berbasis kertas (lateral flow strip) yang mudah digunakan dan tidak membutuhkan prasarana laboratorium yang kompleks. Teknologi SHERLOCK diharapkan dapat menjadi alat deteksi SARS-CoV-2 yang efektif untuk membantu mencegah penularan. Aplikasi CRISPR-Cas untuk terapi antivirus SARS-CoV-2 Aplikasi sistem CRISPR-Cas untuk membantu menanggulangi pandemi COVID-19 tidak terbatas hanya untuk deteksi SARS-CoV-2. Sistem CRISPR-Cas juga dapat diaplikasikan untuk terapi antivirus SARS-CoV-2, misalnya sistem Antibody and Cas Fusion (ABACAS). Pada ABACAS, Cas13 digabungkan dengan fragmen antibodi (Ab) spesifik. Kompleks Cas13-Ab akan mengikat ke protein S yang terdapat pada permukaan SARS-CoV-2. Protein S adalah protein yang memediasi infeksi virus SARS-Cov-2 melalui interaksi dengan reseptor ACE2 yang terdapat pada permukaan sel inang (Nalawansha & Samarasinghe, 2020). Protein Cas13 menempel pada partikel virus. Dengan demikian, ketika virus masuk ke dalam sel inang (sel manusia), maka komponen CRISPR-Cas juga ikut masuk. Di dalam sel inang, RNA virus dan ABACAS akan dilepaskan. Protein Cas13 dari ABACAS akan menempel pada RNA virus, kemudian memotongnya sebelum RNA virus direplikasikan dan ditranslasikan di dalam sel inang. Penggunaan ABACAS dapat menghambat perbanyakan virus di dalam sel inang dengan mengganggu penempelan SARS-CoV-2 melalui protein S ke reseptor ACE2 dan memotong RNA virus di dalam sel yang terinfeksi. Akan tetapi, masih ada kelemahan dari terapi ini, yaitu penggunaan antibodi monoklonal yang memerlukan biaya yang tinggi dan kemungkinan terjadinya resistansi (Nalawansha & Samarasinghe, 2020). Ringkasan CRISPR-Cas adalah suatu sistem molekuler yang terdiri dari DNA dengan karakteristik yang khas dan protein (enzim) Cas yang memotong urutan DNA/RNA secara spesifik. Sistem CRISPR-Cas ditemukan secara alami di dalam sel prokariota dan berperan sebagai sistem imunitas untuk melawan virus yang menginfeksi. Ilmuwan merekayasa sistem alami ini menjadi suatu teknologi molekuler yang disebut genome editing tool. Akhir-akhir ini, teknologi CRISPR-Cas dikembangkan untuk membantu menanggulangi pandemi COVID-19. Misalnya, teknologi SHERLOCK yang menggunakan sistem CRISPR-Cas13a untuk mendeteksi SARS-Cov-2 dengan cepat, mudah dilakukan, dan akurat. Sistem CRISPR-Cas juga dikembangkan untuk terapi antivirus SARS-Cov-2. Misalnya, sistem ABACAS yang dapat memotong RNA virus sehingga menghentikan translasi dan replikasi genom virus di dalam sel yang terinfeksi. Selain itu, fragmen antibodi dari ABACAS dapat mengganggu interaksi antara protein S virus dan reseptor ACE2 sel inang, sehingga meminimalisir masuknya virus ke dalam sel inang. Penulis: Edvan A. Suherman, M.Si. dan Jeanne E. Christian, M.Biomed. Informasi detail dari artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami yang telah dipublikasikan di buku Bunga Rampai Forum Peneliti Muda Indonesia 2020: Tetap Berkarya dalam Masa Pandemi COVID-19 (Tersedia di Perpustakaan CIT). Referensi Abudayyeh, O. O., J. S. Gootenberg, S. Konermann, J. Joung, I. M. Slaymaker, D. B. Cox, S. Shmakov, K. S. Makarova, E. Semenova, L. Minakhin, K. Severinov, A. Regev, E. S. Lander, E. V. Koonin, & F. Zhang. 2016. C2c2 is a single-component programmable RNA-guided RNA-targeting CRISPR effector. Science, Vol. 353, No. 6299: hal. aaf5573-1 – aaf5573-9. https://doi.org/10.1126/science.aaf5573. Broad Institute. 2020. Enabling coronavirus detection using CRISPR-Cas13: Open-access SHERLOCK research protocols and design resources. https://www.broadinstitute.org/news/enabling-coronavirus-detection-using-crispr-cas13-open-access-sherlock-research-protocols-and. Diakses pada tanggal 29 September 2020. Broughton, J. P., X. Deng, G. Yu, dkk. 2020. CRISPR–Cas12-based detection of SARS-CoV-2. Nature Biotechnology. Vol. 38: hal. 870-874. https://doi.org/10.1038/s41587-020-0513-4. Gasiunas, G. dan V. Siksnys. 2013. RNA-dependent DNA endonuclease Cas9 of the CRISPR system: Holy Grail of genome editing? Trends in Microbiology Vol. 21, No. 11: hal. 562-567. https://doi.org/10.1016/j.tim.2013.09.001. Grissa, I., G. Vergnaud, & C. Pourcel. 2007. The CRISPRdb database and tools to display CRISPRs and to generate dictionaries of spacers and repeats. BMC bioinformatics. Vol. 8, No. 172: hal. 1-10. https://doi.org/10.1186/1471-2105-8-172. Huremović, D. 2019. “Brief History of Pandemics (Pandemics Throughout History)”. Dalam Damir Huremović (Ed.). Psychiatry of Pandemics: A Mental Health Response to Infection Outbreak. Switzerland: Springer Nature. https://doi.org/10.1007/978-3-030-15346-5_2. Ishino, Y., H. Shinagawa, K. Makino, M. Amemura, A. Nakata. 1987. Nucleotide sequence of the iap gene, responsible for alkaline phosphatase isozyme conversion in Escherichia coli, and identification of the gene product. Journal of Bacteriology. Vol. 169, No. 12: hal. 5429-5433. doi: 10.1128/jb.169.12.5429-5433.1987. Jiang, F. dan J. A. Doudna. 2017. CRISPR–Cas9 Structures and Mechanisms. Annual Review of Biophysics. Vol. 46: hal. 505-529. https://doi.org/10.1146/annurev-biophys-062215-010822. Jinek, M., K. Chylinski, I. Fonfara, M. Hauer, J. A. Doudna, & E. Charpentier. 2012. A programmable dual-RNA-guided DNA endonuclease in adaptive bacterial immunity. Science (New York, N.Y.), Vol. 337, No. 6096: hal. 816-821. https://doi.org/10.1126/science.1225829. Nalawansha, D. A. dan K. T. G. Samarasinghe. 2020. Double-Barreled CRISPR Technology as a Novel Treatment Strategy For COVID-19. ACS Pharmacology Translational Science. https://doi.org/10.1021/acsptsci.0c00071. Zhang, W., R. H. Du, B. Li, X. S. Zheng, X. L. Yang, B. Hu, Y. Y. Wang, G. F. Xiao, B. Yan, Z. L. Shi & P. Zhou. 2020. Molecular and serological investigation of 2019-nCoV infected patients: implication of multiple shedding routes. Emerging Microbes & Infections. Vol. 9, No. 1: hal. 386-389. doi: 10.1080/22221751.2020.1729071.
Jan
12
Analisa Kontribusi Berbagai Pemangku Kepentingan dalam Pengelolaan Perubahan Menuju Bangunan Hijau di Indonesia
Penulis : Filia Christy, B.Envs., M.Arch. Intensitas peningkatan pemanasan global pada beberapa tahun belakangan ini mendorong urgensinya perubahan, dimana suhu bumi berpotensi melampaui kenaikan 1,5 derajat celcius yang adalah target semula (IPCC, 2021). Mengingat bahwa bangunan berkontribusi terhadap 38% emisi CO2 secara global (GABC, 2020), maka industri bangunan menjadi sorotan penting dalam membawa perubahan terhadap pemanasan global. Dalam konteks Indonesia, peran dari berbagai pemangku kepentingan menjadi sangat kritis dalam mengelola perubahan, seperti kebijakan pemerintah terkait bangunan berkelanjutan, institusi bangunan berkelanjutan, pelaku industri bangunan dan setiap individu yang bersinggungan dalam penggunaan gedung. Esai ini berargumen bahwa kerangka pengelolaan perubahan (change management framework) perlu diterapkan dalam memahami perkembangan bangunan hijau di Indonesia berdasarkan kontribusi berbagai pihak seperti pemerintahan, institusi dan pemain industri bangunan. Dengan menggunakan konsep Zero Touch Change Management Framework, konstribusi setiap pemangku kepentingan dan personal dapat dianalisis dan ditelaah untuk perencaaan strategis dalam pengelolaan perubahan menuju bangunan hijau. Didalam setiap proses transformasi, diperlukan suatu kerangka pikir dalam pengelolaan perubahan. Salah satu teori dalam mengelola perubahan di zaman digital disebut sebagai Zero Touch Change Management Framework yang dicanangkan oleh Wipro Digital Consulting (Jha, 2020). Aspek dari Zero Touch Change Management Framework adalah: Keselarasan Kepemimpinan (Leadership Alignment) Visi untuk Perubahan (Vision for Change) Komunikasi (Communication) Pendidikan dan Pelatihan (Education and Training) Keterlibatan Pemangku Kepentingan (Stakeholder Engagement) Keselarasan Organisasi (Organization Alignment) Kesiapan dan Adopsi Bisnis (Business Readiness and Adoption) Budaya dan Perilaku (Culture and Behavior) Setiap aspek tersebut diperlukan dalam berpindah dari status semula menjadi status masa depan, melalui kepemimpinan, kesadaran, eksplorasi, pemahaman, realisasi, dan penerimaan (Jha, 2020). Maka, kerangka pikir Zero Touch Change Management ini menjadi berguna dalam menelaah perkembangan perubahan menuju bangunan hijau di Indonesia. Gambar 1. Skema Zero Touch Change Management Framework oleh Wipro Digital Consulting (Jha, 2020). Dari segi Pemerintah Indonesia, penerapan kebijakan dalam skala nasional dan daerah menjadi penting dalam bagian pengelolaan perubahan menuju bangunan hijau. Keselarasan kepemimpinan (leadership alignment) dan visi untuk perubahan (vision for change) dapat terlihat dari komitmen Indonesia dalam menindaklanjuti pemanasan global dan Persetujuan Paris yang dituangkan dalam UU No. 16 Tahun 2015 dan dokumen NDC (Nationally Determined Contribution) beserta strategi implementasinya (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2017). Secara nyata dalam konteks bangunan hijau, pemerintah daerah telah mengupayakan kebijakan bangunan gedung hijau seperti Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 38 Tahun 2012 dan Peraturan Walikota Bandung No. 1023 Tahun 2016. Lalu pada tahun 2021, kebijakan tentang Bangunan Gedung Hijau (BGH) telah ditetapkan secara nasional melalui Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2021. Peraturan berisi kriteria-kriteria penting dalam bangunan hijau seperti pengelolaan lahan, energi, air, bahan, sampah dan udara. Hal ini menunjukkan kesadaran pemerintah akan urgensinya bangunan hijau dan kontribusi pemerintah dalam pengelolaan perubahan bangunan berkelanjutan yang semakin meningkat pada beberapa dekade belakangan ini. Dari segi institusi, keaktifan dalam komunikasi (communication), pendidikan, dan pelatihan (education and training) menunjukkan peranan yang besar dalam pengelolaan perubahan menuju bangunan hijau. Institusi nirlaba seperti Green Building Council Indonesia (GBCI, 2021) telah menunjukkan visi dalam mentransformasi pasar menuju bangunan hijau lewat advokasi kepada pemerintahan, industri, institusi pendidikan tinggi dan lain sebagainya. Lalu, pengembangan sistem penilaian/rating tools dalam bangunan hijau bernama Greenship bertujuan meningkatkan mutu bangunan yang terukur dan tersertifikasi. Lalu, melalui pendidikan berbasis pelatihan baik bagi orang awam dan profesional di bidang arsitektur, konstruksi dan teknik menunjukkan inisiatif yang besar menuju bangunan hijau. Selain itu, institusi perguruan tinggi juga berperan dalam membentuk calon pelaku industri masa depan yang memahami pentingnya bangunan berkelanjutan, yang dapat direalisasikan dalam pengembangan kurikulum pendidikan formal yang menuju pada bangunan hijau. Selain daripada pihak pemerintahan dan institusi, keterlibatan pemangku kepentingan (stakeholder engagement) dari industri menjadi penting dalam pengelolaan perubahan. Perusahaan dalam bidang arsitektur, konstruksi, teknik sipil, struktur, mechanical, electrical dan plumbing (MEP) perlu mempunyai keselarasan organisasi (organization alignment) dan visi menuju bangunan hijau. Kemudian, visi tersebut perlu dituangkan dalam bentuk langkah-langkah konkrit beserta indikator pencapaian agar kinerja dapat terukur dan pengelolaan perubahan dapat terkontrol dengan baik. Pada tahun 2019, jumlah bangunan di Indonesia yang tersertifikasi sebagai green building oleh GBCI masih sejumlah 49 (Hamonangan & Himawan, 2019), yang menunjukkan belum banyak pemain industri yang menekankan pentingnya memiliki bangunan hijau. Salah satu faktor yang mempengaruhi hal tersebut adalah tantangan dalam perubahan paradigma dan cara kerja, dari yang terdahulunya menghasilkan bangunan boros energi menjadi bangunan hijau yang efisien dan hemat energi. Hal ini menuntut adanya kesiapan dan adopsi bisnis (business readiness and adoption) untuk merealisasikan visi bangunan hijau secara nyata. Selain itu, peranan konsultan yang berspesialisasi dalam bangunan berkelanjutan menjadi sangat dibutuhkan dalam perubahan yang siginifikan dalam mengubah komposisi pemain industri yang mengedepankan bangunan hijau. Setelah pihak pemerintah, institusi dan industri bekerjasama dalam menjalankan perubahan, maka hasil yang diharapkan adalah adanya perubahan budaya dan perilaku (culture and behavior) masyarakat dan pasar menuju bangunan hijau. Tanpa didukung oleh kekuatan massa, maka laju kemajuan perubahan di Indonesia akan sangat lambat. Meskipun studi telah menyatakan bahwa bangunan berkelanjutan tidak selalu identik dengan harga yang lebih mahal dan bahkan mampu mengurangi biaya operasional dalam jangka panjang, tetap saja keinginan pasar tidak mudah untuk dirubah (Nugroho, 2020). Ditengah kultur kapitalisme yang tidak seimbang, maka masyarakat perlu kembali memperhatikan tiga pilar pengembangan keberlanjutan, yakni lingkungan, sosial dan ekonomi. Keuntungan monetari harus dikaji juga dari sisi dampak lingkungan dan sosial. Jika semakin banyak masyarat Indonesia memahami dan melaksanakan prinsip keberlanjutan tersebut secara seimbang, maka Indonesia akan semakin cepat berubah menuju masyarakat berbudaya dan berperilaku hijau. Sebagai kesimpulan, analisa terhadap perkembangan di Indonesia terkait pengelolaan perubahan menuju bangunan hijau menunjukkan langkah yang baik dan nyata dari berbagai pemangku kepentingan. Dengan menggunakan kerangka pikir Zero Touch Change Management, dapat terlihat bahwa pemerintahan, institusi, industri dan masyarakat memiliki peranan masing-masing dalam mewujudkan perubahan. Melihat perkembangan terkini dalam kebijakan nasional pemerintah terkait Bangunan Gedung Hijau dan kegigihan advokasi oleh berbagai institusi, maka diharapkan cepat atau lambat industri dan masyarakat akan ikut menyadari dan berkomitmen dalam berubah menuju bangunan hijau di Indonesia. Referensi Global Alliance for Buildings and Construction. (2020). Global Status Report For Buildings And Construction. https://globalabc.org/sites/default/files/inline-files/Buildings%20GSR_Executive_Summary%20FINAL_0.pdf. Green Building Council Indonesia (2021). Green Building Council Indonesia. https://www.gbcindonesia.org/ Hamonangan, J. & Himawan, A. (2019). Jumlah Gedung Bersertifikat Green Building di Indonesia Masih Minim. Wartakota. https://wartakota.tribunnews.com/2019/09/24/jumlah-gedung-bersertifikat-green-building-di-indonesia-masih-minim. Intergovernmental Panel on Climate Change. (2021). Climate Change 2021: The Pysical Science Basis. Sixth Assessment Report. https://www.ipcc.ch/report/ar6/wg1/. Jha, M. (2020, April 20). Changing Change Management with Zero-Touch Intervention. Wipro Digital. https://wiprodigital.com/2020/04/20/changing-change-management-with-zero-touch-intervention/. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2017). Strategi Implementasi NDC. Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim. http://ditjenppi.menlhk.go.id/reddplus/images/adminppi/dokumen/strategi_implementasi_ndc.pdf. Nugroho, B. (2020). The Concept of Sustaniability. Green Building Council Indonesia, Training Greenship Associate.
Jan
11
Perubahan Iklim, Bangunan Hijau, dan Berprilaku Hijau
Penulis: Nathania Wijaya, B.Arts., M.Arch. Revolusi industri membawa berbagai macam dampak terhadap dunia ini, baik itu dampak positif maupun negatif. Banyak aspek dari kehidupan manusia yang dirubahkan melalui revolusi industri. Salah satunya adalah percepatan laju perkembangan teknologi, industri, dan infrastruktur. Tanpa disadari, limbah – limbah yang dihasilkan dari perkembangan revolusi industri inilah yang pada akhirnya memicu terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim. Pada akhir abad 20, banyak ilmuan yang sudah melakukan penelitian dan pengukuran terhadap perubahan iklim di dunia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan yang dihasilkan akibat dari revolusi industri mengeluarkan limbah-limbah yang berbahaya, terutama mengeluarkan limbah CO2 dan gas-gas berbahaya lainnya yang akan terakumulasi di atmosfir bumi dan membentuk efek rumah kaca alami. Efek rumah kaca ini akan memantulkan radiasi matahari kembali ke bumi dan mengakibatkan kenaikan suhu bumi, Seperti efek domino, kenaikan suhu bumi ini berdampak besar terhadap alam dan segala makhluk yang ada di bumi, termasuk manusia. Tercatat di dalam artikel ilmiah karya Elza Surmaini dan teman-teman, bahwa bumi sudah mengalami kenaikan suhu hingga 0.76°C hingga tahun 2005 dan permukaan air laut sudah mengalami kenaikan hingga 0.17 m pada abad ke-20 (Surmaini 2011). Suhu bumi yang naik membuat es yang berada di kedua kutub bumi mulai mencair, mengakibatkan kenaikan permukaan air laut. Hal ini akan menimbulkan ancaman banjir dan ketenggelaman bagi banyak kota yang berada di sekitar batas-batas tepi laut jika tidak diatasi dengan baik, termasuk ibukota Indonesia, Jakarta. Kenaikan suhu bumi dan permukaan air laut juga akan menyebabkan perubahan ekosistem air dan laut yang jika tidak dimitigasi dengan baik, dalam kurun waktu yang panjang, akan mengakibatkan pemutihan ekosistem koral yang ada di laut. Tidak hanya mengubah ekosistem laut, hal ini juga dapat memicu banyaknya badai-badai laut dan bahkan gelombang pasang/tsunami (Muhammad 2009). Pada akhirnya, perubahan iklim akan mengubah ekosistem dunia secara keseluruhan. Binatang dan tumbuh-tumbuhan yang tidak dapat beradaptasi akan mengalami kepunahan. Kehidupan manusia pun akan berubah sedemikian rupa. Perubahan ekosistem, kenaikan suhu bumi, dan kenaikan permukaan laut akan memiliki efek domino yang lebih panjang dari yang sudah disebutkan sebelumnya, bahkan dapat berdampak pada kekeringan, kesulitan manusia dalam sektor agrikultur, pertanian, perternakan (Surmaini 2011), dan lain sebagainya. Hal ini akan menurunkna kualitas hidup manusia jika manusia tidak berubah dari sekarang. Peran Manusia Peran manusia sangat penting dalam menekan dan memitigasi perubahan iklim di dunia. Salah satu hal yang dapat dilakukan manusia adalah dengan menggalakan proses bangunan hijau. Sektor bangunan memiliki partisipasi yang besar di dalam kerusakan lingkungan. Hal ini dikarenakan banyak sekali bahan-bahan yang diekploitasi di dalam perancangan, pembangunan, dan pengoperasian sebuah bangunan jika bangunan itu tidak dirancang secara berkelanjutan. Oleh karena itu, peran arsitek dan teknisi-teknisi bangunan yang terkait sangatlah penting dalam merancang dan membangun sebuah bangunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Dalam hal ini, banyak yang dapat diperbaiki dari proses menjadikan sebuah bangunan. Mulai dari proses perancangan bangunan itu sendiri, bagaimana cara bangunan itu mengalirkan udara di dalam maupun di luar bangunan, bagaiman cara bangunan itu mengolah air hujan, air, lahan, dan sumber daya lainnya yang ada di sekitar tapak bangunan tersebut. Bagaimana material yang akan dipakai oleh bangunan tersebut. Bagaimana proses perencanaan dan koordinasi pembangunan bangunan tersebut. Semuanya ini harus direncanakan secara matang oleh pihak-pihak yang terkait sehingga tidak ada materi apapun yang terekploitasi. Sebagai contoh, memanfaatkan lahan kosong yang ada di sekitar bangunan sebagai tempat penampungan air hujan sehingga air hujan bisa dikelola oleh bangunan tersebut sebagai salah satu sumber air dari bangunan tersebut; memastikan material-material yuang dipakai oleh bangunan tersebut sebisa mungkin didapatkan secara local untuk memotong emisi dan limbah transportasi dari pengiriman material; memanfaatkan fisika bangunan, seperti penempatan jendela, sehingga bangunan tidak memerlukan banyak energi, seperti penggunaan lampu yang terlalu diesksploitasi jika tidak diperlukan. Perancangan Bangunan dan Perilaku Hijau Sebagai arsitek dan teknisi, merancang bangunan secara hijau dan memegang prinsip berkelanjutan memang sangat penting. Tidak hanya untuk bangunan tingkat tinggi, atau bangunan berkompleksitas tinggi, merancang bangunan hijau juga bisa dilakukan pada bangunan-bangunan rumah dan bangunan tingkat rendah lainya. Lebih dari itu, arsitek dan teknisi juga harus melihat cakupan bangunan secara lebih luas. Bangunan disini tidak hanya meliputi suatu tempat yang akan dihuni oleh manusia lainnya, tetapi juga mencangkup infrastruktur, sarana, dan prasarana yang penting untuk menunjang kehidupan manusia seperti pembangkit listrik, dan hal-hal lainnya. Meskipun infrastruktur tersebut tidak akan dihuni manusia secara 100%, arsitek dan teknisi tetap harus melakukan penelitian untuk melihat kemungkinan-kemungkinan lainnya dimana seluruh manusia bisa memiliki pola hidup yang berkelanjutan yang ditopang oleh bangunan-bangunan dan infrastruktur yang memegang prinsip berkelanjutan secara menyeluruh. Terutama melihat kondisi ibukota Jakarta yang semakin lama semakin tergenang, penelitian harus dilakukan untuk melihat bangaimana Jakarta bisa diperbaiki. Perubahan iklim dan kepadatan penduduk menjadi hal yang sangat berbahaya bagi Kota Jakarta. Titik banjir di Jakarta semakin meluas per tahunnya (Harsoyo 2013). Dengan jumlah penduduk yang padat, lahan yang semakin berkurang, sirkulasi air yang tidak menentu, hanya membangun green building saja tidak cukup. Tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di wilayah-wilayah Indonesia lainnya. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki keterbatasan lahan karena dikelilingi oleh air di segala sisi. Untuk mengatasi perubahan iklim, negara Republik Indonesia harus meningkatkan kesejahteraan rakyat yang populasinya semakin bertambah. Lebih dari itu, negara Indonesia juga harus menjaga kelestarian alam dan tanah yang ada. Indonesia tetap memerlukan lahan untuk hutan sebagai paru-paru dunia; lahan untuk pertanian dan peternakan sebagai sumber penghidupan masyarakat; lahan untuk pembangunan sebagai sumber infrastruktur masyarakat; dan lahan untuk pembangkit listrik sebagai sumebr energi masyarakat. Arsitek, teknisi, dan pihak-pihak terkait harus mencari cara untuk menjaga keseimbangan antara alam dengan keperluan hidup masyarakat. Meskipun penelitian untuk menemukan cara dan sarana untuk menciptakan keseimbangan antara alam dan keperluan hidup masyarakat masih relatif muda dan masih butuh banyak perkembangan, ada beberapa penelitian dari negara-negara maju dan berkembang lainnya yang cukup berhasil dan dapat dipertimbangkan. Salah satu contoh penelitian adalah tentang penggunaan solar farm. Penelitian ini memang tidak termasuk green building dalam cakupan bangunan yang biasa menjadi perhatian para arsitek, tetapi penelitian ini bisa dijadikan sebuah contoh studi kasus yang dapat bermanfaat. Solar Farm memang sudah banyak digunakan dan sudah diaku sebagai sebuah sumber energy yang bersih dan ramah lingkungan. Solar farm memiliki banyak kelebihan yang bisa bermanfaat bagi Indonesia, terlebih karena lokasi Indonesia berada di garis khatulistiwa yang membuat paparan sinar matahari di Indonesia cukup stabil sepanjang tahun. Satu hal yang menjadi kendala dari solar farm adalah keterbatasan lahan. Solar farm membutuhkan banyak lahan untuk memenuhi kebutuhan energi yang banyak. Hangzhou Fengling Electricity Science Technology Solar Park merupakan contoh studi kasus yang cukup unik dan bisa bermanfaat untuk pembangunan di Indonesia. Solar farm yang dibangung di Hangzhou China ini dibangung terapung di atas air, dekat dengan PLTA terbangun yang ada di kota tersebut (Tech Vision 2021). Solar farm yang terapung di air dapat dijadikan salah satu cara untuk membantu Indonesia menghasilkan energi yang ramah lingkungan tanpa harus mengurangi daerah terbangun yang ada di Indonesia. Solusi ini juga tidak mengganggu urban setting yang sudah ada, karena tidak memerlukan lahan yang besar. Negara Indonesia yang dikelilingi oleh air juga menjadi salah satu pertimbangan mengapa solusi dan penelitian mengenai solar farm yang terapung ini dapat bermanfaat. Contoh lain yang dapat dipertimbangkan khusus nya untuk daerah-daerah padat penduduk seperti Jakarta adalah dengan mempertimbangkan urban farm. Jakarta pada khususnya dan pulau Jawa pada umumnya adalah kawasan padat penduduk yang ada di wilayah Indonesia. Dengan kemajuan teknologi dan kemajuan kesejahteraan rakyat Indonesia, dapat diprediksi bahwa kepadatan penduduk di daerah pulau Jawa akan semakin meningkat. Kepadatan penduduk yang semakin meningkat dan keterbatasan lahan yang ada akan mendesak masyarakat untuk menggunakan lahan-lahan sawah dan lahan-lahan terbuka lainnya untuk dijadikan daerah pemukiman. Jika hal ini tidak dapat dihindarkan, dan daerah tersebut memang harus dirubah menjadi daerah pemukiman, tidak hanya daerah pemukiman tersebut harus dibangun menggunakan prinsip-prinsip green building tetapi daerah persawahan juga harus dialokasikan sehingga suply pangan di Indonesia tetap stabil dan tidak mengalami kekurangan. Dari sini, dapat dilihat bahwa perlu diadakan penilitan untuk mengantisipasi dan mencari solusi dibalik skenario di atas. Urban farm menjadi contoh studi kasus yang menarik. Negara Singapore sudah mulai menggalakan cara supaya mereka bisa meningkatkan intensitas urban farm di negara mereka yang sudah terbangun 100% tanpa ada lahan untuk bercocok tanam (Tomorrow’s Build 2021). Arsitek dan teknisi-teknisi juga diperlukan di dalam penelitian ini. Arsitek, teknisi dan para pihak terkait tidak hanya perlu membangun bangunan yang indah dan dapat dihuni, tetapi juga perlu memikirkan cara agar bisa mengintegrasikan kehidupan hidup manusia dengan keperluan pangan manusia, dsb. Kesimpulan Revolusi industri memang sudah terjadi, dan perubahan iklim sedang terjadi di dunia. Manusia harus melakukan segala cara untuk memulihkan dunia ini sehingga kelestariannya bisa tetap terjaga sampai generasi-generasi berikutnya. Mengupayakan green building menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menjaga kelestarian di dunia. Hanya tetapi, tidak hanya menggunakan green building saja, masyarakat di dunia juga perlu menggalakan green lifestyle. Pada akhirnya seluruh aktivitas di dunia baik itu bercocok tanam, bekerja kantoran, menghasilkan pembangkit listrik sebagai sumber energi, bermobilisasi, semua nya harus dilakukan dengan cara yang mengedepankan prinsip berkelanjutan dan dengan memegang teguh kelestarian alam di dunia ini sebagai bentuk dasar pemulihan keadaan dunia yang sudah rusak ini. Daftar Pustaka Harsoyo, B 2013. Mengulas Penyebab Banjir di Wilayah DKI Jakarta Dari Sudut Pandang Geologi, Geomorfologi, dan Morfometri Sungai, Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca, vol. 14, no. 1, p. 37, DOI:10.29122/jstmc.v14i1.2680. Keman, S 2007. Perubahan Iklim Global, Kesehatan Manusia dan Pembangunan Berkelanjutan, Jurnal Kesehatan Lingkungan Unair. Muhammad, S, Wiadnya, G.R & Sutjipto D.O 2009. Adaptasi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Kelautan Terhadap Dampak Perubahan Iklim Global, Seminar Nasional Pemanasan Global: Strategi Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim di Indonesia, di Universitas Brawijaya Malang. Surmaini, E, Runtunuwu, E & Las, I 2011. Upaya Sektor Pertanian dalam Menghadapi Perubahan Iklim, Jurnal Litbang Pertanian, vol. 30, no. 1. Tech Vision 2021, The World’s Largest Floating Solar Farm, Youtube, 14 Juli, diakses pada 14 Agustus 2021,. Tomorrow’s Build 2021, Singapore’s Bold Plan to Build Farms of the Future, Youtube, 13 Juli, diakses pada 14 Agustus 2021,.
2021 (6)
Nov
19
Headmasters Executive Council (HMC) and Teachers Training 2021
CALLED TO TRANSFORM Headmasters Executive Council (HMC) dan Teachers Training diadakan setiap tahun oleh Calvin Institute of Technology (CIT) sebagai wadah bagi para Kepala Sekolah SMA Kristen dan Pendidikan Kristen dari seluruh pelosok tanah air, untuk bersama-sama memikirkan tentang panggilan dan peran Pendidikan Kristen di Indonesia. Pada tahun ini, HMC and Teachers Training diselenggarakan pada tanggal 4-5 November 2021, yang dihadiri oleh Kepala Sekolah dan perwakilan guru-guru dari 108 sekolah yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Acara ini diselenggarakan secara daring selama 2 hari secara terpisah dan dirancang dengan tema yang dipilih secara khusus di setiap sesinya untuk para kepala sekolah dan guru-guru Kristen. Teachers Training diadakan pada hari Kamis 4 November 2021, dengan tema “Effective Hybrid Learning”, diikuti oleh rekan-rekan guru terutama guru-guru kurikulum. Materi pelatihan disampaikan oleh dua Pembicara dari CIT, yakni Bapak Dicky Susanto, S.T., M.Ed., Ed.D., dan juga Ibu Grace Marcelina Gunawan, B.A., M.A. Hari Jumat, 5 November 2021 menjadi acara Headmasters Executive Council, dengan tema “Leading in the Wilderness”, yang dibawakan oleh Pdt. Jimmy Pardede, M.Th., selaku pembicara utama. Dalam acara tersebut, Kepala Sekolah SMA Kristen Gloria 2 Surabaya, Drh. Deborah Indriati, M.M., dan juga Kepala Sekolah SMA Kristen Eben Haezar Manado, yakni Dr. Apner R. M. Matoneng, M.Hum., M.Pd., mendapatkan kesempatan untuk membagikan pengalaman serta langkah-langkah praktis yang diterapkan oleh sekolah di dalam masa pandemi ini. Di tengah berbagai tantangan dan kesulitan zaman yang terus berubah, seorang pendidik Kristen dipanggil untuk membawa anak didik menjawab panggilan Tuhan dan mempersiapkan generasi muda menjadi agen transformasi bagi kemuliaan Kristus. Melalui acara ini, CIT mengajak seluruh pendidik Kristen di Indonesia untuk bersama-sama bergumul dan berjuang dalam menjalankan panggilan Tuhan yang mulia ini. Soli Deo Gloria #CalvinInstituteofTechnology #CIT #RedeemingMinds #GodsPeopleForGodsGlory #HeadmastersExecutiveCouncil #TeachersTraining #WeAreCalvin #KampusTeknik #KuliahTeknik #KampusJakarta #KampusKristen #SupremasiKristus
Nov
1
Jalur USM
Nov
1
Beasiswa Sekolah Mitra
Nov
1
Calvin Pay
Okt
7
Pembangunan Gedung Baru Calvin Institute of Technology – BSD Tangerang
Okt
7
Calvin Institute of Technology mengembangkan Emergency Ventilator dengan dukungan dari PT. Sinar Mas Cemerlang.
Pada hari Sabtu 19 September 2020 di Jakarta, Calvin Institute of Technology (CIT) telah menandatangani sebuah Nota Kesepahaman dengan PT. Sinar Mas Cemerlang dalam hal pengembangan positive pressure ventilator (ventilator). Nota Kesepahaman ini bertujuan untuk mendukung dan mengembangkan penelitian dua tipe ventilator, yaitu: automated ambu bag ventilator (emergency ventilator berbasiskan ambu bag) dan ventilator mekanis (berbasiskan air-blower). CIT bekerja sama dengan PT. Cahaya Mas Cemerlang untuk memproduksi ventilator ini. PT. Cahaya Mas Cemerlang sendiri memiliki jaringan rumah sakit dan puskesmas yang sangat luas di Indonesia, sehingga distribusi ventilator CIT ini dapat dilakukan dengan maksimal, sehingga semakin banyak korban COVID-19 yang tertolong dengan adanya ventilator ini. Proyek ventilator CIT ini dikerjakan secara interdisipliner oleh 2 program studi unggulan yaitu: IoT & Electrical Engineering (IEE) dan Chemical & Food Processing (CFP). Beberapa dosen yang terlibat dalam proyek ini adalah: Ghandy Shalim (IEE), Jayandi Panggabean (IEE), Virginia Lalujan (IEE), Maria Anindita (CFP), dengan dukungan tim lainnya, yaitu: Alvin Herawan (GA) dan Samuel Gasperius (Laboran IEE). “Kami bersyukur ada anak-anak Tuhan di CIT yang begitu giat melayani, sehingga dalam berbagai keterbatasan kami sebagai Perguruan Tinggi yang masih baru, kami bisa berbagian untuk menyediakan ventilator bagi mereka yang membutuhkan”, kata Pdt. David Tong, Ph.D. Beliau menambahkan, “kami berdoa kiranya CIT dipakai Tuhan untuk mempersiapkan anak didik yang bukan saja unggul secara akademik, tetapi juga mencintai Tuhan, rela melayani Tuhan, sehingga dimanapun Tuhan tempatkan, bisa menjadi shalom bagi sesama dan memuliakan Tuhan.” Soli Deo Gloria.
